bahasa indonesia · fiksi

beruang

Alkisah, jauh di pinggiran lembah Silikon, hiduplah keluarga beruang. Rumah keluarga beruang cukup mungil, di pinggir jalan yang sempit, yang bermuara di jalan yang kecil pula.

Keluarga beruang cukup bahagia, sebagaimana keluarga-keluarga lainnya yang tinggal di Perumahan Mini. Papa beruang pendiam dan suka bekerja, Mama beruang cerewet dan suka berkebun, Kakak beruang penyabar dan suka melukis, sedangkan Adik beruang pemarah dan suka memasak.

Keluarga beruang cukup bahagia, tapi rumah mungil mereka jauh dari rumah Kakek beruang, Nenek beruang, Oma beruang, dan Opa beruang. Rumah mereka sangat jauh, sehingga keluarga beruang harus mendaki gunung lewati lembah untuk mencapainya. Untuk ke rumah kakek-nenek, mereka harus mengarungi Sungai Cadas dan Sungai Superman, sedangkan rumah opa-oma jauh di seberang Sungai Kesetiaan.

Rumah mungil mereka dikelilingi oleh sawah yang seringkali kering. Air yang keluar dari keran di kamar mandi berwarna jernih, tapi berbau seperti logam yang berkarat.

Meskipun Papa beruang suka bekerja, membeli rumah di lembah Silikon bukanlah perkara mudah. Lembah ini sangat terkenal di dunia beruang internasional. Setiap sentimeter tanah yang bisa dibangun rumah, pasti sudah dimiliki beruang random entah siapa itu. Berusaha membeli rumah di tengah lembah, sulitnya sama seperti mencoba membangun kastil dari butiran debu. Sesuatu yang mungkin saja dilakukan, tapi perlu kesabaran, keahlian, keberuntungan, dan ketekunan yang tidak biasa.

Hingga suatu hari, Tante beruang memberi kabar gembira.. bukan untuk kita semua, tapi untuk keluarga beruang. Salah satu tetangga yang tinggal di kompleks rumah Tante beruang akan pindah. Rumahnya akan dijual.

Tiba-tiba semuanya jadi terang. Seperti menemukan potongan puzzle terakhir yang tersembunyi di balik karpet. Segalanya menjadi jelas. Mama beruang tak pernah bermimpi memiliki rumah di kompleks yang sama dengan Tante beruang. Ini pasti mukjizat. Keluarga beruang akan pindah. Dan rumah mungil di Perumahan Mini itu harus dijual.

Seandainya keluarga beruang punya mesin waktu yang bisa membawa mereka ke masa depan, tentu Papa dan Mama beruang akan mencari jalan keluar lain selain menjual rumah mungil mereka dan pindah begitu saja. Karena seandainya mesin waktu itu ada, mereka tahu, ini bukanlah kabar gembira. Ini semacam Kuda Troy, hadiah berisi pasukan musuh yang menusuk dari dalam. Tapi seperti yang kita semua tahu, mesin waktu hanyalah khayalan yang terlalu indah untuk jadi nyata.

Rumah Tante beruang berada di dalam Sarana Perumahan Beruang Unggul, atau biasa disingkat SPBU. SPBU itu sangat indah, dan terjamin keamanannya. Selalu ada beruang penjaga 7 hari seminggu dan 24 jam sehari. Jalan-jalannya mulus dan besar, di pinggir jalannya pun banyak pepohonan dan bunga-bunga indah. Udaranya bersih, dan yang terpenting, masih ada air tanah yang jernih dan tidak berbau seperti besi berkarat disana. Selain Tante beruang, ada banyak kerabat keluarga beruang yang tinggal di dekat sana, baik di dalam SPBU maupun di daerah sekitar SPBU. Tidak seperti kehidupan terpencil di Perumahan Mini di tepian lembah Silikon, keluarga Beruang hanya perlu berjalan kaki untuk mengunjungi kerabat-kerabat terdekat jika tinggal di SPBU, termasuk rumah kakek-nenek dan oma-opa beruang.

Berdasarkan semua iming-iming ini, Papa dan Mama beruang tidak berpikir dua kali untuk membeli rumah tetangga Tante beruang, meskipun rumah itu sungguh terlihat seperti rumah hantu. Perlu waktu lama dan biaya yang tidak sedikit untuk menyulap rumah itu menjadi rumah impiah keluarga beruang.

Tapi itu bukan masalah utama disini. Ada satu hal penting yang diketahui semua beruang ketika mendengar SPBU: Tidak sembarang beruang bisa memiliki rumah di SPBU. Rumah-rumah di SPBU hanya boleh dimiliki dan diperjualbelikan oleh beruang unggul.

Tidak ada satupun anggota keluarga beruang yang termasuk beruang unggul. Bukan karena tidak bisa. Menjadi beruang unggul itu adalah takdir, tapi juga pilihan. Beruang biasa harus memasuki akademi khusus yang menjadikan mereka beruang unggul. Ada batas umur dan kriteria fisik tertentu untuk bisa masuk akademi. Pendidikannya keras, dan bertahun-tahun. Tidak semua beruang sanggup menjadi beruang unggul.

Pada jaman dahulu, pekerjaan beruang-beruang unggul ini pergi berperang membela negara. Jaman sekarang, tidak banyak perang yang terjadi. Jadi, sekarang mereka sangat sibuk menyuapi, menakuti, dan menguasai beruang lainnya.

Tapi keputusan Papa dan Mama beruang sudah bulat. Mereka percaya, selalu ada jalan keluar dari semua permasalahan.

Memang betul. Masih ada beberapa beruang unggul lainnya di kalangan kerabat keluarga beruang. Salah satunya Paman beruang.

Mama dan Papa beruang akhirnya membeli rumah dengan nama Paman beruang.

Paman beruang tidak keberatan. Dia adalah beruang unggul yang baik hati, rajin menabung, tidak sombong, dan berprestasi. Dia adalah satu dari sedikit beruang unggul yang masih pergi berperang di jaman kedamaian ini. Dia bekerja luar biasa jauhnya dari Lembah Silikon, di Pulau Tembaga yang terpisahkan puluhan pulau dan laut di seberang sana.

Keteguhan dan kerja kerasnya membuahkan hasil yang manis. Ia pulang ke Lembah Silikon dengan memegang komando tertinggi di lembah itu. Ia tinggal di rumah terbesar dengan halaman terluas, bersama istrinya yang cantik seperti Artis beruang dan anaknya yang lucu.

Keluarga beruang ikut berbahagia dengan kepulangan Paman beruang ke lembah Silikon. Bagaimanapun, mereka berhutang budi pada sang Paman. Keluarga beruang berhasil memperbaiki rumah hantu itu menjadi rumah impian mereka pada beberapa tahun pertama sejak mereka menjual rumah mungil di Perumahan Mini. Namun, hal pertama yang disampaikan Paman beruang ketika bertemu dengan keluarga beruang sungguh mengejutkan.

Ia meminta keluarga beruang untuk pindah rumah.

Masih ingat dengan analogi sulitnya membeli rumah di lembah Silikon? Hari ini, ketika Paman beruang meminta keluarga beruang untuk pindah dari rumah mereka di SPBU, kurang lebih satu dekade sudah berlalu.

Hari ini, sulitnya membeli rumah dalam waktu singkat sama seperti mencoba membangun kastil dari butiran upil unicorn.

Lalu, bagaimana nasib keluarga beruang selanjutnya? Sanggupkah mereka mencari solusi dari permasalahan hidup yang kejam di tengah lembah Silikon?

Marilah sejenak kita berdoa supaya keluarga beruang bisa mencapai happy ending yang telah mereka nantikan.

Mengheningkan cipta dimulai.

Advertisements
bahasa indonesia · capruk cacat · stuffs from lovely people

Jangan dekat-dekat kepada Tuhan

1. Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Sebab engkau sudah amat sangat lekat pada dunia. Terlanjur salah pengertian kepada kehidupan. Tidak sungguh-sungguh menelusuri ilmu kematian. Terlalu percaya kepada banyak yang bukan Tuhan

2. Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Karena gemerlap dunia sudah menjadi tuhanmu. Dunia rumahmu, dunia jalanmu, dunia tujuanmu. Tak berani engkau berpisah darinya sejenakpun saja. Maka kalau dekat kepada Tuhan, kau akan menderita.

3. Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Teguhkan hati menikmati dunia dan mengidamkan sorga. Kalau dekat kepada Tuhan, dunia menjadi remeh dan sorga menjadi bukan segala-galanya. Itu tidak sejalan dengan muatan doa-doamu.

4. Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Sebab yang utama bagimu adalah kekayaan dunia. Yang kau perjuangkan adalah kedudukan di dunia. Harta benda, keunggulan, eksistensi, pangkat, dan jabatan.
Di dekat Tuhan, semua itu rendah dan sia-sia.

5. Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Nanti engkau dicintai oleh-Nya dan disembunyikan. Mungkin malah ditabiri dengan hijab kehinaan. Diberi pakaian kumuh dan penuh kerendahan, sehingga dunia mentertawakanmu dan meremehkan.

6. Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Nanti engkau tidak populer dan dikepung salah paham. Kau disangka timur oleh barat, dituduh utara oleh selatan. Kalau berjasa engkau tak memperoleh pujian, karena Tuhan menyimpan pialamu di lubuk yang dirahasiakan.

7. Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Sebab itu membuatmu berpikir dan menilai ulang segala sesuatu yang sudah baku di dalam hidupmu. Untung rugi, rejeki bencana, penting tak penting, harus kau bongkar dan membangunnya kembali.

8. Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Demi karier duniamu jangan dekat-dekat kepada-Nya. Atau tunggangi dan manfaatkan saja kekuasaan-Nya, dengan berdoa naik pangkat dan bertambah kaya, minta kemenangan untuk menguasai harta benda

9. Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Kau akan mutlak terserap oleh supra-dimensi. Para makhluk tak sanggup menatapmu. Bumi takkan mampu menemukanmu, sehingga pun dunia tak menghormatimu.

10. Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Sebab tak ada yang melebihi-Nya dalam hal dikhianati, tapi Ia Maha Sabar dari zaman ke zaman meski diingkari. Kuatkah engkau berada di maqam itu? Terus menerus didera khianat dan ingkar oleh sesamamu?

11. Jangan dekat-dekat kepada Tuhan.
Sebab ia menciptakanmu tanpa kepentingan. Ia mengasuhmu tanpa meminta imbalan, sedangkan hidupmu adalah kepentingan, dan setiap langkahmu mendambakan imbalan.

12. Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Kecuali kau tangguh memanggul ujian. Jika dunia yang kau genggam dan kau eman-eman direbut oleh-Nya, dibanting, dicampakkan, disirnakan; Apakah engkau rela, atau merasa itu derita?

13. Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Kecuali engkau ridha kehilangan dunia. Kecuali engkau ikhlas kehilangan dirimu sendiri. Hilang dari yang dinamakan kehidupan. Dirimu sendiri hilang dari dirimu sendiri.

14. Hayo… gimana
Maka jangan dekat-dekat kepada Tuhan. Berpalinglah dari asal usul dan arah tujuan. Mengembaralah di Bumi dengan kemerdekaan. Jilat sana, jilat sini, cari yang paling menguntungkan.

Source: #MBAHNUN

bahasa indonesia · capruk cacat

Nguping Melayu – Part 1

“Biasanya sih 3 bulan pertama, masih aneh dengerin kata-kata bahasa melayu. Abis itu juga biasa kok.”

Tujuh bulan sudah berlalu sejak pertama denger kalimat di atas dari salah satu senpai sesama indonesian. Ya, dengernya sih biasa. Udah ngerti juga, kurang lebih. Tapi untuk nulis blog ttg ‘belajar bahasa melayu’ rasanya terlalu berlebihan. Takut over-estimated. Jadi kita nguping bahasa melayu aja ya.

(Anyway, saya fans berat ngupingjakarta. Blog yang super menghibur. Bagi yang belum pernah baca blog mereka bisa coba ditengok.. Denger2 mereka bahkan udah nerbitin buku!) 

Berdasarkan pengalaman nguping di daerah KL dan sekitarnya selama 6 bulan, saya nyadar ada 3 jenis perbedaan dari segi vocabulary bahasa yang menyebabkan orang Indonesia ga selalu ngerti dan bisa komunikasi dengan orang Malaysia (kalau pake bahasa native masing-masing):

  1. Ada kata-kata yang sama, artinya hampir sama juga, tapi penggunaannya beda
  2. Ada kata-kata yang sama, tapi artinya beda jauh
  3. Ada kata-kata yang cuma ada di salah satu bahasa aja

Oke. Sebagai contoh, saya beri list kata-kata yang saya tau berdasarkan pengalaman pribadi.. Silakan dikelompokkan sendiri, mana yang masuk nomor1, nomor2, atau mungkin yang paling gampang nomor 3.

  • Semalam

Z: Mia, semalam kamu makan dimana?

Me: (sambil mikir tadi malem ada dimana) Semalam? Saya makan di rumah aja

Z: *shocked* Kamu balik rumah lalu datang balik sini semalam?

Me: Iya lah, masa saya nginep disini dari kemaren.. Hahahha. Maksudnya tadi malem kan?

Z: Maksud saya semalam kamu makan siang dimana?

Me: ???.. Ooo (bulet)

Sejak percakapan ini terjadi, saya baru ngeh kalau ‘semalam’ itu artinya ‘kemarin’. Sementara dalam kepala saya, ‘semalam’ berkisar antara jam 7 pm hari sebelumnya sampai sekitar jam 1 am hari ini deh.. intinya semalam = tadi malam! Fakta bahwa dlm bahasa melayu kata ‘semalam’ berarti satu malam sebelumnya (yang berarti juga sehari sebelumnya), bikin saya terngiang-ngiang lagu dangdut: “Semalam aku mimpi~~..”

  • Pemadam

F: Ada nampak pemadam tak?

Me: ?? (ga salah denger nih?) Pemadam itu apa? (otomatis mikir pemadam kebakaran)

F: * ngambil tempat pensil saya* Benda ini kamu panggil apa?

Me: Penghapus..

F: Hahahahaha

Me: *speechless*

pemadam

  • Bomba

Jadi kalo penghapus dibilang pemadam, ini dia nama firefighter di malaysia: bomba!

bomba

jrl5t lif bomba

  • Papan Kenyataan

Hadapilah hidup dengan berani. Jangan pernah lari dari (papan) kenyataan ini!

imgblog-15

  • Percuma

Saya cukup ngerti kalau kata ini dikaitkan dengan kata “cuma-cuma”. Makes sense, ya?

pasar-percuma-FB-banner-1
Source: mesym.com
  • Berbual

Ini bukan iklan, tapi saya takjub bagaimana tiga kata dalam font biru tebal itu bisa punya arti yang benar-benar beda.. Percuma, masa berbual sih? mungkin lebih tepat.

1429968_orig

  • Dobi

Masih inget house-elf yang ada di cerita harpot?

6578_Funny-character-from-Harry-Potter-little-Dobby

jangan terlalu yakin..

bisnes_kedai_dobi

jaq13052012002DSC04750-e1307976569989filename-dobby-jpg-thumbnail0

Dobby masih diperbudak jadi tukang cuci!

(to be continued..)

Note: Tujuan tulisan ini untuk berbagi pengetahuan sambil lucu-lucuan aja.. secara pribadi menurut saya orang Malaysia banyak yang baik dan ramah-ramah. Dan sangat cocok diajak berteman. Abis baca ini jangan pada berantem ya 🙂

bahasa indonesia · capruk cacat

Ada yang Lebih ‘…’ dari Kartini?

Yang lebih mahal banyak.

Maaf saya pinjem iklan obat nyamuk dikit, tapi dipikir-pikir agak pas juga untuk konteks Kartini. ‘…’ itu sengaja dikosongkan, boleh diisi dengan kata apapun yang pas. Patriotik? Cerdas? Revolusioner? Cantik?

14310339871103691729
kalau liat ini sih, agak sulit cari saingan Mbak Dian! (source: kompasiana.com/lannang/)

Bukannya saya kurang respek. Mohon maaf, apalah saya ini dibanding pahlawan nasional yang punya satu hari dan tradisi bertahun-tahun didedikasikan untuk dirinya. Saya cuma butiran upil di lubang antariksa yang gelap gulita.

Alkisah sore ini di tanggal keramat bertradisi, 21 april, saya membaca tulisan Dr. Adian Husaini—yang ternyata tanggal lahirnya sama persis dengan saya! ok, ga penting—dan banyak point disana yang saya udah pernah denger sebelumnya, tapi ada juga yang belum. Wajar saja karena ternyata tulisan ini sudah dipublish tahun 2009, pastinya banyak juga yang membahas dan mengutip literatur2 serupa. Rasanya sudah cukup biasa liat meme ini muncul tiap hari kartini:

img_2015042017597

Anyway, tulisan Pak Adian ini cukup membuat saya emosi, saking setujunya dengan pendapat beliau dan shock akibat satu info yang saya baru tahu: ..Kartini nge-fans sama Snouck Hurgronje.. eh, whatt?

Fakta ini cukup membuat saya ilfil, karena:

  1. Om Snouck ini udah lama saya incer untuk dijadikan bahan tulisan.. kenapa? silakan baca kutipan di bawah. Dia adalah salah satu tokoh paling munafik dalam sejarah penjajahan.
  2. Setelah membaca bagaimana cara Kartini “eksis”: PDKT dengan pihak penjajah, et cetera; saya jadi teringat game ‘Mean Girls senior year’.. (Mungkin temen-temen cewek yang suka nonton romcoms tau tentang film yang ada karakter Regina George ini.) Kesannya, beliau yang dirayakan tiap tanggal 21 april ini adalah seorang karakter cupu yang cuma bisa eksis karena punya kenalan orang-orang berkuasa. Dan setahun sekali kita mendandani adik-adik di TK demi beliau ini. Rasanya kok.. asdfghjkl@#$%^! banget.
  3. Atau jangan-jangan, beliau ini cuma pura2 ngefans sama om Snouck supaya (lagi-lagi) numpang eksis.. We don’t know what to believe anymore at this point. 

Mungkin saya agak bias karena ngomongin agama yang saya percayai. Tapi sepanjang sejarah peradaban manusia, mau gak mau, politik dan agama selalu menjadi hot topic.

Biar ga penasaran, please baca tulisan ini sampai akhir.

Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah
Oleh: Dr. Adian Husaini

Ada yang menarik pada Jurnal Islamia (INSISTS -Republika) edisi 9 April 2009 lalu. Dari empat halaman jurnal berbentuk koran yang membahas tema utama tentang Kesetaraan Gender, ada tulisan sejarawan Persis Tiar Anwar Bahtiar tentang Kartini. Judulnya: “Mengapa Harus Kartini?”

Sejarawan yang menamatkan magister bidang sejarah di Universitas Indonesia ini mempertanyakan: Mengapa Harus Kartini? Mengapa setiap 21 April bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan dan diteladani dibandingkan Kartini?

Menyongsong tanggal 21 April 2009 kali ini, sangatlah relevan untuk membaca dan merenungkan artikel yang ditulis oleh Tiar Anwar Bahtiar tersebut. Tentu saja, pertanyaan bernada gugatan seperti itu bukan pertama kali dilontarkan sejarawan. Pada tahun 1970-an, di saat kuat-kuatnya pemerintahan Orde Baru, guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar pernah menggugat masalah ini. Ia mengkritik ‘pengkultusan’ R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia.

Dalam buku Satu Abad Kartini (1879-1979), (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990, cetakan ke-4), Harsja W. Bahtiar menulis sebuah artikel berjudul “Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita”. Tulisan ini bernada gugatan terhadap penokohan Kartini. “Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut,” tulis Harsja W. Bachtiar, yang menamatkan doktor sosiologinya di Harvard University.

Harsja juga menggugat dengan halus, mengapa harus Kartini yang dijadikan sebagai simbol kemajuan wanita Indonesia. Ia menunjuk dua sosok wanita yang hebat dalam sejarah Indonesia. Pertama, Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh dan kedua, Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan. Anehnya, tulis Harsja, dua wanita itu tidak masuk dalam buku Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1978), terbitan resmi Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Tentu saja Kartini masuk dalam buku tersebut.

Padahal, papar Harsja, kehebatan dua wanita itu sangat luar biasa. Sultanah Safiatudin dikenal sebagai sosok yang sangat pintar dan aktif mengembangkan ilmu pengatetahuan. Selain bahasa Aceh dan Melayu, dia menguasai bahasa Arab, Persia, Spanyol dan Urdu. Di masa pemerintahannya, ilmu dan kesusastraan berkembang pesat. Ketika itulah lahir karya-karya besar dari Nuruddin ar-Raniry, Hamzah Fansuri, dan Abdur Rauf. Ia juga berhasil menampik usaha-usaha Belanda untuk menempatkan diri di daerah Aceh.

VOC pun tidak berhasil memperoleh monopoli atas perdagangan timah dan komoditi lainnya. Sultanah memerintah Aceh cukup lama, yaitu 1644-1675. Ia dikenal sangat memajukan pendidikan, baik untuk pria maupun untuk wanita.

Tokoh wanita kedua yang disebut Harsja Bachriar adalah Siti Aisyah We Tenriolle. Wanita ini bukan hanya dikenal ahli dalam pemerintahan, tetapi juga mahir dalam kesusastraan. B.F. Matthes, orang Belanda yang ahli sejarah Sulawesi Selatan, mengaku mendapat manfaat besar dari sebuah epos La-Galigo, yang mencakup lebih dari 7.000 halaman folio. Ikhtisar epos besar itu dibuat sendiri oleh We Tenriolle. Pada tahun 1908, wanita ini mendirikan sekolah pertama di Tanette, tempat pendidikan modern pertama yang dibuka baik untuk anak-anak pria maupun untuk wanita.

Penelusuran Prof. Harsja W. Bachtiar terhadap penokohan Kartini akhirnya menemukan kenyataan, bahwa Kartini memang dipilih oleh orang Belanda untuk ditampilkan ke depan sebagai pendekar kemajuan wanita pribumi di Indonesia. Mula-mula Kartini bergaul dengan Asisten-Residen Ovink suami istri. Adalah Cristiaan Snouck Hurgronje, penasehat pemerintah Hindia Belanda, yang mendorong J.H. Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan, agar memberikan perhatian pada Kartini tiga bersaudara.

Harsja menulis tentang kisah ini: “Abendanon mengunjungi mereka dan kemudian menjadi semacam sponsor bagi Kartini. Kartini berkenalan dengan Hilda de Booy-Boissevain, istri ajudan Gubernur Jendral, pada suatu resepsi di Istana Bogor, suatu pertemuan yang sangat mengesankan kedua belah pihak.”

Ringkasnya, Kartini kemudian berkenalan dengan Estella Zeehandelaar, seorang wanita aktivis gerakan Sociaal Democratische Arbeiderspartij (SDAP). Wanita Belanda ini kemudian mengenalkan Kartini pada berbagai ide modern, terutama mengenai perjuangan wanita dan sosialisme. Tokoh sosialisme H.H. van Kol dan penganjur “Haluan Etika” C.Th. van Deventer adalah orang-orang yang menampilkan Kartini sebagai pendekar wanita Indonesia.

Lebih dari enam tahun setelah Kartini wafat pada umur 25 tahun, pada tahun 1911, Abendanon menerbitkan kumpulan surat-surat Kartini dengan judul Door Duisternis tot Lich. Kemudian terbit juga edisi bahasa Inggrisnya dengan judul Letters of a Javaness Princess. Beberapa tahun kemudian, terbit terjemahan dalam bahasa Indonesia dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran (1922).

Dua tahun setelah penerbitan buku Kartini, Hilda de Booy-Boissevain mengadakan prakarsa pengumpulan dana yang memungkinkan pembiayaan sejumlah sekolah di Jawa Tengah. Tanggal 27 Juni 1913, didirikan Komite Kartini Fonds, yang diketuai C.Th. van Deventer. Usaha pengumpulan dana ini lebih memperkenalkan nama Kartini, serta ide-idenya pada orang-orang di Belanda. Harsja Bachtriar kemudian mencatat: “Orang-orang Indonesia di luar lingkungan terbatas Kartini sendiri, dalam masa kehidupan Kartini hampir tidak mengenal Kartini dan mungkin tidak akan mengenal Kartini bilamana orang-orang Belanda ini tidak menampilkan Kartini ke depan dalam tulisan-tulisan, percakapan-percakapan maupun tindakan-tindakan mereka.”

Karena itulah, simpul guru besar UI tersebut: “Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut.”

Harsja mengimbau agar informasi tentang wanita-wanita Indonesia yang hebat-hebat dibuka seluas-luasnya, sehingga menjadi pengetahuan suri tauladan banyak orang. Ia secara halus berusaha meruntuhkan mitos Kartini: “Dan, bilamana ternyata bahwa dalam berbagai hal wanita-wanita ini lebih mulia, lebih berjasa daripada R.A. Kartini, kita harus berbangga bahwa wanita-wanita kita lebih hebat daripada dikira sebelumnya, tanpa memperkecil penghargaan kita pada RA Kartini.”

Dalam artikelnya di Jurnal Islamia (INSISTS-Republika, 9/4/2009), Tiar Anwar Bahtiar juga menyebut sejumlah sosok wanita yang sangat layak dimunculkan, seperti Dewi Sartika di Bandung dan Rohana Kudus di Padang (kemudian pindah ke Medan). Dua wanita ini pikiran-pikirannya memang tidak sengaja dipublikasikan. Tapi yang mereka lakukan lebih dari yang dilakukan Kartini. Berikut ini paparan tentang dua sosok wanita itu, sebagaimana dikutip dari artikel Tiar Bahtiar.

Dewi Sartika (1884-1947) bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita. Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung. Rohana Kudus (1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia (1911) dan Rohana School (1916), Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama di negeri ini.

Kalau Kartini hanya menyampaikan ide-idenya dalam surat, mereka sudah lebih jauh melangkah: mewujudkan ide-ide dalam tindakan nyata. Jika Kartini dikenalkan oleh Abendanon yang berinisiatif menerbitkan surat-suratnya, Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan).

Bahkan kalau melirik kisah-kisah Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah dari Aceh, klaim-klaim keterbelakangan kaum wanita di negeri pada masa Kartini hidup ini harus segera digugurkan. Mereka adalah wanita-wanita hebat yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Aceh dari serangan Belanda.

Tengku Fakinah, selain ikut berperang juga adalah seorang ulama-wanita. Di Aceh, kisah wanita ikut berperang atau menjadi pemimpin pasukan perang bukan sesuatu yang aneh. Bahkan jauh-jauh hari sebelum era Cut Nyak Dien dan sebelum Belanda datang ke Indonesia, Kerajaan Aceh sudah memiliki Panglima Angkatan Laut wanita pertama, yakni Malahayati.

Jadi, ada baiknya bangsa Indonesia bisa berpikir lebih jernih: Mengapa Kartini? Mengapa bukan Rohana Kudus? Mengapa bukan Cut Nyak Dien? Mengapa Abendanon memilih Kartini? Dan mengapa kemudian bangsa Indonesia juga mengikuti kebijakan itu? Cut Nyak Dien tidak pernah mau tunduk kepada Belanda. Ia tidak pernah menyerah dan berhenti menentang penjajahan Belanda atas negeri ini.

Meskipun aktif berkiprah di tengah masyarakat, Rohana Kudus juga memiliki visi keislaman yang tegas. “Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan,” begitu kata Rohana Kudus.

Seperti diungkapkan oleh Prof. Harsja W. Bachtiar dan Tiar Anwar Bahtiar, penokohan Kartini tidak terlepas dari peran Belanda. Harsja W. Bachtiar bahkan menyinggung nama Snouck Hurgronje dalam rangkaian penokohan Kartini oleh Abendanon. Padahal, Snouck adalah seorang orientalis Belanda yang memiliki kebijakan sistematis untuk meminggirkan Islam dari bumi Nusantara. Pakar sejarah Melayu, Prof. Naquib al-Attas sudah lama mengingatkan adanya upaya yang sistematis dari orientalis Belanda untuk memperkecil peran Islam dalam sejarah Kepulauan Nusantara.

Dalam bukunya, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu ((Bandung: Mizan, 1990, cet. Ke-4), Prof. Naquib al-Attas menulis tentang masalah ini:
“Kecenderungan ke arah memperkecil peranan Islam dalam sejarah Kepulauan ini, sudah nyata pula, misalnya dalam tulisan-tulisan Snouck Hurgronje pada akhir abad yang lalu. Kemudian hampir semua sarjana-sarjana yang menulis selepas Hurgronje telah terpengaruh kesan pemikirannya yang meluas dan mendalam di kalangan mereka, sehingga tidak mengherankan sekiranya pengaruh itu masih berlaku sampai dewasa ini.”

Apa hubungan Kartini dengan Snouck Hurgronje? Dalam sejumlah suratnya kepada Ny. Abendanon, Kartini memang beberapa kali menyebut nama Snouck. Tampaknya, Kartini memandang orientalis-kolonialis Balanda itu sebagai orang hebat yang sangat pakar dalam soal Islam. Dalam suratnya kepada Ny. Abendanon tertanggal 18 Februari 1902, Kartini menulis:
”Salam, Bidadariku yang manis dan baik!… Masih ada lagi suatu permintaan penting yang hendak saya ajukan kepada Nyonya. Apabila Nyonya bertemu dengan teman Nyonya Dr. Snouck Hurgronje, sudikah Nyonya bertanya kepada beliau tentang hal berikut: ”Apakah dalam agama Islam juga ada hukum akil balig seperti yang terdapat dalam undang-undang bangsa Barat?” Ataukah sebaiknya saya memberanikan diri langsung bertanya kepada beliau? Saya ingin sekali mengetahui sesuatu tentang hak dan kewajiban perempuan Islam serta anak perempuannya.” (Lihat, buku Kartini: Surat-surat kepada Ny. R.M. Abendanon-Mandri dan Suaminya, (penerjemah: Sulastin Sutrisno), (Jakarta: Penerbit Djambatan, 2000), hal. 234-235).

Melalui bukunya, Snouck Hurgronje en Islam (Diindonesiakan oleh Girimukti Pusaka, dengan judul Snouck Hurgronje dan Islam, tahun 1989), P.SJ. Van Koningsveld memaparkan sosok dan kiprah Snouck Hurgronje dalam upaya membantu penjajah Belanda untuk ’menaklukkan Islam’. Mengikuti jejak orientalis Yahudi, Ignaz Goldziher, yang menjadi murid para Syaikh al-Azhar Kairo, Snouck sampai merasa perlu untuk menyatakan diri sebagai seorang muslim (1885) dan mengganti nama menjadi Abdul Ghaffar. Dengan itu dia bisa diterima menjadi murid para ulama Mekkah. Posisi dan pengalaman ini nantinya memudahkan langkah Snouck dalam menembus daerah-daerah Muslim di berbagai wilayah di Indonesia.

Menurut Van Koningsveld, pemerintah kolonial mengerti benar sepak terjang Snouck dalam ’penyamarannya’ sebagai Muslim. Snouck dianggap oleh banyak kaum Muslim di Nusantara ini sebagai ’ulama’. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai ”Mufti Hindia Belanda’. Juga ada yang memanggilnya ”Syaikhul Islam Jawa”. Padahal, Snouck sendiri menulis tentang Islam: ”Sesungguhnya agama ini meskipun cocok untuk membiasakan ketertiban kepada orang-orang biadab, tetapi tidak dapat berdamai dengan peradaban modern, kecuali dengan suatu perubahan radikal, namun tidak sesuatu pun memberi kita hak untuk mengharapkannya.” (hal. 116).

Snouck Hurgronje (lahir: 1857) adalah adviseur pada Kantoor voor Inlandsche zaken pada periode 1899-1906. Kantor inilah yang bertugas memberikan nasehat kepada pemerintah kolonial dalam masalah pribumi. Dalam bukunya, Politik Islam Hindia Belanda, (Jakarta: LP3ES, 1985), Dr. Aqib Suminto mengupas panjang lebar pemikiran dan nasehat-nasehat Snouck Hurgronje kepada pemerintah kolonial Belanda. Salah satu strateginya, adalah melakukan ‘pembaratan’ kaum elite pribumi melalui dunia pendidikan, sehingga mereka jauh dari Islam.

Menurut Snouck, lapisan pribumi yang berkebudayaan lebih tinggi relatif jauh dari pengaruh Islam. Sedangkan pengaruh Barat yang mereka miliki akan mempermudah mempertemukannya dengan pemerintahan Eropa. Snouck optimis, rakyat banyak akan mengikuti jejak pemimpin tradisional mereka. Menurutnya, Islam Indonesia akan mengalami kekalahan akhir melalui asosiasi pemeluk agama ini ke dalam kebudayaan Belanda. Dalam perlombaan bersaing melawan Islam bisa dipastikan bahwa asosiasi kebudayaan yang ditopang oleh pendidikan Barat akan keluar sebagai pemenangnya. Apalagi, jika didukung oleh kristenisasi dan pemanfaatan adat. (hal. 43).

Aqib Suminto mengupas beberapa strategi Snouck Hurgronje dalam menaklukkan Islam di Indonesia: “Terhadap daerah yang Islamnya kuat semacam Aceh misalnya, Snouck Hurgronje tidak merestui dilancarkan kristenisasi. Untuk menghadapi Islam ia cenderung memilih jalan halus, yaitu dengan menyalurkan semangat mereka kearah yang menjauhi agamanya (Islam) melalui asosiasi kebudayaan.” (hal. 24).

Itulah strategi dan taktik penjajah untuk menaklukkan Islam. Kita melihat, strategi dan taktik itu pula yang sekarang masih banyak digunakan untuk ‘menaklukkan’ Islam. Bahkan, jika kita cermati, strategi itu kini semakin canggih dilakukan. Kader-kader Snouck dari kalangan ‘pribumi Muslim’ sudah berjubel. Biasanya, berawal dari perasaan ‘minder’ sebagai Muslim dan silau dengan peradaban Barat, banyak ‘anak didik Snouck’ – langsung atau pun tidak – yang sibuk menyeret Islam ke bawah orbit peradaban Barat. Tentu, sangat ironis, jika ada yang tidak sadar, bahwa yang mereka lakukan adalah merusak Islam, dan pada saat yang sama tetap merasa telah berbuat kebaikan.
[Depok, 20 April 2009]

Bacaan yang cukup panjang, tapi worth it, kan? Mungkin masih banyak literatur yang perlu dikaji, tapi untuk saat ini rasanya cuma: gemesss!

Eww

bahasa indonesia · curhat

nesis

wb

Masalahnya bukan mau nulis blog. Walaupun yang itu udah lama terbengkalai juga. Ha.

Bukan fiksi, bukan artikel majalah jalan-jalan, bukan juga puisi yang nanti saya taruh link-nya di page sebelah.

Kali ini ada 2 project: thesis dan journal paper. Both in english, and not that I’ll complain about.. but spare me please, saya akan sangat merindukan menulis dalam bahasa ibu yang sudah terbiasa saya gunakan. (Sebenarnya bahkan, itu juga cuma ngaku-ngaku saja. Bahasa ibu saya Basa Sunda. Bahasa Indonesia itu bahasa teman-teman saya. Hehh.)

Sedih  lucu rasanya, mulai nulis thesis, yang dikerjain adalah:

  1. Download template.
  2. Minta contoh thesis punya temen yang lulus dengan nilai top.
  3. Ngeributin template mana yang bener. Kok punyanya si ini beda? Kok punya si itu lebih bagus?
  4. Ngeributin subbab-subbab yang ada dan ga ada. Kok punya kamu mulainya selalu pake introduction dan akhir chapter pake summary?
  5. Nulis chapter 1. Nulis subbab introduction yang menjelaskan isi chapter 1, selama sejam. Terus copy paste untuk subbab berikutnya karena males ngetik/ setting ulang template
  6. Ngeributin dedication page (bukan aku yang mulai, sumpah. Kebetulan aja ada orang ini yang mau masukin nama saya ke dedication page.. eh jadi kepikiran kan dedication page waktu TA S1 apaan. Eh ternyata sumpah ganesha yang termodifikasi. sungguh super creative.. sekalian aja tulis in harmonia progressio -__- blah)
  7. dan akhirnya.. malah buka wordpress. setelah sekian lama dicuekin dan dianaktirikan, sekarang tiba-tiba jadi pelarian. teganya..

Tapi sungguh, saya sendiri panik ngeliat keadaan diri saya kayak gini. Menunda-nunda kerjaan dengan melakukan perintilan yang ga penting. Oke. Saya udah mulai nulis main idea di OneNote. Cuma main idea untuk Research Background sih.. Dan 5 menit kemudian liat trailer the 5th wave di TGV. Yassalam.

Ini semua mungkin karena saya panik mau ditinggal kerja sama orang yang selalu ada setiap saya butuh apa-apa, setiap saya perlu obrolan seru yang agak intelek dan nerdy, setiap saya bete dan suntuk mau liat art gallery atau sekedar nonton film blockbuster of the week..

Tiba-tiba saya diwanti-wanti cuma bisa ketemu pas weekend, mulai bulan depan. Huuuuuuhu

Oknum bersalah lainnya, mungkin karena kamar saya tetiba terasa jauh lebih sempit dengan hadirnya orang ketiga.. Sang guru tadika yang super cheerful dan mengingatkan saya pada seseorang yang agak bermuka dua yang pernah saya kenal sebelumnya. Tunggu, itu cuma asumsi aja kok dia bermuka dua. Mungkin itu muka orang lain.. Ga baik berburuk sangka sama orang lain, mi. Oke, mungkin saya cuma iri sama seseorang dari masa lalu ini. Saya tipe orang yang gloomy dan anti-social yang ga akan bisa jadi kayak gitu–dan tak seharusnya saya memaksakan atau berkeinginan menjadi orang lain yang sama sekali bukan diri saya. Atau yang lebih mungkin lagi, saya trauma dengan semua orang di lingkungan si karakter masa lalu yang dari tadi dibahas ini.. Korporat2 yang gemar sekali berlatih drama, memeperebutkan peran sebagai double tape!

Hanya kebetulan saja sang cikgu ini suka memakai barang saya ga bilang2 dan menggantung handuk di handle lemari saya saat dia jelas-jelas mulai “ngaplek” sekarat.. Dan menggantung underwear di public area yang bukan jemuran.

Dan juga entah siapa di antara mereka yang super rajin dan katro, selalu nyabut kabel magic jar saya.. Yang mengakibatkan sisa nasi yang saya masak jadi basi dalam semalam. Yaiyalahhh. Hellooo.. magic jar itu fungsinya bukan cuma buat masak nasi doang cuy, tapi MENGHANGATKAN NASI juga. Emang dikira cuma buat gantiin panci biasa buat masak nasi, gitu? Ya maaf kalau tagihan listrik jadi agak nambah sedikit gara-gara saya nyolok magic jar beberapa jam.. Bzzzt.

Omaigat. Mungkin diam-diam saya mengidap OCD..

Moga-moga OCD ini bisa membantu saya menulis thesis (aka NESIS) dengan lebih baik. Sungguh harapan yang mulia dengan itikad yang tulus.

bahasa indonesia · capruk cacat

24

Jika ya, dekatkanlah. Jika bukan, jauhkanlah.

Sungguh hanya sesederhana itu.

Apalah saya ini, hanya sekumpulan daging dan darah yang berdenyut. Sebentuk otak berjalan dalam jajahan hati yang terbolak-balik.

Terlahir di bulan terakhir, ada hal-hal istimewa yang saya sadari.

Singkat cerita, menghadapi hari lahir ala akte kelahiran, secara official, rasanya seperti menonton film yang saya sudah tau ceritanya. Terlalu banyak spoiler yang bocor sepanjang tahun.

Selama hampir 12 bulan sebelumnya, saya sudah dianggap sebagai manusia berumur 24 tahun.. Jadi ketika hari itu tiba, apakah ada sesuatu yang berubah? Jelas tidak. Lalu bulan berikutnya, tiba-tiba saya dituduh berumur 25 tahun. Jengjengg!

Fenomena spoiler ini begitu terasa, terutama pada tahun-tahun ketika saya memulai hal baru. Mengenal orang-orang baru. Beradaptasi dengan lingkungan baru. Masa dimana identitas dan biodata diri ‘terpaksa’ diekspos secara massal dan berulang kali.

Termasuk tahun ini. Tepatnya, akhir tahun 2014. Lalu pergantian tahun kali ini, Desember 2014 dan Januari 2015, adalah dua bulan terakhir dengan terlalu banyak muatan insiden khusus.*

Ini dia 24 pelajaran yang saya ambil, dan sampai saat ini saya masih berdoa semoga saya lulus, tak perlu mengulang pelajaran yang sama di tahun ini..

  • Berdoa tidak sama dengan mendikte.
  • Ketika menginginkan sesuatu, coba tanya pada diri sendiri, apa inti dari keinginan itu? Mengapa menginginkan hal itu? Apakah harus persis seperti itu, seperti yang dibayangkan dalam otak yang lagi-lagi dijajah hati yang terbolak-balik?
  • Otak manusia, secanggih apapun, sebenarnya “cuma” barang ciptaan. Sang Pencipta otak, tentunya lebih canggih dan lebih Maha Tahu. Pada saat yang tepat, tanpa disadari, keinginan terdalam seorang hamba sedang dalam proses untuk menjadi nyata. Seringkali dalam cara yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Cara yang benar-benar berbeda dari bayangan otak si empunya. Berbeda, karena ia jauh lebih baik, lebih tepat, lebih pas dengan segala hal lain dalam hidup.
  • Terkadang, ketika tak ada pilihan yang salah dan tak ada pilihan yang 100% benar, pilihan hidup tidak harus ditentukan oleh diri sendiri. Selalu ada teman baik, dan tentunya Tuhan, yang akan membuatkan pilihan untuk kita. Ini pelajaran yang aneh memang, tapi ada benarnya. Manusia hanya bisa berencana, kan?
  • Perlu kesiapan pada segala konsekuensi pilihan. Ada satu nasihat dari orang yang sudah bosan menonton ketidakmampuan saya membuat keputusan: “If you let someone makes a decision for you, no matter how it turns out, you will ALWAYS regret it.” Jadi solusinya? Ketika ‘dibuatkan pilihan’, pada akhirnya harus ada keyakinan bahwa diri ini juga ikut memilih opsi itu. Resiko apapun yang menyertai setiap pilihan, jika memang harus dialami, jangan menyalahkan pihak lain.
  • Petunjuk dari Sang Penentu bisa muncul dari mana saja. Stay alerted! Buka mata, telinga, hati..
  • Sungguh merugi orang-orang yang merasa lebih benar daripada orang lain, atau bahkan paling benar dibandingkan siapapun di dunia ini.. Niscaya mereka tidak akan berkembang dan melewatkan banyak pelajaran berharga.
  • Menjadi selfless ternyata tidak semudah itu. Dalam hal ini, mencoba memikirkan kebutuhan/kepentingan orang lain melebihi keinginan pribadi; meskipun terkadang orang tersebut tak menyadari kebutuhannya sendiri. Seperti kata pepatah indian, Don’t judge a man until you’ve walked two moons in his moccasins. Eh, mungkin pepatah ini kurang tepat, tapi yah, cobalah melihat segala sesuatu dari berbagai sudut pandang, lalu nilai sendiri.
  • Dalam menentukan pilihan super penting yang berkaitan dengan masa depan, jangan terlalu banyak melibatkan unsur rasa. Bahkan hilangkan unsur ini sepenuhnya, jika bisa. *credits to my dearest friend, Faiza* Perasaan manusia begitu erat dengan emosi. Emosi, suasana hati, begitu mudah berubah dan bukan satu hal yang mutlak. Jika keputusan penting berdasar pada hati, probabiliti penyesalan di masa depan akan lebih besar, dibandingkan keputusan yang didasari oleh rasio. Cinta tak kenal logika, mungkin benar. Tapi jangan lupa, rasa benci yang berlebihan juga biasanya tak pakai logika.
  • “Kata hati nurani” belum tentu berupa petunjuk dari Dia Yang Maha Bijak. Terlalu banyak gelombang siaran berseliweran dalam dunia metafisik nurani. Apakah hati ini sudah satu frekuensi dengan gelombang Sang Pencipta? Sudah sedekat mana? Kalau belum dalam frekuensi yang sama, boleh jadi masih ada gelombang siaran illegal yang menyelusup ke sana, katakanlah, dari spesies non-fisik yang ingin menjauhkan kita dari frekuensi yang benar.
  • Tak ada salahnya menjadi ‘dependent’, tapi jangan jadikan gender sebagai alasan untuk tidak menjadi manusia yang independent. Walaupun independent tidak selalu lebih baik daripada dependent. Sama halnya pria tak selalu lebih baik dari wanita..
  • Belajar psikologi itu bukan cuma berguna bagi para calon profesional dalam menangani orang-orang yang hampir gila; ada kalanya pengetahuan ini sangat praktis untuk kehidupan sehari-hari. Teori Millon, satu jenis klasifikasi yang cukup menarik. Nama teorinya juga hampir sama dengan nama orang yang ngajarin saya di bidang ini. :p
  • Hindari kebergantungan pada hal-hal artifisial. Lebih penting lagi, jangan biarkan hal-hal palsu yang rentan kerusakan jadi ‘branding’ diri sendiri. Perkaya diri dengan hal-hal yang lebih bermakna, lebih tahan lama, dan tidak mungkin dicuri orang. Misalnya? soft skills, wawasan,.. yang sering ikut self-improvement training pasti udah taulah ya.
  • Setiap diri adalah sebuah perusahaan. Mulai saat ini, bahkan sejak manusia dipandang cukup dewasa untuk memutuskan sesuatu, setiap orang memikul beban untuk ‘branding image’ masing-masing perusahaan. Semacam one-man show, bisa jadi. Ini nasihat cukup tua yang saya dapat dari dosen wali semasa kuliah S1. Terima kasih, Pak Pras yang baik dan bijaksana.
  • Nothing Lasts Forever. Tidak ada yang abadi. Jangan terlalu bergantung pada sesuatu yang mortal dan fana di dunia ini, atau kau akan kecewa, bahkan mungkin depresi parah dan kehilangan arah. Klise, ya saya tahu. Tapi ada lebih dari satu peristiwa yang saya alami kali ini, yang memaksa saya menyadari kalimat ini lagi, kali ini sampai meresap ke ulu hati (entah kenapa istilah ini hanya muncul dalam ekskul karate), lebih dari apapun sebelumnya. Mungkin selama ini saya berjalan terlalu jauh dan melupakan ajaran ini. Dan ketika diingatkan tentang kebenaran, bukankah kita sepatutnya berterimakasih?
  • Keajaiban itu nyata. Sebagai orang yang beriman—orang yang percaya—yakinlah! Jangan menyerah. Keajaiban akan datang, jika ia memang harus datang.
  • Hidup akan lebih bahagia ketika hal-hal kecil dan remeh temeh disadari dengan sepenuh hati dan disyukuri. Lame advice? Ya, mungkin. Tapi mudah untuk dipraktekkan, betul?
  • Kebahagian setiap orang itu berbeda. Tak ada gunanya membandingkan kebahagiaan orang lain dengan kisah hidup diri pribadi, yang sebenarnya juga bahagia dalam konteks tersendiri.
  • Jangan samakan kepuasan dengan kebahagiaan. Manusia tidak akan pernah puas, sementara bahagia itu sederhana.
  • People always talk about how love is this totally unselfish, giving thing, but if you think about it, there’s nothing more selfish. Iya, cinta yang sering disebut-sebut di cerita-cerita roman picisan itu memang egois. Silakan dibuktikan sendiri. Dan ini bukan si cintanya rangga yang baru ketemu setelah 12 tahun.. Masih inget Jesse, cowo yang (dulu) masih muda di film Before Sunrise? Ya, ini kata-katanya dia.
  • Merasa membuang-buang waktu karena berbagai pertimbangan rempong yang ga ada habisnya? Berhenti berpikir. Lakukan. Seringkali, meminta maaf karena “kesalahan teknis” lebih gampang daripada “meminta izin” sebelum melakukan sesuatu. Yah, nasihat ini cuma berlaku untuk hal-hal yang sudah benar secara prinsipil.
  • Seperti yang saya tulis dalam tulisan sebelumnya, 2 π radius, manusia adalah makhluk hipokrit. Ketika disakiti orang lain, maunya protes, marah, atau nangis meraung-raung. Padahal ‘menyakiti diri sendiri’ itu aktivitas kegemaran sehari-hari. Aneh tapi biasa. Seperti kecanduan Justin Timberlake nyanyi Still on My Brain di saat patah hati. Kesakitan non-fisik, umumnya adiktif. Mungkin saya belum lulus juga dalam hal ini.
  • Ketika suatu pelajaran sudah diketahui, tapi tidak diaplikasikan dalam hidup, silakan bersiap-siap. Akan ada satu masa dan peristiwa yang mengubah status manusia dari ‘tahu’ menjadi ‘paham’.. yang terkadang melibatkan hal-hal dramatis, mungkin juga darah dan air mata.
  • Sadari semua ‘pelajaran hidup’, termasuk 23 poin di atas**, sebelum terpaksa mempelajarinya dari pengalaman pribadi. Tapi jika memang harus mengalami langsung sebuah pelajaran, meskipun itu pahit, bukankah akan jauh lebih berharga? Layaknya medali yang didapat dengan susah payah, pelajaran berharga yang didapatkan setelah bersusah-susah akan lebih melekat di hati.

image

Akhirulkalam, billahitaufiq walhidayah. Demikian kukulutus—kumpulan kutukan lumayan tujuh sks—yang sungguh masih dipertanyakan kebenarannya. Mari kita tutup dengan doa akhir majelis, mohon ampun 3x, dan hamdalah 152x. Aaaamiin.


*Maaf, saya tidak banyak ‘membahas peristiwa’ dalam tulisan ini. Silahkan intip diary pribadi saya, jika dan hanya jika Anda benar-benar ingin tahu. Percayalah, keingintahuan Anda akan saya apresiasi dengan sungguh-sungguh, “dalam tempoh yang sesingkat-singkatnja” seperti kata mendiang Bung Karno.
**Terima kasih untuk pembaca budiman yang rajin menghitung keduapuluhempat poin di atas, Anda memang anak yang berbakti pada nusa bangsa dan tanah air dunia scepticism. Dunia butuh lebih banyak orang seperti Anda!
bahasa indonesia · fiksi

Satire

Halo, apa kabar?

Ini aku, orang yang ingin kamu sapa kemarin.

Namaku? Ah tidak penting.

Untuk apa berusaha keras mengingat sesuatu yang tidak signifikan seperti sebuah nama..

..apalagi namaku.

.

Yang penting, kamu ingat wajahku, kan?

Ya, aku orang yang itu,

yang berwajah lugu,

yang selalu menyimak baik-baik semua ceritamu yang biasa-biasa saja,

yang sering berusaha masuk ke dalam percakapanmu yang kelihatannya seru.

Entah tawamu yang nyaring, entah nada tinggi suaramu, entah lengkung senyummu yang setengah hati,

yang akhirnya memaksaku mengangkat alis. Mungkin ketiga-tiganya.

.

Mau kuberi tahu sebuah rahasia?

Jujur saja, aku yakin kau ingat namaku..

..dan aku ingin berterimakasih atas segala upayamu selama ini. Analisis dari beragam hasil karyamu mengerucut menjadi 3 poin kesimpulan:

  1. kau selalu memikirkanku setiap hari
  2. kau selalu memimpikanku setiap malam
  3. jantungmu berdebar-debar setiap melihatku

Tahu darimana, katamu?

Kau selalu menitipkan pesan nasihat berbalut gertakan melalui orang-orang di sekitarku, menyebarkan tuduhan tak berdasar tentangku, dan kau selalu menjadi yang terdepan dalam bereaksi atas setiap kesalahan terkecilku.. wah, aku pasti sangat istimewa buatmu. Sungguh terhormat rasanya bisa menempati daftar hal-hal penting yang mengisi pikiranmu sehari-hari.

Kau nyaris tak pernah bisa bicara dengan cara normal padaku, seperti demonstran dari pihak korban pembantaian terhadap pendosa. Seolah aku memang berhasil menghancurkan hidupmu berkali-kali. Mungkin memang benar terjadi, dalam mimpi-mimpi burukmu.

Dan kau selalu mengindari tatapan mataku, seolah menyembunyikan sesuatu.. kalau menurut teoriku ya, kau pasti terlalu deg-degan untuk menatap mataku lurus-lurus. Apa kau takut penyakit kejiwaanmu terbongkar? Sudah terlambat, aku tahu kecepatanmu menumpuk kebencian dan amarah terhadap orang tak dikenal sungguh luar biasa. Jika dijadikan cabang olahraga baru di olimpiade, kau pasti dapat medali emas.

Yeah, aku tahu semuanya. Hebat kan?

.

Dan setelah semua huru-hara ini, aku tetap tak ingin membencimu.

Meskipun tawaran itu begitu menggiurkan..

Di satu sisi aku mengasihanimu,

Ah, tapi siapalah aku ini, sok- sok mengasihani orang lain, eh?

Aku hanya seorang bocah manja, tak punya kekuatan super sepertimu.

Hanya rakyat jelata, yang tak bisa dibandingkan dengan manusia perkasa yang serba bisa.

Lihat,

mataku tak bisa mengeluarkan sinar laser seperti matamu!

.

Sayangku, aku tidak akan meminta maaf untuk berbicara apa adanya.

Bukan berarti selama ini aku bermuka ganda seperti double-tape,

hanya saja aku tak setega itu menghancurkan harga dirimu di depan umum.

Tapi ngomong-ngomong, harga diri itu apa ya?

Atau pertanyaannya, berapakah harga diri itu?

Apakah lebih murah dari keingintahuan tentang urusan orang lain?

Oops, maaf, sebagai orang yang tidak mengenal konsep dan arti harga diri, tak sepantasnya aku berusaha tawar-menawar soal harga.

Toh murah dan mahal itu relatif, tergantung siapa pembelinya!

Selamat malam, sampai jumpa dalam mimpi terburukmu~

.

P.S: Tidak, aku bukan pengidap skizofrenia, hanya memilih apa yang ingin aku percayai–terlepas dari apa yang kau ingin aku percayai, bahkan dari apa yang sebenarnya terjadi.. Sungguh terkadang kebodohan itu anugerah.