24

Jika ya, dekatkanlah. Jika bukan, jauhkanlah.

Sungguh hanya sesederhana itu.

Apalah saya ini, hanya sekumpulan daging dan darah yang berdenyut. Sebentuk otak berjalan dalam jajahan hati yang terbolak-balik.

Terlahir di bulan terakhir, ada hal-hal istimewa yang saya sadari.

Singkat cerita, menghadapi hari lahir ala akte kelahiran, secara official, rasanya seperti menonton film yang saya sudah tau ceritanya. Terlalu banyak spoiler yang bocor sepanjang tahun.

Selama hampir 12 bulan sebelumnya, saya sudah dianggap sebagai manusia berumur 24 tahun.. Jadi ketika hari itu tiba, apakah ada sesuatu yang berubah? Jelas tidak. Lalu bulan berikutnya, tiba-tiba saya dituduh berumur 25 tahun. Jengjengg!

Fenomena spoiler ini begitu terasa, terutama pada tahun-tahun ketika saya memulai hal baru. Mengenal orang-orang baru. Beradaptasi dengan lingkungan baru. Masa dimana identitas dan biodata diri ‘terpaksa’ diekspos secara massal dan berulang kali.

Termasuk tahun ini. Tepatnya, akhir tahun 2014. Lalu pergantian tahun kali ini, Desember 2014 dan Januari 2015, adalah dua bulan terakhir dengan terlalu banyak muatan insiden khusus.*

Ini dia 24 pelajaran yang saya ambil, dan sampai saat ini saya masih berdoa semoga saya lulus, tak perlu mengulang pelajaran yang sama di tahun ini..

  • Berdoa tidak sama dengan mendikte.
  • Ketika menginginkan sesuatu, coba tanya pada diri sendiri, apa inti dari keinginan itu? Mengapa menginginkan hal itu? Apakah harus persis seperti itu, seperti yang dibayangkan dalam otak yang lagi-lagi dijajah hati yang terbolak-balik?
  • Otak manusia, secanggih apapun, sebenarnya “cuma” barang ciptaan. Sang Pencipta otak, tentunya lebih canggih dan lebih Maha Tahu. Pada saat yang tepat, tanpa disadari, keinginan terdalam seorang hamba sedang dalam proses untuk menjadi nyata. Seringkali dalam cara yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Cara yang benar-benar berbeda dari bayangan otak si empunya. Berbeda, karena ia jauh lebih baik, lebih tepat, lebih pas dengan segala hal lain dalam hidup.
  • Terkadang, ketika tak ada pilihan yang salah dan tak ada pilihan yang 100% benar, pilihan hidup tidak harus ditentukan oleh diri sendiri. Selalu ada teman baik, dan tentunya Tuhan, yang akan membuatkan pilihan untuk kita. Ini pelajaran yang aneh memang, tapi ada benarnya. Manusia hanya bisa berencana, kan?
  • Perlu kesiapan pada segala konsekuensi pilihan. Ada satu nasihat dari orang yang sudah bosan menonton ketidakmampuan saya membuat keputusan: “If you let someone makes a decision for you, no matter how it turns out, you will ALWAYS regret it.” Jadi solusinya? Ketika ‘dibuatkan pilihan’, pada akhirnya harus ada keyakinan bahwa diri ini juga ikut memilih opsi itu. Resiko apapun yang menyertai setiap pilihan, jika memang harus dialami, jangan menyalahkan pihak lain.
  • Petunjuk dari Sang Penentu bisa muncul dari mana saja. Stay alerted! Buka mata, telinga, hati..
  • Sungguh merugi orang-orang yang merasa lebih benar daripada orang lain, atau bahkan paling benar dibandingkan siapapun di dunia ini.. Niscaya mereka tidak akan berkembang dan melewatkan banyak pelajaran berharga.
  • Menjadi selfless ternyata tidak semudah itu. Dalam hal ini, mencoba memikirkan kebutuhan/kepentingan orang lain melebihi keinginan pribadi; meskipun terkadang orang tersebut tak menyadari kebutuhannya sendiri. Seperti kata pepatah indian, Don’t judge a man until you’ve walked two moons in his moccasins. Eh, mungkin pepatah ini kurang tepat, tapi yah, cobalah melihat segala sesuatu dari berbagai sudut pandang, lalu nilai sendiri.
  • Dalam menentukan pilihan super penting yang berkaitan dengan masa depan, jangan terlalu banyak melibatkan unsur rasa. Bahkan hilangkan unsur ini sepenuhnya, jika bisa. *credits to my dearest friend, Faiza* Perasaan manusia begitu erat dengan emosi. Emosi, suasana hati, begitu mudah berubah dan bukan satu hal yang mutlak. Jika keputusan penting berdasar pada hati, probabiliti penyesalan di masa depan akan lebih besar, dibandingkan keputusan yang didasari oleh rasio. Cinta tak kenal logika, mungkin benar. Tapi jangan lupa, rasa benci yang berlebihan juga biasanya tak pakai logika.
  • “Kata hati nurani” belum tentu berupa petunjuk dari Dia Yang Maha Bijak. Terlalu banyak gelombang siaran berseliweran dalam dunia metafisik nurani. Apakah hati ini sudah satu frekuensi dengan gelombang Sang Pencipta? Sudah sedekat mana? Kalau belum dalam frekuensi yang sama, boleh jadi masih ada gelombang siaran illegal yang menyelusup ke sana, katakanlah, dari spesies non-fisik yang ingin menjauhkan kita dari frekuensi yang benar.
  • Tak ada salahnya menjadi ‘dependent’, tapi jangan jadikan gender sebagai alasan untuk tidak menjadi manusia yang independent. Walaupun independent tidak selalu lebih baik daripada dependent. Sama halnya pria tak selalu lebih baik dari wanita..
  • Belajar psikologi itu bukan cuma berguna bagi para calon profesional dalam menangani orang-orang yang hampir gila; ada kalanya pengetahuan ini sangat praktis untuk kehidupan sehari-hari. Teori Millon, satu jenis klasifikasi yang cukup menarik. Nama teorinya juga hampir sama dengan nama orang yang ngajarin saya di bidang ini. :p
  • Hindari kebergantungan pada hal-hal artifisial. Lebih penting lagi, jangan biarkan hal-hal palsu yang rentan kerusakan jadi ‘branding’ diri sendiri. Perkaya diri dengan hal-hal yang lebih bermakna, lebih tahan lama, dan tidak mungkin dicuri orang. Misalnya? soft skills, wawasan,.. yang sering ikut self-improvement training pasti udah taulah ya.
  • Setiap diri adalah sebuah perusahaan. Mulai saat ini, bahkan sejak manusia dipandang cukup dewasa untuk memutuskan sesuatu, setiap orang memikul beban untuk ‘branding image’ masing-masing perusahaan. Semacam one-man show, bisa jadi. Ini nasihat cukup tua yang saya dapat dari dosen wali semasa kuliah S1. Terima kasih, Pak Pras yang baik dan bijaksana.
  • Nothing Lasts Forever. Tidak ada yang abadi. Jangan terlalu bergantung pada sesuatu yang mortal dan fana di dunia ini, atau kau akan kecewa, bahkan mungkin depresi parah dan kehilangan arah. Klise, ya saya tahu. Tapi ada lebih dari satu peristiwa yang saya alami kali ini, yang memaksa saya menyadari kalimat ini lagi, kali ini sampai meresap ke ulu hati (entah kenapa istilah ini hanya muncul dalam ekskul karate), lebih dari apapun sebelumnya. Mungkin selama ini saya berjalan terlalu jauh dan melupakan ajaran ini. Dan ketika diingatkan tentang kebenaran, bukankah kita sepatutnya berterimakasih?
  • Keajaiban itu nyata. Sebagai orang yang beriman—orang yang percaya—yakinlah! Jangan menyerah. Keajaiban akan datang, jika ia memang harus datang.
  • Hidup akan lebih bahagia ketika hal-hal kecil dan remeh temeh disadari dengan sepenuh hati dan disyukuri. Lame advice? Ya, mungkin. Tapi mudah untuk dipraktekkan, betul?
  • Kebahagian setiap orang itu berbeda. Tak ada gunanya membandingkan kebahagiaan orang lain dengan kisah hidup diri pribadi, yang sebenarnya juga bahagia dalam konteks tersendiri.
  • Jangan samakan kepuasan dengan kebahagiaan. Manusia tidak akan pernah puas, sementara bahagia itu sederhana.
  • People always talk about how love is this totally unselfish, giving thing, but if you think about it, there’s nothing more selfish. Iya, cinta yang sering disebut-sebut di cerita-cerita roman picisan itu memang egois. Silakan dibuktikan sendiri. Dan ini bukan si cintanya rangga yang baru ketemu setelah 12 tahun.. Masih inget Jesse, cowo yang (dulu) masih muda di film Before Sunrise? Ya, ini kata-katanya dia.
  • Merasa membuang-buang waktu karena berbagai pertimbangan rempong yang ga ada habisnya? Berhenti berpikir. Lakukan. Seringkali, meminta maaf karena “kesalahan teknis” lebih gampang daripada “meminta izin” sebelum melakukan sesuatu. Yah, nasihat ini cuma berlaku untuk hal-hal yang sudah benar secara prinsipil.
  • Seperti yang saya tulis dalam tulisan sebelumnya, 2 π radius, manusia adalah makhluk hipokrit. Ketika disakiti orang lain, maunya protes, marah, atau nangis meraung-raung. Padahal ‘menyakiti diri sendiri’ itu aktivitas kegemaran sehari-hari. Aneh tapi biasa. Seperti kecanduan Justin Timberlake nyanyi Still on My Brain di saat patah hati. Kesakitan non-fisik, umumnya adiktif. Mungkin saya belum lulus juga dalam hal ini.
  • Ketika suatu pelajaran sudah diketahui, tapi tidak diaplikasikan dalam hidup, silakan bersiap-siap. Akan ada satu masa dan peristiwa yang mengubah status manusia dari ‘tahu’ menjadi ‘paham’.. yang terkadang melibatkan hal-hal dramatis, mungkin juga darah dan air mata.
  • Sadari semua ‘pelajaran hidup’, termasuk 23 poin di atas**, sebelum terpaksa mempelajarinya dari pengalaman pribadi. Tapi jika memang harus mengalami langsung sebuah pelajaran, meskipun itu pahit, bukankah akan jauh lebih berharga? Layaknya medali yang didapat dengan susah payah, pelajaran berharga yang didapatkan setelah bersusah-susah akan lebih melekat di hati.

image

Akhirulkalam, billahitaufiq walhidayah. Demikian kukulutus—kumpulan kutukan lumayan tujuh sks—yang sungguh masih dipertanyakan kebenarannya. Mari kita tutup dengan doa akhir majelis, mohon ampun 3x, dan hamdalah 152x. Aaaamiin.


*Maaf, saya tidak banyak ‘membahas peristiwa’ dalam tulisan ini. Silahkan intip diary pribadi saya, jika dan hanya jika Anda benar-benar ingin tahu. Percayalah, keingintahuan Anda akan saya apresiasi dengan sungguh-sungguh, “dalam tempoh yang sesingkat-singkatnja” seperti kata mendiang Bung Karno.
**Terima kasih untuk pembaca budiman yang rajin menghitung keduapuluhempat poin di atas, Anda memang anak yang berbakti pada nusa bangsa dan tanah air dunia scepticism. Dunia butuh lebih banyak orang seperti Anda!

2 thoughts on “24

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s