blairies · english


Please kindly welcome our new title, since she’s a bit shy.

But why?

I think it’s time for this blog to grow up. It can’t keep hiding under the silly title forever. And the even more foolish tagline at that. (refer to the current tagline and Meet Mia page for the old identities)

So with the new title, I also launch the Zero Draft Project. I have too much unpublished drafts in my dashboard right now: 22 drafts, to be precise. I’ve decided that I want all of them to be published. Start from today.

Welcome Eunoia. Make yourself at home.. Everyone has been waiting for you. 🙂

english · rants

Fake Plastic Memory

I’ve almost forgotten how good it feels to talk incessantly with a girlfriend.

Not the ‘girlfriend’ like how guys said it, but the girlfriend whom we girls talk to, most of time. About things we don’t talk with boyfriends. Even if I did talk about it with them, I personally have to admit, girls talking session is so addictive. It’s always completely different experience. No offense, guys..

Maybe it’s not gender related, and more about personality. I don’t mean to be sexist, but still, I think girls have their own way to describe things, express feelings, in ways guys couldn’t.

So I’m really thankful to have smart and sensible girlfriends ❤


Last night I had a rendezvous with my roommate, at last, after all travelling and struggling episodes for the past weeks.

Talk about travelling. She’s just back from Osaka 5 days ago, and she has a resolution to reinvent her instagram account. It’s now themed. (Click here to read her blog and follow her instagram) I think it’s a great idea to make social media as a project, rather than pouring our whole life into it, like I do now.. lol.

I still like peeking on people’s stories on instagram. It kills boredom, temporarily. Although we’re wondering how does it feel to always have the urge to update your feed all the time.

Okay, I sound like that sad grumpy person who  judges people from their socmed accounts.

But let’s be honest here.

These days, if you get to travel somewhere new that you haven’t been before, what’s the absolute thing that you think you MUST do when you get there?

Find a cool spot. Click.
Oh no, I closed my eyes there. Retake. Click.
Hmm why do I look so fat in here? Again. Click.
Eh, someone walked on the background. What a photobomb. Click. Click.

Wow, there’s a nice attraction! Let’s take a video..

Then suddenly the time’s up and you have to go back home.

Have you ever counted the time you spent staring at something (that awesome building, beautiful scenery, your spouse’s face) through your phone/camera, and wondered if you do that a lot more than looking at those precious things first-hand with your very own eyes while you’re there?

If you ever done this kind of trip, let me ask something: did you truly enjoy it?

I don’t know about you, but I did this kind of trip all the time, and sometimes I feel like a zombie.

A photo zombie.

So if I do these things all the time, why bother? Writing all these and becoming hypocrite? I’m just sad. I pity myself from doing this and I want to stop. This habit made my experiences feel like fake plastic memories. I was there, but not quite there.

I’ve seen some Hanabi during my stay in Japan. I remember at first, I automatically tempted to record it. Then after a few minutes, I get rid that rectangular screen off of my face. The fireworks actually looked hundred times more beautiful.

I’m not saying it’s wrong to take pictures or videos. If you’re a photographer, and it’s your job to do so, then please do it. But if you’re not, and you still want to capture the moment, then please do it too.. I won’t stop you, I swear, just please remember what’s the point of your trip. Or if there’s any, really.

I know it all too well: that annoying feeling tugging at the back of your head.. you need something to bring home. Or you want some evidence that you were there. Or you need publication on your socmed. Or whatever other reason.. but does it really worth it to be the only thing you do there?

How I miss the old days when I knew exactly what I want to do if I travel somewhere. Let’s go to the beach to swim. Go to the mountain to build a camp, stay the night and cook wedang jahe, the thing I’ll drink only when I feel like about to freeze to death.

Ceteris paribus, it feels nice to meet and talk to people you care about, face to face. See everything first-hand, with your very own eyes. Memories won’t go easily. Photos can be faked, so don’t make excuses about documentation blah blah blah..
no cameras allowed

It’s kind of scary today, the first thing people do when some extraordinary thing happened is taking out their smartphones and snap! they go. I wonder if it’s okay to let ourselves becoming this kind of drone-society, when silly publication and internet fame are everything we worry about..

I heard that information is the new currency now in this age. But still, if you see something extraordinary, for example, someone gets hurt, don’t you think the first thing you should do is helping them? Or at least calling for help, if you can? I think we should re-learn to be humans inside the picture, not some heartless picture-taking robots.

Disclaimer: I’m not technophobic, just a concerned citizen of the 21st century world.

bahasa indonesia · capruk cacat · stuffs from lovely people

Jangan dekat-dekat kepada Tuhan

1. Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Sebab engkau sudah amat sangat lekat pada dunia. Terlanjur salah pengertian kepada kehidupan. Tidak sungguh-sungguh menelusuri ilmu kematian. Terlalu percaya kepada banyak yang bukan Tuhan

2. Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Karena gemerlap dunia sudah menjadi tuhanmu. Dunia rumahmu, dunia jalanmu, dunia tujuanmu. Tak berani engkau berpisah darinya sejenakpun saja. Maka kalau dekat kepada Tuhan, kau akan menderita.

3. Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Teguhkan hati menikmati dunia dan mengidamkan sorga. Kalau dekat kepada Tuhan, dunia menjadi remeh dan sorga menjadi bukan segala-galanya. Itu tidak sejalan dengan muatan doa-doamu.

4. Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Sebab yang utama bagimu adalah kekayaan dunia. Yang kau perjuangkan adalah kedudukan di dunia. Harta benda, keunggulan, eksistensi, pangkat, dan jabatan.
Di dekat Tuhan, semua itu rendah dan sia-sia.

5. Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Nanti engkau dicintai oleh-Nya dan disembunyikan. Mungkin malah ditabiri dengan hijab kehinaan. Diberi pakaian kumuh dan penuh kerendahan, sehingga dunia mentertawakanmu dan meremehkan.

6. Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Nanti engkau tidak populer dan dikepung salah paham. Kau disangka timur oleh barat, dituduh utara oleh selatan. Kalau berjasa engkau tak memperoleh pujian, karena Tuhan menyimpan pialamu di lubuk yang dirahasiakan.

7. Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Sebab itu membuatmu berpikir dan menilai ulang segala sesuatu yang sudah baku di dalam hidupmu. Untung rugi, rejeki bencana, penting tak penting, harus kau bongkar dan membangunnya kembali.

8. Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Demi karier duniamu jangan dekat-dekat kepada-Nya. Atau tunggangi dan manfaatkan saja kekuasaan-Nya, dengan berdoa naik pangkat dan bertambah kaya, minta kemenangan untuk menguasai harta benda

9. Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Kau akan mutlak terserap oleh supra-dimensi. Para makhluk tak sanggup menatapmu. Bumi takkan mampu menemukanmu, sehingga pun dunia tak menghormatimu.

10. Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Sebab tak ada yang melebihi-Nya dalam hal dikhianati, tapi Ia Maha Sabar dari zaman ke zaman meski diingkari. Kuatkah engkau berada di maqam itu? Terus menerus didera khianat dan ingkar oleh sesamamu?

11. Jangan dekat-dekat kepada Tuhan.
Sebab ia menciptakanmu tanpa kepentingan. Ia mengasuhmu tanpa meminta imbalan, sedangkan hidupmu adalah kepentingan, dan setiap langkahmu mendambakan imbalan.

12. Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Kecuali kau tangguh memanggul ujian. Jika dunia yang kau genggam dan kau eman-eman direbut oleh-Nya, dibanting, dicampakkan, disirnakan; Apakah engkau rela, atau merasa itu derita?

13. Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Kecuali engkau ridha kehilangan dunia. Kecuali engkau ikhlas kehilangan dirimu sendiri. Hilang dari yang dinamakan kehidupan. Dirimu sendiri hilang dari dirimu sendiri.

14. Hayo… gimana
Maka jangan dekat-dekat kepada Tuhan. Berpalinglah dari asal usul dan arah tujuan. Mengembaralah di Bumi dengan kemerdekaan. Jilat sana, jilat sini, cari yang paling menguntungkan.

Source: #MBAHNUN

bahasa indonesia · capruk cacat

Nguping Melayu – Part 1

“Biasanya sih 3 bulan pertama, masih aneh dengerin kata-kata bahasa melayu. Abis itu juga biasa kok.”

Tujuh bulan sudah berlalu sejak pertama denger kalimat di atas dari salah satu senpai sesama indonesian. Ya, dengernya sih biasa. Udah ngerti juga, kurang lebih. Tapi untuk nulis blog ttg ‘belajar bahasa melayu’ rasanya terlalu berlebihan. Takut over-estimated. Jadi kita nguping bahasa melayu aja ya.

(Anyway, saya fans berat ngupingjakarta. Blog yang super menghibur. Bagi yang belum pernah baca blog mereka bisa coba ditengok.. Denger2 mereka bahkan udah nerbitin buku!) 

Berdasarkan pengalaman nguping di daerah KL dan sekitarnya selama 6 bulan, saya nyadar ada 3 jenis perbedaan dari segi vocabulary bahasa yang menyebabkan orang Indonesia ga selalu ngerti dan bisa komunikasi dengan orang Malaysia (kalau pake bahasa native masing-masing):

  1. Ada kata-kata yang sama, artinya hampir sama juga, tapi penggunaannya beda
  2. Ada kata-kata yang sama, tapi artinya beda jauh
  3. Ada kata-kata yang cuma ada di salah satu bahasa aja

Oke. Sebagai contoh, saya beri list kata-kata yang saya tau berdasarkan pengalaman pribadi.. Silakan dikelompokkan sendiri, mana yang masuk nomor1, nomor2, atau mungkin yang paling gampang nomor 3.

  • Semalam

Z: Mia, semalam kamu makan dimana?

Me: (sambil mikir tadi malem ada dimana) Semalam? Saya makan di rumah aja

Z: *shocked* Kamu balik rumah lalu datang balik sini semalam?

Me: Iya lah, masa saya nginep disini dari kemaren.. Hahahha. Maksudnya tadi malem kan?

Z: Maksud saya semalam kamu makan siang dimana?

Me: ???.. Ooo (bulet)

Sejak percakapan ini terjadi, saya baru ngeh kalau ‘semalam’ itu artinya ‘kemarin’. Sementara dalam kepala saya, ‘semalam’ berkisar antara jam 7 pm hari sebelumnya sampai sekitar jam 1 am hari ini deh.. intinya semalam = tadi malam! Fakta bahwa dlm bahasa melayu kata ‘semalam’ berarti satu malam sebelumnya (yang berarti juga sehari sebelumnya), bikin saya terngiang-ngiang lagu dangdut: “Semalam aku mimpi~~..”

  • Pemadam

F: Ada nampak pemadam tak?

Me: ?? (ga salah denger nih?) Pemadam itu apa? (otomatis mikir pemadam kebakaran)

F: * ngambil tempat pensil saya* Benda ini kamu panggil apa?

Me: Penghapus..

F: Hahahahaha

Me: *speechless*


  • Bomba

Jadi kalo penghapus dibilang pemadam, ini dia nama firefighter di malaysia: bomba!


jrl5t lif bomba

  • Papan Kenyataan

Hadapilah hidup dengan berani. Jangan pernah lari dari (papan) kenyataan ini!


  • Percuma

Saya cukup ngerti kalau kata ini dikaitkan dengan kata “cuma-cuma”. Makes sense, ya?

  • Berbual

Ini bukan iklan, tapi saya takjub bagaimana tiga kata dalam font biru tebal itu bisa punya arti yang benar-benar beda.. Percuma, masa berbual sih? mungkin lebih tepat.


  • Dobi

Masih inget house-elf yang ada di cerita harpot?


jangan terlalu yakin..



Dobby masih diperbudak jadi tukang cuci!

(to be continued..)

Note: Tujuan tulisan ini untuk berbagi pengetahuan sambil lucu-lucuan aja.. secara pribadi menurut saya orang Malaysia banyak yang baik dan ramah-ramah. Dan sangat cocok diajak berteman. Abis baca ini jangan pada berantem ya 🙂

bahasa indonesia · capruk cacat

Ada yang Lebih ‘…’ dari Kartini?

Yang lebih mahal banyak.

Maaf saya pinjem iklan obat nyamuk dikit, tapi dipikir-pikir agak pas juga untuk konteks Kartini. ‘…’ itu sengaja dikosongkan, boleh diisi dengan kata apapun yang pas. Patriotik? Cerdas? Revolusioner? Cantik?

kalau liat ini sih, agak sulit cari saingan Mbak Dian! (source:

Bukannya saya kurang respek. Mohon maaf, apalah saya ini dibanding pahlawan nasional yang punya satu hari dan tradisi bertahun-tahun didedikasikan untuk dirinya. Saya cuma butiran upil di lubang antariksa yang gelap gulita.

Alkisah sore ini di tanggal keramat bertradisi, 21 april, saya membaca tulisan Dr. Adian Husaini—yang ternyata tanggal lahirnya sama persis dengan saya! ok, ga penting—dan banyak point disana yang saya udah pernah denger sebelumnya, tapi ada juga yang belum. Wajar saja karena ternyata tulisan ini sudah dipublish tahun 2009, pastinya banyak juga yang membahas dan mengutip literatur2 serupa. Rasanya sudah cukup biasa liat meme ini muncul tiap hari kartini:


Anyway, tulisan Pak Adian ini cukup membuat saya emosi, saking setujunya dengan pendapat beliau dan shock akibat satu info yang saya baru tahu: ..Kartini nge-fans sama Snouck Hurgronje.. eh, whatt?

Fakta ini cukup membuat saya ilfil, karena:

  1. Om Snouck ini udah lama saya incer untuk dijadikan bahan tulisan.. kenapa? silakan baca kutipan di bawah. Dia adalah salah satu tokoh paling munafik dalam sejarah penjajahan.
  2. Setelah membaca bagaimana cara Kartini “eksis”: PDKT dengan pihak penjajah, et cetera; saya jadi teringat game ‘Mean Girls senior year’.. (Mungkin temen-temen cewek yang suka nonton romcoms tau tentang film yang ada karakter Regina George ini.) Kesannya, beliau yang dirayakan tiap tanggal 21 april ini adalah seorang karakter cupu yang cuma bisa eksis karena punya kenalan orang-orang berkuasa. Dan setahun sekali kita mendandani adik-adik di TK demi beliau ini. Rasanya kok.. asdfghjkl@#$%^! banget.
  3. Atau jangan-jangan, beliau ini cuma pura2 ngefans sama om Snouck supaya (lagi-lagi) numpang eksis.. We don’t know what to believe anymore at this point. 

Mungkin saya agak bias karena ngomongin agama yang saya percayai. Tapi sepanjang sejarah peradaban manusia, mau gak mau, politik dan agama selalu menjadi hot topic.

Biar ga penasaran, please baca tulisan ini sampai akhir.

Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah
Oleh: Dr. Adian Husaini

Ada yang menarik pada Jurnal Islamia (INSISTS -Republika) edisi 9 April 2009 lalu. Dari empat halaman jurnal berbentuk koran yang membahas tema utama tentang Kesetaraan Gender, ada tulisan sejarawan Persis Tiar Anwar Bahtiar tentang Kartini. Judulnya: “Mengapa Harus Kartini?”

Sejarawan yang menamatkan magister bidang sejarah di Universitas Indonesia ini mempertanyakan: Mengapa Harus Kartini? Mengapa setiap 21 April bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan dan diteladani dibandingkan Kartini?

Menyongsong tanggal 21 April 2009 kali ini, sangatlah relevan untuk membaca dan merenungkan artikel yang ditulis oleh Tiar Anwar Bahtiar tersebut. Tentu saja, pertanyaan bernada gugatan seperti itu bukan pertama kali dilontarkan sejarawan. Pada tahun 1970-an, di saat kuat-kuatnya pemerintahan Orde Baru, guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar pernah menggugat masalah ini. Ia mengkritik ‘pengkultusan’ R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia.

Dalam buku Satu Abad Kartini (1879-1979), (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990, cetakan ke-4), Harsja W. Bahtiar menulis sebuah artikel berjudul “Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita”. Tulisan ini bernada gugatan terhadap penokohan Kartini. “Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut,” tulis Harsja W. Bachtiar, yang menamatkan doktor sosiologinya di Harvard University.

Harsja juga menggugat dengan halus, mengapa harus Kartini yang dijadikan sebagai simbol kemajuan wanita Indonesia. Ia menunjuk dua sosok wanita yang hebat dalam sejarah Indonesia. Pertama, Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh dan kedua, Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan. Anehnya, tulis Harsja, dua wanita itu tidak masuk dalam buku Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1978), terbitan resmi Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Tentu saja Kartini masuk dalam buku tersebut.

Padahal, papar Harsja, kehebatan dua wanita itu sangat luar biasa. Sultanah Safiatudin dikenal sebagai sosok yang sangat pintar dan aktif mengembangkan ilmu pengatetahuan. Selain bahasa Aceh dan Melayu, dia menguasai bahasa Arab, Persia, Spanyol dan Urdu. Di masa pemerintahannya, ilmu dan kesusastraan berkembang pesat. Ketika itulah lahir karya-karya besar dari Nuruddin ar-Raniry, Hamzah Fansuri, dan Abdur Rauf. Ia juga berhasil menampik usaha-usaha Belanda untuk menempatkan diri di daerah Aceh.

VOC pun tidak berhasil memperoleh monopoli atas perdagangan timah dan komoditi lainnya. Sultanah memerintah Aceh cukup lama, yaitu 1644-1675. Ia dikenal sangat memajukan pendidikan, baik untuk pria maupun untuk wanita.

Tokoh wanita kedua yang disebut Harsja Bachriar adalah Siti Aisyah We Tenriolle. Wanita ini bukan hanya dikenal ahli dalam pemerintahan, tetapi juga mahir dalam kesusastraan. B.F. Matthes, orang Belanda yang ahli sejarah Sulawesi Selatan, mengaku mendapat manfaat besar dari sebuah epos La-Galigo, yang mencakup lebih dari 7.000 halaman folio. Ikhtisar epos besar itu dibuat sendiri oleh We Tenriolle. Pada tahun 1908, wanita ini mendirikan sekolah pertama di Tanette, tempat pendidikan modern pertama yang dibuka baik untuk anak-anak pria maupun untuk wanita.

Penelusuran Prof. Harsja W. Bachtiar terhadap penokohan Kartini akhirnya menemukan kenyataan, bahwa Kartini memang dipilih oleh orang Belanda untuk ditampilkan ke depan sebagai pendekar kemajuan wanita pribumi di Indonesia. Mula-mula Kartini bergaul dengan Asisten-Residen Ovink suami istri. Adalah Cristiaan Snouck Hurgronje, penasehat pemerintah Hindia Belanda, yang mendorong J.H. Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan, agar memberikan perhatian pada Kartini tiga bersaudara.

Harsja menulis tentang kisah ini: “Abendanon mengunjungi mereka dan kemudian menjadi semacam sponsor bagi Kartini. Kartini berkenalan dengan Hilda de Booy-Boissevain, istri ajudan Gubernur Jendral, pada suatu resepsi di Istana Bogor, suatu pertemuan yang sangat mengesankan kedua belah pihak.”

Ringkasnya, Kartini kemudian berkenalan dengan Estella Zeehandelaar, seorang wanita aktivis gerakan Sociaal Democratische Arbeiderspartij (SDAP). Wanita Belanda ini kemudian mengenalkan Kartini pada berbagai ide modern, terutama mengenai perjuangan wanita dan sosialisme. Tokoh sosialisme H.H. van Kol dan penganjur “Haluan Etika” C.Th. van Deventer adalah orang-orang yang menampilkan Kartini sebagai pendekar wanita Indonesia.

Lebih dari enam tahun setelah Kartini wafat pada umur 25 tahun, pada tahun 1911, Abendanon menerbitkan kumpulan surat-surat Kartini dengan judul Door Duisternis tot Lich. Kemudian terbit juga edisi bahasa Inggrisnya dengan judul Letters of a Javaness Princess. Beberapa tahun kemudian, terbit terjemahan dalam bahasa Indonesia dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran (1922).

Dua tahun setelah penerbitan buku Kartini, Hilda de Booy-Boissevain mengadakan prakarsa pengumpulan dana yang memungkinkan pembiayaan sejumlah sekolah di Jawa Tengah. Tanggal 27 Juni 1913, didirikan Komite Kartini Fonds, yang diketuai C.Th. van Deventer. Usaha pengumpulan dana ini lebih memperkenalkan nama Kartini, serta ide-idenya pada orang-orang di Belanda. Harsja Bachtriar kemudian mencatat: “Orang-orang Indonesia di luar lingkungan terbatas Kartini sendiri, dalam masa kehidupan Kartini hampir tidak mengenal Kartini dan mungkin tidak akan mengenal Kartini bilamana orang-orang Belanda ini tidak menampilkan Kartini ke depan dalam tulisan-tulisan, percakapan-percakapan maupun tindakan-tindakan mereka.”

Karena itulah, simpul guru besar UI tersebut: “Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut.”

Harsja mengimbau agar informasi tentang wanita-wanita Indonesia yang hebat-hebat dibuka seluas-luasnya, sehingga menjadi pengetahuan suri tauladan banyak orang. Ia secara halus berusaha meruntuhkan mitos Kartini: “Dan, bilamana ternyata bahwa dalam berbagai hal wanita-wanita ini lebih mulia, lebih berjasa daripada R.A. Kartini, kita harus berbangga bahwa wanita-wanita kita lebih hebat daripada dikira sebelumnya, tanpa memperkecil penghargaan kita pada RA Kartini.”

Dalam artikelnya di Jurnal Islamia (INSISTS-Republika, 9/4/2009), Tiar Anwar Bahtiar juga menyebut sejumlah sosok wanita yang sangat layak dimunculkan, seperti Dewi Sartika di Bandung dan Rohana Kudus di Padang (kemudian pindah ke Medan). Dua wanita ini pikiran-pikirannya memang tidak sengaja dipublikasikan. Tapi yang mereka lakukan lebih dari yang dilakukan Kartini. Berikut ini paparan tentang dua sosok wanita itu, sebagaimana dikutip dari artikel Tiar Bahtiar.

Dewi Sartika (1884-1947) bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita. Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung. Rohana Kudus (1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia (1911) dan Rohana School (1916), Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama di negeri ini.

Kalau Kartini hanya menyampaikan ide-idenya dalam surat, mereka sudah lebih jauh melangkah: mewujudkan ide-ide dalam tindakan nyata. Jika Kartini dikenalkan oleh Abendanon yang berinisiatif menerbitkan surat-suratnya, Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan).

Bahkan kalau melirik kisah-kisah Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah dari Aceh, klaim-klaim keterbelakangan kaum wanita di negeri pada masa Kartini hidup ini harus segera digugurkan. Mereka adalah wanita-wanita hebat yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Aceh dari serangan Belanda.

Tengku Fakinah, selain ikut berperang juga adalah seorang ulama-wanita. Di Aceh, kisah wanita ikut berperang atau menjadi pemimpin pasukan perang bukan sesuatu yang aneh. Bahkan jauh-jauh hari sebelum era Cut Nyak Dien dan sebelum Belanda datang ke Indonesia, Kerajaan Aceh sudah memiliki Panglima Angkatan Laut wanita pertama, yakni Malahayati.

Jadi, ada baiknya bangsa Indonesia bisa berpikir lebih jernih: Mengapa Kartini? Mengapa bukan Rohana Kudus? Mengapa bukan Cut Nyak Dien? Mengapa Abendanon memilih Kartini? Dan mengapa kemudian bangsa Indonesia juga mengikuti kebijakan itu? Cut Nyak Dien tidak pernah mau tunduk kepada Belanda. Ia tidak pernah menyerah dan berhenti menentang penjajahan Belanda atas negeri ini.

Meskipun aktif berkiprah di tengah masyarakat, Rohana Kudus juga memiliki visi keislaman yang tegas. “Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan,” begitu kata Rohana Kudus.

Seperti diungkapkan oleh Prof. Harsja W. Bachtiar dan Tiar Anwar Bahtiar, penokohan Kartini tidak terlepas dari peran Belanda. Harsja W. Bachtiar bahkan menyinggung nama Snouck Hurgronje dalam rangkaian penokohan Kartini oleh Abendanon. Padahal, Snouck adalah seorang orientalis Belanda yang memiliki kebijakan sistematis untuk meminggirkan Islam dari bumi Nusantara. Pakar sejarah Melayu, Prof. Naquib al-Attas sudah lama mengingatkan adanya upaya yang sistematis dari orientalis Belanda untuk memperkecil peran Islam dalam sejarah Kepulauan Nusantara.

Dalam bukunya, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu ((Bandung: Mizan, 1990, cet. Ke-4), Prof. Naquib al-Attas menulis tentang masalah ini:
“Kecenderungan ke arah memperkecil peranan Islam dalam sejarah Kepulauan ini, sudah nyata pula, misalnya dalam tulisan-tulisan Snouck Hurgronje pada akhir abad yang lalu. Kemudian hampir semua sarjana-sarjana yang menulis selepas Hurgronje telah terpengaruh kesan pemikirannya yang meluas dan mendalam di kalangan mereka, sehingga tidak mengherankan sekiranya pengaruh itu masih berlaku sampai dewasa ini.”

Apa hubungan Kartini dengan Snouck Hurgronje? Dalam sejumlah suratnya kepada Ny. Abendanon, Kartini memang beberapa kali menyebut nama Snouck. Tampaknya, Kartini memandang orientalis-kolonialis Balanda itu sebagai orang hebat yang sangat pakar dalam soal Islam. Dalam suratnya kepada Ny. Abendanon tertanggal 18 Februari 1902, Kartini menulis:
”Salam, Bidadariku yang manis dan baik!… Masih ada lagi suatu permintaan penting yang hendak saya ajukan kepada Nyonya. Apabila Nyonya bertemu dengan teman Nyonya Dr. Snouck Hurgronje, sudikah Nyonya bertanya kepada beliau tentang hal berikut: ”Apakah dalam agama Islam juga ada hukum akil balig seperti yang terdapat dalam undang-undang bangsa Barat?” Ataukah sebaiknya saya memberanikan diri langsung bertanya kepada beliau? Saya ingin sekali mengetahui sesuatu tentang hak dan kewajiban perempuan Islam serta anak perempuannya.” (Lihat, buku Kartini: Surat-surat kepada Ny. R.M. Abendanon-Mandri dan Suaminya, (penerjemah: Sulastin Sutrisno), (Jakarta: Penerbit Djambatan, 2000), hal. 234-235).

Melalui bukunya, Snouck Hurgronje en Islam (Diindonesiakan oleh Girimukti Pusaka, dengan judul Snouck Hurgronje dan Islam, tahun 1989), P.SJ. Van Koningsveld memaparkan sosok dan kiprah Snouck Hurgronje dalam upaya membantu penjajah Belanda untuk ’menaklukkan Islam’. Mengikuti jejak orientalis Yahudi, Ignaz Goldziher, yang menjadi murid para Syaikh al-Azhar Kairo, Snouck sampai merasa perlu untuk menyatakan diri sebagai seorang muslim (1885) dan mengganti nama menjadi Abdul Ghaffar. Dengan itu dia bisa diterima menjadi murid para ulama Mekkah. Posisi dan pengalaman ini nantinya memudahkan langkah Snouck dalam menembus daerah-daerah Muslim di berbagai wilayah di Indonesia.

Menurut Van Koningsveld, pemerintah kolonial mengerti benar sepak terjang Snouck dalam ’penyamarannya’ sebagai Muslim. Snouck dianggap oleh banyak kaum Muslim di Nusantara ini sebagai ’ulama’. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai ”Mufti Hindia Belanda’. Juga ada yang memanggilnya ”Syaikhul Islam Jawa”. Padahal, Snouck sendiri menulis tentang Islam: ”Sesungguhnya agama ini meskipun cocok untuk membiasakan ketertiban kepada orang-orang biadab, tetapi tidak dapat berdamai dengan peradaban modern, kecuali dengan suatu perubahan radikal, namun tidak sesuatu pun memberi kita hak untuk mengharapkannya.” (hal. 116).

Snouck Hurgronje (lahir: 1857) adalah adviseur pada Kantoor voor Inlandsche zaken pada periode 1899-1906. Kantor inilah yang bertugas memberikan nasehat kepada pemerintah kolonial dalam masalah pribumi. Dalam bukunya, Politik Islam Hindia Belanda, (Jakarta: LP3ES, 1985), Dr. Aqib Suminto mengupas panjang lebar pemikiran dan nasehat-nasehat Snouck Hurgronje kepada pemerintah kolonial Belanda. Salah satu strateginya, adalah melakukan ‘pembaratan’ kaum elite pribumi melalui dunia pendidikan, sehingga mereka jauh dari Islam.

Menurut Snouck, lapisan pribumi yang berkebudayaan lebih tinggi relatif jauh dari pengaruh Islam. Sedangkan pengaruh Barat yang mereka miliki akan mempermudah mempertemukannya dengan pemerintahan Eropa. Snouck optimis, rakyat banyak akan mengikuti jejak pemimpin tradisional mereka. Menurutnya, Islam Indonesia akan mengalami kekalahan akhir melalui asosiasi pemeluk agama ini ke dalam kebudayaan Belanda. Dalam perlombaan bersaing melawan Islam bisa dipastikan bahwa asosiasi kebudayaan yang ditopang oleh pendidikan Barat akan keluar sebagai pemenangnya. Apalagi, jika didukung oleh kristenisasi dan pemanfaatan adat. (hal. 43).

Aqib Suminto mengupas beberapa strategi Snouck Hurgronje dalam menaklukkan Islam di Indonesia: “Terhadap daerah yang Islamnya kuat semacam Aceh misalnya, Snouck Hurgronje tidak merestui dilancarkan kristenisasi. Untuk menghadapi Islam ia cenderung memilih jalan halus, yaitu dengan menyalurkan semangat mereka kearah yang menjauhi agamanya (Islam) melalui asosiasi kebudayaan.” (hal. 24).

Itulah strategi dan taktik penjajah untuk menaklukkan Islam. Kita melihat, strategi dan taktik itu pula yang sekarang masih banyak digunakan untuk ‘menaklukkan’ Islam. Bahkan, jika kita cermati, strategi itu kini semakin canggih dilakukan. Kader-kader Snouck dari kalangan ‘pribumi Muslim’ sudah berjubel. Biasanya, berawal dari perasaan ‘minder’ sebagai Muslim dan silau dengan peradaban Barat, banyak ‘anak didik Snouck’ – langsung atau pun tidak – yang sibuk menyeret Islam ke bawah orbit peradaban Barat. Tentu, sangat ironis, jika ada yang tidak sadar, bahwa yang mereka lakukan adalah merusak Islam, dan pada saat yang sama tetap merasa telah berbuat kebaikan.
[Depok, 20 April 2009]

Bacaan yang cukup panjang, tapi worth it, kan? Mungkin masih banyak literatur yang perlu dikaji, tapi untuk saat ini rasanya cuma: gemesss!


english · stuffs from lovely people

Smelly Soulmate

It all started with a timeline post by a broadcast account on LINE, about how Rasulullah sent a “female investigator” to secretly sniff the woman he intended to marry. Yea, you heard it right, *sniffing* the bride-to-be, in two place: armpits and mouth/breath to be exact. Additionally the secret agent was told to peek on the bride-to-be’s leg veins.

My reaction to this was:



Is this a shahih hadith? 😮

Anyway, the source article is in Indonesian, you can click here to read it if you want.

In retrospect, putting aside all yikes and ewws, the article explained that Rasulullah did that to find out the woman’s health, which is makes sense. Another reason is to see whether the woman takes care of herself well enough and being considerate to others (by not making people around here fainted by her body odors, LOL.. I’m so curious how ancient deodorants look like!)

Anyway, scientists nowadays said there might be more about body odors and life partner choices..

Sweaty T-Shirts and Human Mate Choice:

Maybe it’s not similar interests, horoscope signs, looks, or proximity that make women and men fall in love. According to evolutionary scientists, when people throw up their hands and say “it was just chemistry,” they may be on to a fundamental factor in mate choice.

Subtle chemical signals, or pheromones, have long been known to draw pairs together within the same species, and for a specific reason. In mice, for example, experiments showed that pheromones acted as attractants between males and females who were genetically similar except that they differed in a certain type of immune system gene. That difference is actually a survival benefit: The combination of two individuals’ different MHC (major histocompatibility locus) genes gives their offspring an advantage in beating back disease organisms.

So the mice could smell a genetic difference. But could modern humans, who aren’t known for a particularly good sense of smell, also make that distinction?

In the first “sweaty T-shirt” experiment, a Swiss zoologist, Claus Wedekind, set up a test of women’s sensitivity to male odors. He assembled volunteers, 49 women and 44 men selected for their variety of MHC gene types. He gave the men clean T-shirts to wear for two nights and then return to the scientists.

In the laboratory, the researchers put each T-shirt in a box equipped with a smelling hole and invited the women volunteers to come in, one at a time, and sniff the boxes. Their task was to sample the odor of seven boxes and describe each odor as to intensity, pleasantness, and sexiness.

The results were striking. Overall, the women preferred the scents of T-shirts worn by men whose MHC genes were different from their own.

The experiment did not test men’s perceptions of female scents, but the results certainly suggest that evolution has provided humans, not just mice, with a transmitter and receiver for genetic information that could influence mate choice.

And all this even before the first date!

(Source: – Credits: © 2001 WGBH Educational Foundation and Clear Blue Sky Productions, Inc. All rights reserved.)

So what do you think? Maybe this will be more reasons to smell you significant other..

After all, to find out how different your MHC gene types with him is more important than your zodiac signs, girls!

bahasa indonesia · curhat



Masalahnya bukan mau nulis blog. Walaupun yang itu udah lama terbengkalai juga. Ha.

Bukan fiksi, bukan artikel majalah jalan-jalan, bukan juga puisi yang nanti saya taruh link-nya di page sebelah.

Kali ini ada 2 project: thesis dan journal paper. Both in english, and not that I’ll complain about.. but spare me please, saya akan sangat merindukan menulis dalam bahasa ibu yang sudah terbiasa saya gunakan. (Sebenarnya bahkan, itu juga cuma ngaku-ngaku saja. Bahasa ibu saya Basa Sunda. Bahasa Indonesia itu bahasa teman-teman saya. Hehh.)

Sedih  lucu rasanya, mulai nulis thesis, yang dikerjain adalah:

  1. Download template.
  2. Minta contoh thesis punya temen yang lulus dengan nilai top.
  3. Ngeributin template mana yang bener. Kok punyanya si ini beda? Kok punya si itu lebih bagus?
  4. Ngeributin subbab-subbab yang ada dan ga ada. Kok punya kamu mulainya selalu pake introduction dan akhir chapter pake summary?
  5. Nulis chapter 1. Nulis subbab introduction yang menjelaskan isi chapter 1, selama sejam. Terus copy paste untuk subbab berikutnya karena males ngetik/ setting ulang template
  6. Ngeributin dedication page (bukan aku yang mulai, sumpah. Kebetulan aja ada orang ini yang mau masukin nama saya ke dedication page.. eh jadi kepikiran kan dedication page waktu TA S1 apaan. Eh ternyata sumpah ganesha yang termodifikasi. sungguh super creative.. sekalian aja tulis in harmonia progressio -__- blah)
  7. dan akhirnya.. malah buka wordpress. setelah sekian lama dicuekin dan dianaktirikan, sekarang tiba-tiba jadi pelarian. teganya..

Tapi sungguh, saya sendiri panik ngeliat keadaan diri saya kayak gini. Menunda-nunda kerjaan dengan melakukan perintilan yang ga penting. Oke. Saya udah mulai nulis main idea di OneNote. Cuma main idea untuk Research Background sih.. Dan 5 menit kemudian liat trailer the 5th wave di TGV. Yassalam.

Ini semua mungkin karena saya panik mau ditinggal kerja sama orang yang selalu ada setiap saya butuh apa-apa, setiap saya perlu obrolan seru yang agak intelek dan nerdy, setiap saya bete dan suntuk mau liat art gallery atau sekedar nonton film blockbuster of the week..

Tiba-tiba saya diwanti-wanti cuma bisa ketemu pas weekend, mulai bulan depan. Huuuuuuhu

Oknum bersalah lainnya, mungkin karena kamar saya tetiba terasa jauh lebih sempit dengan hadirnya orang ketiga.. Sang guru tadika yang super cheerful dan mengingatkan saya pada seseorang yang agak bermuka dua yang pernah saya kenal sebelumnya. Tunggu, itu cuma asumsi aja kok dia bermuka dua. Mungkin itu muka orang lain.. Ga baik berburuk sangka sama orang lain, mi. Oke, mungkin saya cuma iri sama seseorang dari masa lalu ini. Saya tipe orang yang gloomy dan anti-social yang ga akan bisa jadi kayak gitu–dan tak seharusnya saya memaksakan atau berkeinginan menjadi orang lain yang sama sekali bukan diri saya. Atau yang lebih mungkin lagi, saya trauma dengan semua orang di lingkungan si karakter masa lalu yang dari tadi dibahas ini.. Korporat2 yang gemar sekali berlatih drama, memeperebutkan peran sebagai double tape!

Hanya kebetulan saja sang cikgu ini suka memakai barang saya ga bilang2 dan menggantung handuk di handle lemari saya saat dia jelas-jelas mulai “ngaplek” sekarat.. Dan menggantung underwear di public area yang bukan jemuran.

Dan juga entah siapa di antara mereka yang super rajin dan katro, selalu nyabut kabel magic jar saya.. Yang mengakibatkan sisa nasi yang saya masak jadi basi dalam semalam. Yaiyalahhh. Hellooo.. magic jar itu fungsinya bukan cuma buat masak nasi doang cuy, tapi MENGHANGATKAN NASI juga. Emang dikira cuma buat gantiin panci biasa buat masak nasi, gitu? Ya maaf kalau tagihan listrik jadi agak nambah sedikit gara-gara saya nyolok magic jar beberapa jam.. Bzzzt.

Omaigat. Mungkin diam-diam saya mengidap OCD..

Moga-moga OCD ini bisa membantu saya menulis thesis (aka NESIS) dengan lebih baik. Sungguh harapan yang mulia dengan itikad yang tulus.