catatan: catat yang cacat cacat

karena hidup adalah petualangan yang penuh kecacatan

eCOWnomics Januari 17, 2010

Diarsipkan di bawah: ngebacot — mia @ 1:03 pm

(copas dari milis,, lumayan bagus buat perbandingan berbagai sudut pandang)

KAPITALISME: Kamu punya dua sapi. Kamu menjual satu dan membeli banteng. Kamu membiakkannya, dan perekonomian tumbuh. Kamu menjual semuanya dan pensiun dengan uang itu.

SOSIALISME: Kamu punya dua sapi. Kamu memberikan salah satu sapi itu kepada tetanggamu.

KOMUNISME: Kamu punya dua sapi. Pemerintah mengambil keduanya dan memberimu susu.

FASISME: Kamu punya dua sapi. Pemerintah mengambil keduanya dan menjual susunya kepadamu.

NAZI: Kamu punya dua sapi. Pemerintah mengambil keduanya dan menembakmu.

BIROKRAT: Kamu punya dua sapi. Pemerintah mengambil keduanya, menembak satu, mengambil susu sapi yang satu lagi, dan membuang susunya.

SUREALIS: Kamu punya dua sapi. Pemerintah mewajibkanmu mengambil les harmonika.

PERUSAHAAN AMERIKA: Kamu punya dua sapi. Kamu menjual satu, dan memaksa satu sapi menghasilkan susu sebanyak empat sapi. Kemudian, kamu menyewa konsultan untuk menganalisis mengapa sapi tersebut mati.

PERUSAHAAN PRANCIS: Kamu punya dua sapi. Kamu menjalankan demonstrasi, memblokade jalan karena kamu menginginkan tiga sapi.

PERUSAHAAN JEPANG: Kamu punya dua sapi. Kamu mendesainnya sehingga berukuran sepuluh kali ukuran normal dan memproduksi susu dua puluh kali lipat. Kemudian kamu membuat karakter animasi bernama “Cowkimon” dan menjualnya internasional.

PERUSAHAAN JERMAN: Kamu punya dua sapi. Kamu memberikan sentuhan teknologi sehingga sapi itu bisa hidup 100 tahun, makan sekali sebulan, dan memerah susunya sendiri.

PERUSAHAAN ITALI: Kamu punya dua sapi, tapi kamu tidak tahu dimana mereka. Kamu memutuskan untuk makan siang.

PERUSAHAAN RUSIA: Kamu punya dua sapi. Kamu menghitungnya dan mendapati bahwa ada lima sapi. Kamu menghitungnya lagi dan mendapati bahwa ada 42 sapi. Kamu menghitungnya lagi dan mendapati bahwa ada dua sapi. Kamu berhenti menghitung sapi dan membuka botol vodka yang baru.

PERUSAHAAN SWISS: Kamu punya 5000 sapi. Tidak ada dari sapi itu milikmu. Kamu mengenakan biaya pada pemiliknya untuk biaya pemeliharaan.

PERUSAHAAN CINA: Kamu punya dua sapi. Kamu mempunyai 300 orang untuk memerahnya. Kamu mengaku bahwa tidak ada pengangguran, dan memiliki produktivitas tinggi. Kamu menangkap reporter yang memberitakan kondisi sebenarnya.

PERUSAHAAN INDIA: Kamu punya dua sapi. Kamu mempekerjakannya.

PERUSAHAAN INGGRIS: Kamu punya dua sapi. Keduanya marah.

PERUSAHAAN IRAK: Semua mengira bahwa kamu memiliki banyak sapi. Kamu memberi tahu mereka bahwa kamu tidak mempunyai sapi. Tidak ada yang percaya padamu, jadi mereka memborbardirmu dan menginvasi negaramu. Dan kamu tetap tidak punya sapi

PERUSAHAAN AUSTRALI: Kamu punya dua sapi. Bisnis sepertinya sedang bagus. Kamu menutup kantor dan pergi membeli bir untuk merayakannya.

PERUSAHAAN SELANDIA BARU: Kamu punya dua sapi. Sapi yang sebelah kiri terlihat lebih menarik.

 

Friend? Yes, of course. Januari 5, 2010

Diarsipkan di bawah: curhat — mia @ 3:39 pm

It’s late at night,  i don’t feel like i’ll write another posting, but something made me doing this. I don’t know what i’m thinking, i just feel a lil’ unaware and a lil’ too brave to watch his videos. Well, his face didn’t change a lot. He’s now a vocalist of an indie band, he’s pretty handsome–but actually not that handsome till u cannot erase his face from your childhood memory, so why can’t i do that???–and i’m sure his band will be super famous someday. They’re great, yeah. (But there’s something that i still curios until now, i know that the vocalist wasn’t him at the beginning. Then for some reason they changed the role,, so tadaaaaa! It’s him. The ex-vocalist still in the band, but plays another role, not singing anymore. Can u predict what was their reason? Was it something about ‘appearance’ or ‘face’? UPS!) And what am i expecting? Someday he’ll be a star and u’re just his ordinary elementary school-friend. Or maybe a freak one. The one who has been being his fan, even before the band formed. At least, he still recognized you as his friend. Remember his last message for you?

Haha.dasar kamu mah.thank you so much mia my friend! ;-) 

See? That’s all. Congratulations!! U’re his friend! Would u like a standing applause?

That’s really great, actually. Really, really great.

So why am i wounded inside? It’s weird, my feeling’s just hurted.

 

7 don’ts after a meal Januari 5, 2010

Diarsipkan di bawah: ngebacot — mia @ 12:37 pm

Selama liburan natal dan tahun baru yang sangat ‘nanggung’ gara2 masih ada UAS Arnus dan Studio (untungnya UAS Studio ditiadakan, tapi dosen kami dengan sangat iseng baru ngumumin hal ini setelah kita semua dateng ke studi hari senin pagi, cuma untuk ngisi kuesioner! DOH!! untungnya saya orang bandung, kalo ga, pasti udah ikutan gondok karena harusnya bisa libur di rumah lebih lama), pola hidup saya bener2 ga sehat. Padahal ambu (ibu,sundanese-red) paling cerewet masalah pola makan. Percaya ga percaya, kami sekeluarga nyaris udah pernah nyobain berbagai macam tren pola makan sehat, mulai dari food combining sampai diet golongan darah.

Berdasarkan fakta tersebut, di awal tahun baru masehi ini saya coba bikin resolusi (lagi-lagi! ayo kita lihat kali ini bakal tercapai ato ga :p) selain berhenti ngaret tentunya, saya ingin memperbaiki hidup yang berasa ga ada sehat-sehatnya ini mulai dari kebiasaan setelah makan. Well, ini ada artikel yang saya dapet dari milis IMA-G, hampir semuanya udah pernah saya denger sih, tapi sekedar sharing dan saling mengingatkan, ini dia 7 pantangan setelah makan:

* Don’t smoke

Penelitian dari para ahli membuktikan bahwa merokok sebatang rokok setelah makan sama dengan merokok 10 rokok (kemungkinan terserang kanker lebih besar).

* Don’t eat fruits immediately

Langsung makan buah-buahan setelah makan akan menyebabkan perut dipenuhi dengan udara. Untuk itu makanlah buah-buahan 1-2 jam setelah makan atau 1 jam sebelum makan. (Ternyata budaya Eropa yang menyajikan buah2an sebagai desert tu bener2 ga sehat! info selengkapnya silakan baca buku food combining karya Ibu Andang Gunawan)

* Don’t drink tea

Karena daun teh mengandung kandungan asam yang tinggi. Kandungan ini akan menyebabkan kandungan protein pada makanan yang telah Kita konsumsi sulit untuk dicerna.

* Don’t loosen your belt

Mengendorkan ikat pinggang setelah makan akan menyebabkan usus terbelit dan terblokir.

* Don’t bathe

Mandi akan menaikan aliran darah ke tangan, kaki dan badan yang menyebabkan jumlah darah sekitar perut akan terus berkurang. Hal ini akan melemahkan system pencernaan di dalam perut Kita.

* Don’t walk about

Orang-orang sering mengatakan bahwa berjalan beberapa langkah setelah makan akan memperpanjang umur. Pada kenyataannya hal ini tidaklah benar. Berjalan akan menyebabkan sistem pencernaan tidak mampu menyerab nutrisi dari makanan yang telah Kita makan.

* Don’t sleep immediately

Jangan langsung tidur. Makanan yang kita makan tidak dapat dicerna secara baik. Hal ini akan menyebabkan usus mengalami kembung dan peradangan.

Hampir semua klise kan? hahaha..

Gapapa la, buat menuh-menuhin blog. Happy New Year!! :D

 

a stupid love story November 21, 2009

Diarsipkan di bawah: love, review — mia @ 4:45 am

aku lagi OL seperti biasa saat tiba2ga sengaja nemuin satu cerita di note temen.  a love story.  biasanya berisi kegombalan, tapi entah kenapa selalu menarik untuk dibaca.. well, aku juga ga berharap banyak dari cerita ini, tapi begitu selesai baca ini nyesek rasanya. aku sedikit berimajinasi seandainya apa yg aku alamin selama ini berakhir kayak gitu,,pasti bakal jadi “a most stupid love story”.haha..  so here the story goes..

 

 

10th grade

As I sat there in English class, I stared at the girl next to me. She was my so called “best friend”. I stared at her long, silky hair, and wished she was mine. But she didn’t notice me like that, and I knew it. After class, she walked up to me and asked me for the notes she had missed the day before and handed them to her. She said “thanks” and gave me a kiss on the cheek. I wanted to tell her, I want her to know that I don’t want to be just friends, I love her but I’m just too shy, and I don’t know why.

 

11th grade

The phone rang. On the other end, it was her. She was in tears, mumbling on and on about how her love had broke her heart. She asked me to come over because she didn’t want to be alone, so I did. As I sat next to her on the sofa, I stared at her soft eyes, wishing she was mine. After 2 hours, one Drew Barrymore movie, and three bags of chips, she decided to go to sleep. She looked at me, said “thanks” and gave me a kiss on the cheek. I want to tell her, I want her to know that I don’t want to be just friends, I love her but I’m just too shy, and I don’t know why.

 

Senior year

The day before prom she walked to my locker. My date is sick” she said; he’s not going to go well, I didn’t have a date, and in 7th grade, we made a promise that if neither of us had dates, we would go together just as “best friends”. So we did. Prom night, after everything was over, I was standing at her front door step. I stared at her as she smiled at me and stared at me with her crystal eyes. I want her to be mine, but she isn’t think of me like that, and I know it. Then she said “I had the best time, thanks!” and gave me a kiss on the cheek. I want to tell her, I want her to know that I don’t want to be just friends, I love her but I’m just too shy, and I don’t know why.

 

Graduation Day

A day passed, then a week, then a month. Before I could blink, it was graduation day. I watched as her perfect body floated like an angel up on stage to get her diploma. I wanted her to be mine, but she didn’t notice me like that, and I knew it. Before everyone went home, she came to me in her smock and hat, and cried as I hugged her. Then she lifted her head from my shoulder and said, “you’re my best friend, thanks” and gave me a kiss on the cheek. I want to tell her, I want her to know that I don’t want to be just friends, I love her but I’m just too shy, and I don’t know why.

 

A Few Years Later

Now I sit in the pews of the church. That girl is getting married now. I watched her say “I do” and drive off to her new life, married to another man. I wanted her to be mine, but she didn’t see me like that, and I knew it. But before she drove away, she came to me and said “you came!”. She said “thanks” and kissed me on the cheek. I want to tell her, I want her to know that I don’t want to be just friends, I love her but I’m just too shy, and I don’t know why.

 

Funeral

Years passed, I looked down at the coffin of a girl who used to be my “best friend”. At the service, they read a diary entry she had wrote in her high school years. This is what it read: I stare at him wishing he was mine, but he doesn’t notice me like that, and I know it. I want to tell him, I want him to know that I don’t want to be just friends, I love him but I’m just too shy, and I don’t know why. I wish he would tell me he loved me! `I wish I did too…` I thought to my self, and I cried.

 

Evaluasi Ramadhan 1428H/ April 2008 Oktober 2, 2009

Diarsipkan di bawah: curhat, ngebacot — mia @ 9:40 am

Tulisan di bawah ini berdasarkan buku catatan mata pelajaran akhlak, yang pernah diajukan sebagai salah satu tugas portofolio akhlak kelas XII di SMA Terpadu Baiturrahman.

Note: Jangan terheran2 dengan bahasa yang digunakan, mungkin agak ‘ajaib’, karena hanya diketik ulang tanpa pengeditan. Original by Mia (yang masih bocah labil kelas XII SMA).

Ada sebuah penglaman singkat pada bulan Ramadhan ini yang membuat saya ingin berkaca, bermuhasabah. Ceritanya saya dan ibu saya dalam sebuah perjalanan ke suatu tempat, tapi kami berdua sama-sama tidak hafal jalan mana yang harus kami lalui untuk sampai ke tujuan. Saya belum pernah pergi ke sana, sedangkan ibu saya hanya pernah satu kali, dan benar-benar lupa jalannya.

Ketika mobil kami membelok ke jalan buntu, tak sengaja ada seorang bapak tukang pos yang baru saja selesai mengantarkan surat. Benar-benar orang yang tepat untuk ditanyai rute jalan, pikir saya saat itu. Setalah kami bertanya ke tukang es krim, tukang ojek, bahkan orang-orang di depan warung; hasilnya tetap menemui jalan buntu.

Kami pun segera menghampiri bapak itu, bertanya tentang alamat yang kami cari. Awalnya, caranya menjelaskan sama dengan orang-orang yang telah kamk tanyai sebelumnnya. Namun, melihat ekspresi kami berdua yang mungkin masih terlihat agak bingung, ia terus menjelaskan secara detail tentang jalan yang harus kami lewati itu, bahkan ia merobek kertas dari buku kotak-kotak yang ada dalam tasnya, untuk membuat peta sederhana.

Saya sedikit merasa kikuk dengan usaha sang Bapak yang kelihatannya benar-benar serius ingin membuat kami mengerti rute jalan itu. Maka bayangkanlah betapa kagetnya saya, ketika akhirnya sang Bapak tukang pos memutuskan untuk “mengantar” kami hingga sampai ke alamat yang kami tuju. Jadi, ia mengendarai motornya di depan, lalu saya dan ibu saya mengikutinya dari belakang.

Sepanjang perjalanan, saya terus bertanya-tanya dalam hati, apa yang membuat si tukang pos ini begitu “niat” menolong saya dan ibu saya, dua orang yang sama sekali tidak dikenalnya? Seandainya saya yang menjadi tukang pos itu, akankah saya melakukan hal yang sama?

Tidakkah saya akan berpikiran seperti ini: Dua orang ini bukan siapa-siapa saya, mereka nyasar atau tidak itu tidak akan ada pengaruhnya bagi saya, jadi apa untungnya saya menolong mereka, sampai rela menghabiskan bensin motor untuk mengantarkan mereka?

Tiba-tiba, saya merasa begitu egois. Saya mengira-ngira,jika seandainya tukang pos itu tidak bertemu kami,apa yang seharusnya ia lakukan saat ini?

Mungkin masih banyak surat yang harus ia antarkan, atau mungkin juga koran-koran sore! Uh, mungkinkah karena mengantarkan kami, ia akan pulang terlambat hari ini?

Tapi, bukankah hak seorang muslim untuk diberi nasihat (jawaban) jika ia meminta nasihat (menanyakan sesuatu)? Lagipula, tidak sempurna iman seseorang, jika ia belum mencintai saudaranya (sesama muslim) seperti ia mencintai diri sendiri.

Apa yang dilakukan si tukang pos itu memang sudah seharusnya, tapi saya merasa begitu takjub, sebab selama ini saya amat-sangat jarang menemukan orang semacam itu, bahkan dalam diri saya sendiripun tidak!

“Itu yang disebut bekerja dengan hati.” Sepotong kata2 ibu saya masih terus saya ingat hingga saat ini.

Bekerja dengan hati, kedengarannya sangat menyenangkan. Jangan jadi orang materialistis, apalagi egois – hanya memikirkan kepentingan pribadi yang berdasar pada hitungan-hitungan picik. Perhitungan materi yang membuat manusia begitu tamak.

Dengan hati, hilangkanlah prasangka buruk yang seringkali muncul karena penilaian sesaat yang hanya melihat kulit luar seseorang. Hati-lah yang pantas menjadi raja diri. Hati yang bersih dari kotoran-kotoran seperti iri, dengki, suuzhon, kikir, dan penyakit lainnya. Hati, bukan otak – yang hanya mengkalkulasikan hal-hal fisik semu yang menipu – yang seharusnya memegang kendali.

Selama bulan ramadhan, sedikit demi sedikit saya mengikis kebiasaan buruk saya, selain itu saya pun menyadari, jika kita mau membuka pikiran kita untuk ayat-ayatNya, ternyata mereka bertebaran di muka bumi. Semakin ditafakkuri, akan semakin “takjub” diri kita setelah memahaminya.

Sebenarnya, Allah telah mengatur semuanya sedemikian rupa dengan sangat apik. Begitu hebatnya, sehingga jika sedikit saja diubah maka pasti akan ikut mengubah hal yang lainnya, yang mungkin mempengaruhi hal yang jauh lebih besar.

Dulu, saya selalu malas untuk melakukan hal-hal remeh seperti berkunjung ke rumah tetangga, membantu orang tua di rumah, hingga mengurus adik bungsu saya. Rasanya semua itu adalah beban kewajiban yang saya lakukan ogah-ogahan, asal saja, asal selesai jadi tidak dimarahi.

Namun, tahun ini saya berpikir, berapa umur saya sekarang? Apa yang telah saya hasilkan hingga saat ini, karya apa yang telah saya buat? Jika saya harus dipanggil saat ini, apakah Allah masih memasukkan saya ke dalam golongan anak-anak? Akankah Ia “memaklumi” kebodohan yang selama ini saya perbuat?

Lalu seandainya, waktu saya di dunia masih panjang, masih ada masa depan yang menanti saya di sana… seperti apa? Seperti apa sosok saya di masa depan nanti, saat saya benar-benar menjadi “orang”? Keterampilan apa yang saya punya, keahlian apa yang bisa saya gunakan?

Saat ini, rasanya saya belum bisa apa-apa untuk disebut “orang sungguhan”. Saya seperti disadarkan, semua keterampilan hidup tidak akan saya dapatkan begitu saja saat saya dewasa nanti. Semua butuh proses!

Saya mulai dari hal terkecil. Membantu orang tua mengurusi rumah, kadang-kadang mengurusi adik, sedikit belajar memasak, menyiram tanaman, dan sebagainya.

Saya juga belajar menentukan target dan sedikit demi sedikit me-manage hal-hal prioritas yang harus saya lakukan: tugas-tugas sekolah, munaqosah, tahfidz, tadarus, dsb. Memang, seringkali saya kurang disiplin dan istiqomah dalam mengerjakannya. Sebab, perkiraan saya seringkali meleset sehingga jadwal yang saya buat bentrok dengan “kegiatan dadakan” seperti silaturrahim dengan teman lama, saudara, dll.

Tapi bukan berarti saya menyerah untuk terus mencoba menjadi lebih baik, … sebab saya ingin bekerja dengan hati! Insya Allah.

:-)

 

Lanjutan Evaluasi Ramadhan 1428H/ April 2008 September 25, 2009

Diarsipkan di bawah: curhat, ngebacot — mia @ 5:23 pm

Setelah ngetik evaluasi tahun lalu yang dari buku akhlak itu, begitu ngebalik-balik halaman setelahnya,… eh, ternyata ada lagi evaluasi lanjutan. Yang ini pake kolom muhasabah harian pula. Tapi narasi evaluasinya versi lebih curhat,, karena waktu itu mencakup saat-saat sebelum,sedang,dan sesudah UN! Pokoknya bener-bener kerasa banget hawa perpisahannya. Hiks hiks.. :’(

Note: Jangan terheran2 dengan bahasa yang digunakan, mungkin agak ‘ajaib’, karena hanya diketik ulang tanpa pengeditan. Original by Mia (yang masih bocah labil kelas XII SMA).

lembar muhasabah

Subhanallah… waktu seolah-olah seedang berlari sprint ketika saya melihat lembar muhasabah yang telah terisi penuh ini. Saat-saat penuh ketegangan menjelang UN, perasaan campur aduk antara ingin segera melewati “3 hari keramat” itu sekaligus rasa belum siap menghadapinya sehingga berharap waktu merayap selambat mungkin, semuanya terasa seperti baru kemarin.

Jika diingat lagi, itulah masa-masa ketika setiap malam kami harus tidur ditemani buku-buku yang bertumpuk dan berserakan di atas kasur, minum kopi bersama dalam rangka bergadang untuk ngerjain soal, belajar di kelas mulai pagi (jam 7) sampai malam (jam 10) nyaris non-stop kecuali sholat-makan-mandi. Akibatnya, kami harus mencuci baju larut malam atau pagi-pagi buta, sampai-sampai gerakan kami berada dalam siklus tetap: asrama-masjid-dapur- kelas-asrama-masjid-dapur-kelas-dst … dan mayoritas waktu kami habiskan di kelas (bahkan lebih banyak daripada waktu di asrama!)

Meskipun perjuangan ini berat dan membosankan, tapi diam-diam saya mencoba menikmatinya. Hingga akhirnya, ketika semua itu berakhir seiring datangnya UN, saya merasa baru bangun dari mimpi dalam tidur panjang. Saya baru bangun, kembali ke kehidupan normal sebelumnya – tanpa jadwal pemantapan yang padat atau kecemasan saat mengira-ngira seperti apa soal UN 2008. Anehnya, saya malah rindu pada masa-masa perjuangan itu. Saya ingin sekali lagi berjuang bersama teman-teman sekelas saya – yang rasanya lebih dekat dari saudara sendiri – bahu-membahu, saling mendukung mencapai tujuan yang kami impikan.

Apakah ini hanya akibat perasaan saya yang tak menentu dan masih belum siap saja menghadapi kenyataan bahwa saat perpisahan telah di depan mata? Ya, saya merasa belum siap untuk lengser dari jabatan santri baiturrahman. Saya masih ingin berkumpul dengan semuanya: guru-guru, teman-teman … rasanya saya akan tetap membutuhkan mereka semua sampai kapanpun.

Tapi, inilah kehidupan nyata. Semakin dewasa kita akan menghadapi tantangan/ujian yang semakin berat. UN baru saja terlewati, tapi di depan sana masih ada ujian-ujian lainnya yang lebih dahsyat lagi. Misalnya SPMB. Lebih berat lagi, ujian mempertahankan aqidah dan mengusung risalah.

Menjelang kelulusan, saya lebih sering memperhatikan guru-guru pesantren. Pak Jajang, yang meskipun ceramahnya selalu panjang tapi setiap kali mentoring mampu membuat mustami’ sadar dan beristighfar, jika ditelusuri juga banyak orang yang terhantar ke dalam dien ini berkat beliau. Begitu juga Pa Anwar, Pak Yamin (yang ceramahnya seru dan penuh semangat), serta guru-guru lainnya.

Saya berpikir, suatu hari nanti, apa saya akan mampu seperti mereka? Seperti apa sumbangan saya untuk dien ini? Saat ini saya mungkin belum punya kemampuan yg memadai untuk “terjun di medan laga”. Saya masih perlu meningkatkan kualitas diri, dalam rangka mencapai cita-cita. Dan hal pertama yg harus saya lalui adalah: lulus SMA.

Rasanya puluhan kali guru2 menceritakan kisah seorang siswa juara olimpiade yang diterima di Universitas di Jerman namun ironisnya ia terpaksa tetap tinggal karena tidak lulus UN. Aneh tapi nyata,hal ini benar-benar pernah terjadi. Memmbuktikan bahwa “nothing is impossibble”, bahwa 2 pilihan : “lulus atau tidak” itu berlaku untuk seluruh siswa peserta UN, termasuk juara olimpiade sekalipun.

Sebenarnya hal ini bukan sesuatu yang terlalu aneh. Semestinya kita semua sadar, sehebat apapun manusia, tetap saja Allah yang mensutradarai takdir hidup kita semua. Terkadang manusia terlalu sombong, dan menganggap bahwa kekuatan pribadinya, kecerdasan otaknya, keteguhan tekadnya, kesungguhan usahanya, dsb itulah yang menyebabkan kesuksesan. Padahal semua itu takkan ada artinya ketika Allah akhirnya menghendaki “tidak”… hancurlah semua kebanggaannya itu.

Atas dasar semua pemikiran ini, saya punya semangat baru untuk meningkatkan ibadah ritual. Saya bertekad untuk sebisa mungkin mendekat kepada Allah. Sesaat saya merasa malu sekaligus menyesal, mengapa baru saat ini saya “pdkt” sama Allah?

Saya beristighfar, selama ini saya begitu mempercayai usaha sendiri, otak sendiri. Saya terlalu sombong untuk mencoba “pdkt” sama Allah, padahal Dia tak pernah berhenti memberikan karuniaNya!

Awalnya, berat sekali untuk bangun lebih awal untuk shalat lail. Meskipun jam weker telah berbunyi jam 3, tapi yang bangun malah teman saya! Ternyata, bangun awal tidak bisa hanya mengandalkan jam weker.yang utama adalah niat sungguh-sungguh. Terbukti, ketika akhirnya saya terbiasa qiyamullail, saya bangun sebelum alarm jam weker berbunyi.

Sebuah nasihat yang terus saya ingat: Jangan berdoa seperti orang dalam kapal. Ketika badai datang, ia berdoa habis-habisan. Tapi ketika langit cerah, laut tenang, dan kapal berlabuh di daratan, ia lupa pada Tuhannya.

Akhirnya, saya benar-benar bersyukur dengan adanya UN. Ketika saya merasa lemah, butuh pertolonganNya sekaligus malu karena saya seolah-olah orang buta yang baru bisa melihat dunia. Saya baru sadar satu kenyataan penting bahwa: saya tak punya apa-apa. Saya hanya bisa belajar seoptimal mungkin untuk meminta belas kasih-Nya. Dan hanya keajaiban dari Allah-lah yang bisa menyelamatkan saya.

Padahal ketika dijalani, ternyata qiyamullail setiap hari itu nikmat. Hidup terasa lebih teratur, dan tidak ada lagi perasaan terpaksa untuk bangun awal, karena berubah menjadi perasaan butuh. Oleh karena itulah saya ingin tetap mempertahankan kebiasaan ini sampai kapanpun, meski UN berakhir, Insya Allah.

 

Diproteksi: 140909 – - – Part 2 September 21, 2009

Diarsipkan di bawah: curhat, love — mia @ 10:51 am

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:


 

Diproteksi: 140909 – - – Part 1 September 18, 2009

Diarsipkan di bawah: curhat, love — mia @ 12:15 am

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:


 

Pertunjukan Jazz Boi Akih September 12, 2009

Diarsipkan di bawah: musik, review — mia @ 3:26 am

Ceritanya waktu hari rabu kemaren, 090909, ada konser jazz di albar.

Aku sih sama sekali ga tau siapa yang mo nampil. Tapi sejak seminggu sebelumnya abah featuring ambu udah nanya2 hari rabu ada kuliah apa ga,, dan berhubung hari rabu tu jadwalku dari jam 7 am – 5pm adalah studio tersayang, jadi aku bilang ga ada kuliah. emang bener kan? aku ga bohong lhoo.. :-p

Jadi perjanjiannya jam sebelum jam 4 harus udah ke albar, karena jam segitu pintunya mo ditutup. Abah udah minta undangannya ke KLCBS buat 5 orang. Yang aku tau c paling yg mau nonton abah, ambu, aku, tambahannya tante elly dan a’gilang. Aku langsung mikir, waw, kesempatan nih bisa nanyain meja gambar.. Lagian sekalian hiburan dikit deh. Butek juga terkungkung dalam studio.. (padahal tugas masih belom kelar, pengumpulan 2 hari lagi. Kesimpulannya: sok2an!)

Kenyataannya jam 3pm aku masi pw dalem studio. Males beranjak. Entah kenapa, emang kalo ngerjain di studio progress kerjaanku lambat bgt. Mungkin itu karena aku tipe orang yg gampang terpecah konsentrasinya.

Alhasil aku ditelponin abah di studio (yg berisi orang2 yg mulai ngomongin hal2 ga jelas gara2 stres), dan tiba2 dikasih tau kalo acaranya jam setengah 4. what the..??

Dalam keadaan blom solat ashar, aku ngabur ke albar, pas masuk pintu (tanpa undangan, cz ada di abah), eh aku malah dikasih 3 lembar undangan sekaligus! ckckck..

Sayangnya, aku sempet ketinggalan intro lagu pertama cz ngantri minjem sajadah bwt shalat.

Sayangnya lagi, ambu ga ikut, tante elly ga ikut, bahkan a’gilang juga ga ikut gara2 ada acara lain.. fuhh.

Jadilah ada 8 undangan di tanganku:

undangan boi akih

undangan boi akih

Walaupun banyak sayangnya, ga nyesel tu nonton boi akih. keren bgt.. walopun aku emang belom ngerti bgt jazz,, tapi menurutku ear-catchy ko musiknya.

Aku juga baru ta udari abah kalo di konser jazz tu emang biasanya si personil2nya ada bagian show offnya secara solo.

Yang paling gila tu pemain gitarnya, Niels Brower. Ngocok bgt. Kayak lagi ngerock jadinya. Tapi pemain drums-nya juga ga kalah gila sih. Parah lah kayak orang kesetanan,, kyk improve karena tanpa ritme yg jelas ato alunan accord yg teratur,, cenderung kayak ngasal, tapi kedengerannya tetep asik. Pemain bass gitar juga semangat bgt show offnya,, sukses bikin qta cengo’.hehe.. Satu lagi yang memukau, pemain saxofon,, kereeeenn.. bikin ngiler pengen bisa main saxofon. X)

Dan, yang bikin penasaran lagi,, vokalisnya, Monica Akihary tu orang ambon. Dia nyapa kita pake bahasa indonesia dengan logat yang pribumi asli, walaupun jelas2 mereka grup musik belanda. Brouwer n Ornstein (saxofon) bule bgt gitu,, sementara Calmes (bass) n Hart Jr. (drums) negro.. Yang bikin ga nyangka akihary orang indonesia adalah karena dia keliatan sangat matching dgn mereka. *pada nyangka orang negro kali ya*

Jadi, dengan ini aku resmi memutuskan, emang bener ternyata :  jazz is beautiful..

 

G r o w UP. September 12, 2009

Diarsipkan di bawah: ngebacot — mia @ 2:21 am
an artwork by leepro.

an artwork by leepro.

Jadi dewasa tu ga gampang.

Well, dengan nulis kayak gitu mungkin aku jadi terkesan pesimistis dan sok labil.

Tapi whatever deh. Dewasa tu kan relatif. Sama kayak cakep, bahagia, kaya, pinter. Tiap orang mungkin punya standar beda2, jadi parameternya juga beda. Seseorang bisa dibilang pinter, berdasarkan parameter apa? Apakah harus ikut olimpiade astronomi internasional dulu, baru bisa dibilang pinter; ato cukup dengan berhasil naik kelas pada waktu sewajarnya?

Lalu apa parameternya hingga seseorang dinyatakan layak menyandang titel “dewasa”? Udah punya KTP-kah? Udah bisa cari duit sendiri-kah? Atau  . . apa?

Rasanya annoying juga ya liat postingan pertama ini penuh tanda tanya. haha.. *dasar c rookie kerjaannya nanya2*

Tapi yang jelas, contoh di bawah ni parah. Bapak kayak gitu jelas2 tega dan ga lebih dewasa dari anaknya..

hes NOT growing up, anyway..

he's NOT growing up, anyway..

i just wonder, what does he think about?

i just wonder, what does he think about?

We all are already knew that he’s wrong, is’nt it? Orang dewasa justru punya tanggung jawab lebih dan jelas GA BISA seenaknya.. kalo emang bener kek gitu ngapain juga ada penjara?

Bagi orang yang udah rada ngerti – walopun cuma dikit – gimana jadi dewasa itu, sangat mungkin mereka malah ga mau tumbuh dewasa. Mungkin lebih menyenangkan jadi anak2. Orang2 masih akan memaklumi tindakan2 bodoh yang kita lakukan. Bisa seenaknya jadi manja dan egois.

adooohh

adooohh

Parahnya lagi, kalo ampe orang tua ga ngedukung. Kasian bgt deh kalo liat gambar di bawah ini,, padahal tu bocah2 kliatannya anak baik2 yang bakal berhasil tumbuh jadi pria dewasa yang matang. Jangan salah, ini bener2 mungkin terjadi lho. Ambu aja suka keceplosan kadang2 pengen aku balik jadi anak SD lagi.. >_<.

dasar emak egois . .

dasar emak egois . .

Sebaliknya dari kasus2 tadi, orang yang pola pikirannya masih anak2 dan emang dari segi umur juga masih bocah, banyak yang justru pengen banget jadi dewasa. Mungkin dia menemukan hal2 dan dunia yang belum bisa terjamah karena dia masih di bawah umur. Mungkin juga arogansi dan sikap sok2an orang2 yg “baru dewasa” bikin dia mikir kalo orang dewasa tu keren.. *haiah*

Masih inget film Minky Momo? Segitu pengennya dia jadi dewasa, padahal aku aja pengen balik jadi anak kecil. *ups. ketauan nih ga netralnya. :p* Sebaliknya, di film Sailor Moon, aku lupa episode yg mana, yang jelas muncul karakter musuh yang umurnya udah tuwir tapi mereka  jadi anak2 karena mereka sangat-sangat-sangat benci untuk jadi dewasa. Terus, kalo ga salah ya, mereka2 tu mempengaruhi anak2 biar pada terjebak dalam tubuh anak2 dan ga pernah tumbuh dewasa. Well, setidaknya kasus ini ampe dijadiin cerita komik action *anggaplah Sailor Moon tu action. HAHAHAHAHA.. maksa abis* itu artinya ni kasus cukup urgent dan bahaya kalo ampe kita punya pemikiran ga mau tumbuh dewasa.

Pertanyaan selanjutnya adalah, kalo emang kita harus tumbuh dewasa, harus ngerti berbagai konsekuensi yang ada dan blahblahblah – tralalalalalalala yang mengikutinya, salah ga sih kalo kita masih nyimpen sedikit jiwa kekanak2an dalam diri kita? Apakah itu suatu tabu?

hahaha. okay, then.

hahaha. okay, then.

Balik ke kalimat pertama tadi, jadi dewasa itu emang ga gampang. Beneran. Iya, sekarang aku serius. Ada masa transisi yg namanya remaja,, tapi ga nyambung lah kalo ngebahas remaja di sini. Kesannya kayak ababil. *ABG Labil*

lucu bgt ni anak,, padahal foto orang (entah siapa) tapi bener2 ga bisa ga ngaplod iniiii. kawaiii

lucu bgt ni anak,, padahal foto orang (entah siapa) tapi bener2 ga bisa ga ngaplod iniiii. kawaiii

Satu hal lagi yang ada di mindsetku, kedewasaan itu emang sering dikaitkan dgn umur biar lebih logis, terukur, dan scientific, tapi pada kenyataannya dua hal itu ga beriringan secara otomatis. Banyak ko anak umur 12 tahun yang udah punya sikap dan pemikiran dewasa sementara banyak juga kakek2 yang cara mikirnya masih seenaknya kayak bocah.

Kedewasaan erat kaitannya dengan kebijaksanaan, dan aku pengen banget bisa jadi orang yang bijak,, itu bener2 pusat aktualisasi diri yang jadi target jangka panjangku. *huff*

double like THIS

double like THIS

Well, Grow up guys! ;)