bahasa indonesia · fiksi

beruang

Alkisah, jauh di pinggiran lembah Silikon, hiduplah keluarga beruang. Rumah keluarga beruang cukup mungil, di pinggir jalan yang sempit, yang bermuara di jalan yang kecil pula.

Keluarga beruang cukup bahagia, sebagaimana keluarga-keluarga lainnya yang tinggal di Perumahan Mini. Papa beruang pendiam dan suka bekerja, Mama beruang cerewet dan suka berkebun, Kakak beruang penyabar dan suka melukis, sedangkan Adik beruang pemarah dan suka memasak.

Keluarga beruang cukup bahagia, tapi rumah mungil mereka jauh dari rumah Kakek beruang, Nenek beruang, Oma beruang, dan Opa beruang. Rumah mereka sangat jauh, sehingga keluarga beruang harus mendaki gunung lewati lembah untuk mencapainya. Untuk ke rumah kakek-nenek, mereka harus mengarungi Sungai Cadas dan Sungai Superman, sedangkan rumah opa-oma jauh di seberang Sungai Kesetiaan.

Rumah mungil mereka dikelilingi oleh sawah yang seringkali kering. Air yang keluar dari keran di kamar mandi berwarna jernih, tapi berbau seperti logam yang berkarat.

Meskipun Papa beruang suka bekerja, membeli rumah di lembah Silikon bukanlah perkara mudah. Lembah ini sangat terkenal di dunia beruang internasional. Setiap sentimeter tanah yang bisa dibangun rumah, pasti sudah dimiliki beruang random entah siapa itu. Berusaha membeli rumah di tengah lembah, sulitnya sama seperti mencoba membangun kastil dari butiran debu. Sesuatu yang mungkin saja dilakukan, tapi perlu kesabaran, keahlian, keberuntungan, dan ketekunan yang tidak biasa.

Hingga suatu hari, Tante beruang memberi kabar gembira.. bukan untuk kita semua, tapi untuk keluarga beruang. Salah satu tetangga yang tinggal di kompleks rumah Tante beruang akan pindah. Rumahnya akan dijual.

Tiba-tiba semuanya jadi terang. Seperti menemukan potongan puzzle terakhir yang tersembunyi di balik karpet. Segalanya menjadi jelas. Mama beruang tak pernah bermimpi memiliki rumah di kompleks yang sama dengan Tante beruang. Ini pasti mukjizat. Keluarga beruang akan pindah. Dan rumah mungil di Perumahan Mini itu harus dijual.

Seandainya keluarga beruang punya mesin waktu yang bisa membawa mereka ke masa depan, tentu Papa dan Mama beruang akan mencari jalan keluar lain selain menjual rumah mungil mereka dan pindah begitu saja. Karena seandainya mesin waktu itu ada, mereka tahu, ini bukanlah kabar gembira. Ini semacam Kuda Troy, hadiah berisi pasukan musuh yang menusuk dari dalam. Tapi seperti yang kita semua tahu, mesin waktu hanyalah khayalan yang terlalu indah untuk jadi nyata.

Rumah Tante beruang berada di dalam Sarana Perumahan Beruang Unggul, atau biasa disingkat SPBU. SPBU itu sangat indah, dan terjamin keamanannya. Selalu ada beruang penjaga 7 hari seminggu dan 24 jam sehari. Jalan-jalannya mulus dan besar, di pinggir jalannya pun banyak pepohonan dan bunga-bunga indah. Udaranya bersih, dan yang terpenting, masih ada air tanah yang jernih dan tidak berbau seperti besi berkarat disana. Selain Tante beruang, ada banyak kerabat keluarga beruang yang tinggal di dekat sana, baik di dalam SPBU maupun di daerah sekitar SPBU. Tidak seperti kehidupan terpencil di Perumahan Mini di tepian lembah Silikon, keluarga Beruang hanya perlu berjalan kaki untuk mengunjungi kerabat-kerabat terdekat jika tinggal di SPBU, termasuk rumah kakek-nenek dan oma-opa beruang.

Berdasarkan semua iming-iming ini, Papa dan Mama beruang tidak berpikir dua kali untuk membeli rumah tetangga Tante beruang, meskipun rumah itu sungguh terlihat seperti rumah hantu. Perlu waktu lama dan biaya yang tidak sedikit untuk menyulap rumah itu menjadi rumah impiah keluarga beruang.

Tapi itu bukan masalah utama disini. Ada satu hal penting yang diketahui semua beruang ketika mendengar SPBU: Tidak sembarang beruang bisa memiliki rumah di SPBU. Rumah-rumah di SPBU hanya boleh dimiliki dan diperjualbelikan oleh beruang unggul.

Tidak ada satupun anggota keluarga beruang yang termasuk beruang unggul. Bukan karena tidak bisa. Menjadi beruang unggul itu adalah takdir, tapi juga pilihan. Beruang biasa harus memasuki akademi khusus yang menjadikan mereka beruang unggul. Ada batas umur dan kriteria fisik tertentu untuk bisa masuk akademi. Pendidikannya keras, dan bertahun-tahun. Tidak semua beruang sanggup menjadi beruang unggul.

Pada jaman dahulu, pekerjaan beruang-beruang unggul ini pergi berperang membela negara. Jaman sekarang, tidak banyak perang yang terjadi. Jadi, sekarang mereka sangat sibuk menyuapi, menakuti, dan menguasai beruang lainnya.

Tapi keputusan Papa dan Mama beruang sudah bulat. Mereka percaya, selalu ada jalan keluar dari semua permasalahan.

Memang betul. Masih ada beberapa beruang unggul lainnya di kalangan kerabat keluarga beruang. Salah satunya Paman beruang.

Mama dan Papa beruang akhirnya membeli rumah dengan nama Paman beruang.

Paman beruang tidak keberatan. Dia adalah beruang unggul yang baik hati, rajin menabung, tidak sombong, dan berprestasi. Dia adalah satu dari sedikit beruang unggul yang masih pergi berperang di jaman kedamaian ini. Dia bekerja luar biasa jauhnya dari Lembah Silikon, di Pulau Tembaga yang terpisahkan puluhan pulau dan laut di seberang sana.

Keteguhan dan kerja kerasnya membuahkan hasil yang manis. Ia pulang ke Lembah Silikon dengan memegang komando tertinggi di lembah itu. Ia tinggal di rumah terbesar dengan halaman terluas, bersama istrinya yang cantik seperti Artis beruang dan anaknya yang lucu.

Keluarga beruang ikut berbahagia dengan kepulangan Paman beruang ke lembah Silikon. Bagaimanapun, mereka berhutang budi pada sang Paman. Keluarga beruang berhasil memperbaiki rumah hantu itu menjadi rumah impian mereka pada beberapa tahun pertama sejak mereka menjual rumah mungil di Perumahan Mini. Namun, hal pertama yang disampaikan Paman beruang ketika bertemu dengan keluarga beruang sungguh mengejutkan.

Ia meminta keluarga beruang untuk pindah rumah.

Masih ingat dengan analogi sulitnya membeli rumah di lembah Silikon? Hari ini, ketika Paman beruang meminta keluarga beruang untuk pindah dari rumah mereka di SPBU, kurang lebih satu dekade sudah berlalu.

Hari ini, sulitnya membeli rumah dalam waktu singkat sama seperti mencoba membangun kastil dari butiran upil unicorn.

Lalu, bagaimana nasib keluarga beruang selanjutnya? Sanggupkah mereka mencari solusi dari permasalahan hidup yang kejam di tengah lembah Silikon?

Marilah sejenak kita berdoa supaya keluarga beruang bisa mencapai happy ending yang telah mereka nantikan.

Mengheningkan cipta dimulai.

Advertisements
bahasa indonesia · fiksi

Satire

Halo, apa kabar?

Ini aku, orang yang ingin kamu sapa kemarin.

Namaku? Ah tidak penting.

Untuk apa berusaha keras mengingat sesuatu yang tidak signifikan seperti sebuah nama..

..apalagi namaku.

.

Yang penting, kamu ingat wajahku, kan?

Ya, aku orang yang itu,

yang berwajah lugu,

yang selalu menyimak baik-baik semua ceritamu yang biasa-biasa saja,

yang sering berusaha masuk ke dalam percakapanmu yang kelihatannya seru.

Entah tawamu yang nyaring, entah nada tinggi suaramu, entah lengkung senyummu yang setengah hati,

yang akhirnya memaksaku mengangkat alis. Mungkin ketiga-tiganya.

.

Mau kuberi tahu sebuah rahasia?

Jujur saja, aku yakin kau ingat namaku..

..dan aku ingin berterimakasih atas segala upayamu selama ini. Analisis dari beragam hasil karyamu mengerucut menjadi 3 poin kesimpulan:

  1. kau selalu memikirkanku setiap hari
  2. kau selalu memimpikanku setiap malam
  3. jantungmu berdebar-debar setiap melihatku

Tahu darimana, katamu?

Kau selalu menitipkan pesan nasihat berbalut gertakan melalui orang-orang di sekitarku, menyebarkan tuduhan tak berdasar tentangku, dan kau selalu menjadi yang terdepan dalam bereaksi atas setiap kesalahan terkecilku.. wah, aku pasti sangat istimewa buatmu. Sungguh terhormat rasanya bisa menempati daftar hal-hal penting yang mengisi pikiranmu sehari-hari.

Kau nyaris tak pernah bisa bicara dengan cara normal padaku, seperti demonstran dari pihak korban pembantaian terhadap pendosa. Seolah aku memang berhasil menghancurkan hidupmu berkali-kali. Mungkin memang benar terjadi, dalam mimpi-mimpi burukmu.

Dan kau selalu mengindari tatapan mataku, seolah menyembunyikan sesuatu.. kalau menurut teoriku ya, kau pasti terlalu deg-degan untuk menatap mataku lurus-lurus. Apa kau takut penyakit kejiwaanmu terbongkar? Sudah terlambat, aku tahu kecepatanmu menumpuk kebencian dan amarah terhadap orang tak dikenal sungguh luar biasa. Jika dijadikan cabang olahraga baru di olimpiade, kau pasti dapat medali emas.

Yeah, aku tahu semuanya. Hebat kan?

.

Dan setelah semua huru-hara ini, aku tetap tak ingin membencimu.

Meskipun tawaran itu begitu menggiurkan..

Di satu sisi aku mengasihanimu,

Ah, tapi siapalah aku ini, sok- sok mengasihani orang lain, eh?

Aku hanya seorang bocah manja, tak punya kekuatan super sepertimu.

Hanya rakyat jelata, yang tak bisa dibandingkan dengan manusia perkasa yang serba bisa.

Lihat,

mataku tak bisa mengeluarkan sinar laser seperti matamu!

.

Sayangku, aku tidak akan meminta maaf untuk berbicara apa adanya.

Bukan berarti selama ini aku bermuka ganda seperti double-tape,

hanya saja aku tak setega itu menghancurkan harga dirimu di depan umum.

Tapi ngomong-ngomong, harga diri itu apa ya?

Atau pertanyaannya, berapakah harga diri itu?

Apakah lebih murah dari keingintahuan tentang urusan orang lain?

Oops, maaf, sebagai orang yang tidak mengenal konsep dan arti harga diri, tak sepantasnya aku berusaha tawar-menawar soal harga.

Toh murah dan mahal itu relatif, tergantung siapa pembelinya!

Selamat malam, sampai jumpa dalam mimpi terburukmu~

.

P.S: Tidak, aku bukan pengidap skizofrenia, hanya memilih apa yang ingin aku percayai–terlepas dari apa yang kau ingin aku percayai, bahkan dari apa yang sebenarnya terjadi.. Sungguh terkadang kebodohan itu anugerah.

bahasa indonesia · fiksi · music

Boy In A Rock And Roll Band

illustrasi 'boy in a rock n roll band'

How deep is your ocean?
How high is your sky?

I’d love to put our love into motion
But I’d have to ask myself why

255 following. 5556 followers. Jumlah angka yang disebut pertama tidak banyak berubah, tapi kelompok angka yang kedua.. rasanya ia tak ingat pernah melihatnya sebanyak itu. Tanpa sadar, alisnya sedikit terangkat dan kedua matanya melebar, sementara sudut-sudut mulutnya terangkat pula. Ckckck. Hebat. Kau semakin terkenal. Itu frasa yang dipikirkannya, ingin diucapkannya, namun takkan pernah tercetak dalam timeline itu. Tidak untuk sosok yang berpose angkuh pada layar di hadapannya.

Lelaki itu bermandikan lampu sorot. Lelaki itu memandang dunia melalui cuping hidungnya yang terangkat tinggi. Lelaki itu mengatupkan mulutnya erat seakan enggan menghamburkan napasnya yang berharga di bumi yang ternoda.

Oke, yang terakhir itu bohong. Tapi tetap saja. Lelaki itu.. demi apapun juga, bukan siapapun yang ingin ia jadikan teman selama sisa hidupnya. Hahaha! Bicara blak-blakan dan melankolis! Betapa ia membenci saat dirinya berada dalam suasana hati semacam ini. Saat jemarinya secara refleks mengarahkan cursor ke kolom search, lalu mengetikkan nama yang sejak lama tersimpan dalam rekaman pencarian—saking seringnya nama itu terpampang disana. Ya, nama lelaki itu. Betapa ia tahu bahwa tidak seharusnya ia melakukannya. Lalu betapa segala hal di sekelilingnya selalu mengkhianati akal sehatnya.

Why do I adore you?

Karena ia merasa begitu konyol. Lemah. Kalah dalam peperangan. Omong-omong, perang melawan apa? Perang biasanya terdiri dari beberapa sumbu kekuatan yang menyadari perannya masing-masing, yaitu sebagai perebut kemenangan. Jika hanya ada satu pihak yang melakukannya, well.. silahkan kau makan kemenangan egoismu itu sampai puas. Takkan ada yang protes. Karena tak ada yang terjadi, karena perang tak terjadi.

But baby, sometimes I forget

That I can’t tell ya how to live your life
But I know how to live mine

Lalu apa yang harus disesali? Bukankah mereka selalu berteman baik? Ia tak pernah lupa mengucapkan selamat hari lahir selama enam tahun berturut-turut, dan ia selalu disambut dengan suara ramah yang khas setiap kali ia menelepon lelaki itu.. Meskipun setiap kali, lelaki itu selalu gagal mengenali suaranya. Meskipun setiap kali itu pula ia harus selalu berusaha mengingatkan lelaki itu tentang kenangan-kenangan mereka. Semua kenangan yang penting. Semua detail yang manis.

Ketika belum terlalu banyak orang mengenal lelaki itu seperti sekarang. Ketika mereka mengobrol bersisian di hadapan deretan keping dvd yang memenuhi lemari dari ujung ke ujung. Ketika ia menuliskan surat berlembar-lembar bersama bingkisan hadiah hari lahir. Ketika mereka saling bertukar kabar yang sebenarnya tak penting, tapi tetap mereka lakukan selama berhari-hari. Ketika ia meminta lelaki itu membalas surat-surat yang pernah ia kirim, surat-surat yang tak pernah ia tulis untuk siapapun sebelumnya. Ketika ia begitu bahagia hanya dengan mendengar ucapan terima kasih, atau pesan-pesan singkat yang menanyakan kabarnya. Ketika lelaki itu tersenyum ramah sambil mengulurkan tangan ke arahnya, di tempat pertama kali mereka bertemu, namun jemarinya begitu mati rasa hingga ia tak pernah menyambut uluran tangan itu—hanya kedua tangan yang tertangkup dan ekspresi wajah yang berusaha memancarkan kadar keramahan yang sama..

Lalu ia sadar hanya dirinyalah yang memerhatikan semua itu, mencatat semuanya dengan baik, untuk kemudian ia ceritakan lagi dalam percakapan-percakapan singkat yang hanya terjadi setahun sekali. Dan setiap tahun percakapan mereka semakin sederhana dan efisien. Tahun ini, ia mengucapkan ‘selamat’. Kemudian lelaki itu mengucapkan ‘thanks’. Selesai.

Well, I forget I’m a lady
I’ve had too much wine

Ada satu bagian dalam dirinya yang berteriak. Mengguncang nalar rasionalnya agar tersadar. Benarkah mereka saling mengenal dengan baik? Benarkah ia mengenal lelaki itu dengan baik? Ataukah selama ini ia hanya memuja sosok yang ia ciptakan dalam kepalanya..?

Namun ada satu bagian lain yang takkan pernah berubah. Bagian yang selalu ingin tahu. Bagian yang selalu membuat skenario pertemuan-tanpa-sengaja-yang-tak-pernah-terjadi. Bagian yang selalu mengetik namanya. Bagian yang terlalu percaya pada dongeng. Ia selalu menunggu, ketika tiba saatnya ia terlalu sibuk dalam lautan aktivitas, mencapai aktualisasi dirinya, dan memvisualisasi sesuatu yang lebih penting daripada skenario bualan. Ketika saat itu tiba, entah kapan, ia yakin bagian kekanak-kanakan itu akan hilang.

Nyatanya bagian itu seperti kanker. Bagian itu selalu bercokol disana, di suatu sudut dalam dirinya. Menunggu dalam diam. Mematikan.

Untunglah saat ini ia belum sekarat. Matanya masih bisa melihat dengan jelas. Membaca kata-kata tak penting dalam timeline yang sudah terlalu sering ia kunjungi. Tangannya masih bisa bergerak dengan lincah. Memutar scroll di tengah-tengah mouse dalam genggamannya, saat sebuah tulisan di dekat cursornya tampak begitu menarik..

Matanya masih bisa melihat dengan jelas. Memandangi angka-angka di pojok kanan atas. Memahami dirinya ada di antara ribuan. Namun entah bagaimana dan entah karena alasan apa, ia tak pernah ada di antara ratusan. Lalu cursornya bergerak ke sebuah persegi panjang biru di puncak angka-angka menyedihkan itu. Sesaat kemudian benda itu menjadi merah.

But I swore I would never fall in love
With a boy in a rock & roll band

255 following. 5555 followers. Selamat tinggal. Berterimakasihlah padaku. Kau dapat angka cantik!

-FIN-

(Author Notes: Taa-Daa! A songfic I made from a song titled ‘Boy In A Rock And Roll Band’ by The Pierces. So, what do you think?)


bahasa indonesia · fiksi

Teman (bagian III)

Sebelum melahap tulisan ini, silakan baca cerita sebelumnya:
Teman (bagian I)
Teman (bagian II)

Tulisan ini 100% fiktif. Hanya terjadi di dalam kepala saya dan tidak mengacu pada kejadian nyata. Kesamaan nama orang, inisial, tempat, atau nama lainnya bukanlah hal yang disengaja dan tidak ada hubungannya dengan objek yang sebenarnya.

      MM: Dengar, meskipun aku ditakdirkan menjadi kanibal, aku tak akan memakanmu.
      RR: Benarkah?
      MM: Yep.
      RR: Sekarang, bayangkan kita berdua terjebak di pulau terpencil yang tandus tanpa makanan sama sekali. Kau masih yakin?
      MM: Umm.. Yah, itu mungkin pengecualian.
      RR: Heh.
      MM: Haha. Just kidding! Maksudku jika aku jadi kanibal, dimanapun itu terjadi. Aku takkan memakanmu.
      RR: Oh.
      MM: Kau tak ingin tau kenapa?
      RR: Tidak.
      MM: Hmph. Walaupun tak ingin tahu, harusnya kau jawab ya! Setidaknya untuk kesopanan, kau tanya “kenapa” apa susahnya? Kalau terus begini orang akan menganggapmu tak punya empati!
      RR: Oke. Ehem. Kenapa kau tak mau memakanku?
      MM: Huh, Terlambat. Sekarang jawabannya sudah expired. Aku tak mau membicarakan itu lagi.
      RR: Kalau kau tak mau menjawab, untuk apa kau memintaku bertanya? Aneh.
      MM: Terserah kau bilang apa, aku tak mau berdebat. Aku lelah, dan membicarakan makan-memakan membuatku lebih lapar. Aku pesan makanan dulu.
      RR: Tunggu. Kau mau pesan apa?
      MM: Apapun. Aku mau lihat-lihat konter thailand cuisine di sebelah sana.
      RR: Memangnya kau bisa makan makanan-makanan itu?
      MM: Kenapa tidak? Aku tak pilih-pilih soal makanan.
      RR: Pesan makanan thailand?
      MM: Yep. Batagor.
      RR: ?! Sejak kapan batagor jadi masakan thailand?
      MM: Mungkin orang thailand juga suka memakannya. Entahlah. Omong-omong, kau masih ingat wanita yg tadi kubilang mencurigakan?
      RR: Yang mana?
      MM: Wanita yang tadinya kukira temanmu, yang memakai mantel kulit & syal, yang duduk di sebelah sana.. Jangan melihat ke arahnya! Kalau mau melihatnya, kau harus sambil pura-pura melakukan sesuatu, misalnya sambil melamun atau mencari pelayan yang lewat..
      RR: Wanita yang berkacamata 80’s itu? Kelihatannya dia sedang membaca koran. Apanya yg aneh?
      MM: Aku yakin dia cuma pura-pura. Jelas sekali dia memperhatikan kita! Tadi saat aku berjalan ke arah konter thailand, dia mengikutiku. Padahal ada banyak konter makanan yang lebih terkenal di dekatnya, kenapa harus jauh-jauh ke konter thailand? Sangat mencurigakan.
      RR: Sebaiknya kau ngaca dulu sebelum bicara. Kegiatan yang kau bilang mencurigakan itu persis yang baru saja kau lakukan, ingat?
      MM: Dengar dulu, aku belum menceritakan bagian terpenting! Saat aku mau memesan, tiba-tiba saja dia mengajakku bicara. Dia bilang, “Kudengar tomyam menu terbaik disini. Kau harus mencobanya”
      RR: Kenapa tidak?
      MM: Apa kau gila? Mungkin saja dia bersekongkol dengan koki yang memasak tomyam & memasukkan racun ke dalamnya. Bisa saja kan?
      RR: Lalu bagaimana kau bisa yakin batagor tidak diracun?
      MM: Aku tak yakin, tapi aku bisa mendeteksinya. Batagor kan tidak berkuah. Air bisa mengacaukan inderaku.
      RR: Kau bisa mendeteksi racun? Whoa, kau canggih juga.
      MM: Biasa saja kok. Banyak orang yang bisa melakukannya. Hei, kenapa sekarang kau jadi banyak bertanya?
      RR: Well, mungkin karena kau sangat menyenangkan sebagai teman bicara?
      MM: HA-HA.
      MM: Yay! Akhirnya pesananku datang! Tunggu. Aku tak pesan minuman ini..
      MM: Kata pelayan itu minuman ini gratis karena aku pelanggan yang ke-1000 sejak konter itu dibuka.. Tapi terlalu kebetulan. Mencurigakan.
      RR: Apa lagi yg mencurigakan?
      MM: Hmm.. mungkin saja wanita itu yang membelinya..
      RR: Ck ck ck. Dari paranoid, sekarang kau jadi ge er. Sini buatku saja.
      MM: Eits, jangan! Nanti kau kena racun. Kuperiksa dulu. Tapi sebelumnya aku mau makan..
      RR: Kau benar-benar bisa makan itu?
      MM: Kau aneh sekali. Aku pesan batagor biasa ko. Bukan makanan aneh.
      RR: Cuma ingin memastikan.
      MM: Kau mau kepastian? Perhatikan, sekarang aku coba dulu satu sendok..

RR – Recipient : Ray
MM – Machine : Marion_v3.1
CONFIDENTIAL. Copyrighted by Tomodachi, Inc. All rights reserved.

      Ray membaca tulisan pada lembar demi lembar di tangannya sekali lagi, seolah memastikan tidak ada satupun titik maupun koma yang terlewat olehnya.
      “Rekaman percakapan ini bisa Anda miliki. Kami sudah memiliki salinannya dalam memori Marion_v3.1.”
      Suara itu milik wanita berkacamata ala 80’s yang kini duduk di depannya, di seberang meja di hadapannya. Suara bening yang tipis, nyaris seperti percikan air es, menarik Ray kembali ke dunia nyata setelah pikirannya berkelana beberapa saat lalu.
      “O.. Ohm, terima kasih”
      Tenggorokannya terasa kering. Beberapa menit yg lalu—tidak, mungkin hanya beberapa detik yg lalu—ia yakin dirinya tidak berada di ruangan ini, duduk di atas kursi keras ini. Meskipun bagian sebelah kiri otaknya samar-samar mencoba mengingatkan bahwa ia sama sekali tidak beranjak kemana-mana sejak tadi..
      “Kami sangat berterimakasih atas kesediaan Anda menjadi Recipient dalam rangkaian program uji release produk terbaru kami. Kami mohon maaf atas kekeliruan prediksi waktu yang kami informasikan, kami harap Anda dapat memakluminya.. Anda telah menjalani simulasi di ruangan ini satu jam melebihi durasi yg kami perkirakan. Oleh karena itu Marion_v3.1 beralih ke moda auto non-aktif. Produk ini,”
      Lengan berbalut mantel kulit itu bergerak ke arah sosok lain yang terduduk kaku di sampingnya.
        “..belum dilengkapi dengan energy-converter, sehingga tidak dapat mengisi energi melalui makanan manusia. Namun untuk keadaan darurat Marion_v3.1 ini telah dikembangkan agar dapat mengambil energi dari air atau makanan yang mengandung banyak air. Secara normal butuh waktu 700 menit untuk mengisi energinya hingga penuh sekaligus menginstall ulang memori dan karakter yang di sesuaikan dengan recipient.. Ah. Mohon maaf. Saya menjelaskan hal-hal yang pastinya sudah Anda ketahui..”
        Wanita itu mencondongkan tubuh hingga ujung lipatan syal yg melingkari lehernya nyaris menyentuh meja, seraya menyodorkan sehelai kartu.
        “Jika Anda berminat untuk memiliki produk ini, kami menyediakan potongan harga khusus selama akhir tahun. Ada banyak alternatif dan varian yang kami produksi, namun sejauh ini Marion_v3.1 adalah friend robot yang paling mutakhir..”
      Suara bening wanita itu terdengar semakin jauh, seperti siaran radio di tengah badai pasir. Ray mencoba fokus, namun wajah sosok kaku di samping wanita itu terasa begitu mengganggunya. Tanpa sadar matanya mencari sisa-sisa ekspresi familiar di wajah yang kini terasa begitu asing ketika membeku sedemikian rupa..
      Benarkah dirinya sudah berada disini selama berjam-jam? Corak wallpaper di hadapannya masih sama. Konter masakan Thailand masih berada di pojok sana. Sepiring batagor yang terabaikan masih tergeletak di atas meja.. Lalu tiba-tiba saja ruangan kafetaria ini terasa luas. Begitu lengang dan dingin.
        Kosong.
          Hanya sayup-sayup suara bening dan barisan huruf-huruf yang begitu mencolok, digrafir pada selembar kartu mungil:

TOMODACHI, Inc. 

‘Because We Are Social Creatures

a La Fin

bahasa indonesia · capruk cacat · fiksi

Teman (bagian II)

Sebelum melahap tulisan ini, silakan baca cerita sebelumnya:
Teman (bagian I)

Tulisan ini 100% fiktif. Hanya terjadi di dalam kepala saya dan tidak mengacu pada kejadian nyata. Kesamaan nama orang, inisial, tempat, atau nama lainnya bukanlah hal yang disengaja dan tidak ada hubungannya dengan objek yang sebenarnya.

RR: Kita ganti topik, yuk? Bosan ‘kan?

MM: …

MM: Oke! Kita ganti topik. Sekarang, kau jawab: teman bisa dimakan tidak?

RR: What?

MM: You heard me.

RR: Kamu serius nanya itu? Itu sama sekali bukan..

MM: Aku serius. Aku pernah dengar orang ‘makan teman’. Maksudnya apa?

RR: Baiklah, tapi sebelumnya aku ingin memastikan sesuatu. Aku tak tahu kau biasanya makan apa, tapi selapar apapun kondisimu, please, jangan makan manusia. Mengerti?

MM: Iyaa. Aku bertanya bukan karena lapar!

RR: Kita manusia seharusnya tidak memakan teman. Meskipun sebenarnya bisa. Sangat bisa.

MM: Kau punya teori bahwa manusia kanibal?

RR: Secara alami tidak. Tapi banyak yang melakukan hal-hal yang lebih mengerikan. Mereka memakan teman dengan cara memakan kepercayaan, harapan, ketulusan, ikatan persaudaraan..

MM: Bagaimana mereka memakan hal-hal itu?

RR: Banyak cara. Ketika manusia berteman, bersahabat, atau lebih dekat lagi hingga seolah-olah mereka bersaudara; mereka memang semakin kuat karena saling mengisi, melengkapi, mendukung..
Namun secara individu mereka tidak setangguh itu. Sahabat terbaik seseorang adalah musuh terbesar bagi dirinya. Karena begitu mencintai sahabatnya, seseorang dapat menjadi begitu rapuh.
Tidak ada lagi rahasia. Yang ada hanyalah ketulusan dan kepercayaan.
Bisa kaubayangkan, setitik pengkhianatan akan menghancurkan seorang teman. Melakukannya jauh lebih mengerikan daripada memakan barbeque daging temanmu sendiri..

MM: Jangan melihatku seperti itu. Aku sudah tidak terlalu lapar lagi.

RR: Kau tahu, tidak mudah menjadi teman yang baik. Orang bilang persahabatan sejati itu hanya bisa didapatkan karena anugerah dari Tuhan. Sangat masuk akal, karena tidak mudah mendapatkan hal itu.

MM: Apa kau pernah dimakan?

RR: Maksudmu?

MM: Apa temanmu pernah memakanmu, atau mungkin sebaliknya: kau pernah memakan temanmu?

RR: …

MM: Kau tak perlu menjawab kalau tak mau..

RR: Aku pernah.

MM: Memakan atau dimakan?

RR: Mungkin keduanya. Entahlah. Selalu lebih mudah untuk mengaku pernah disakiti daripada mengaku pernah menyakiti. Pengalaman menyakiti orang biasanya mudah terlupakan, terutama jika kau tak peduli pada orang yang kau sakiti. Sebaliknya, pengalaman disakiti orang lain mungkin akan kauingat seumur hidup..
Banyak orang menyiakan usia dengan menyimpan dendam dan menuntut balas. Bahkan seolah usia dirinya tak cukup, dendam itu lalu diwariskan pada anak cucunya.

MM: Apa kau ingat semuanya? Semua pengalamanmu?

RR: Tidak. Aku sangat pelupa. Bahkan aku lupa kau sedang lapar saat ini.

MM: Aargh. Itu artinya kau ingat semuanya, ya kan? Apa memori pertama dalam hidupmu?

RR: Kau duluan yang cerita.

MM: Ah.. tidak bisa, kau jawab sekarang. Karena aku yang tanya duluan. Aturannya aku yang tanya, kau jawab. Tak perlu gilir-giliran.

RR: Whoa. Siap, Gan.

MM: Siapa Gan?

RR: Juragan..

MM: Jadi, bagaimana keadaan waktu kau dilahirkan?

RR: Bukan peristiwa heboh. Tidak ada pesta besar-besaran. Orangtuaku, keluargaku, semua orang biasa. Satu hal yang aku tahu, saat itu akulah satu-satunya manusia yang menangis, sementara semua orang di sekitarku tersenyum.

MM: Kau benar-benar mengingatnya?

RR: Tidak. Sudah kubilang aku pelupa, kan? Ayahku sering menceritakan kejadian itu. Ia pula yang memintaku berjanji agar saat aku pergi dari dunia ini, keadaannya harus berbeda 180 derajat dari kedatanganku. Saat aku pergi, aku harus menjadi satu-satunya orang yang tersenyum sementara semua orang di sekitarku menangis.

MM: Dan kau benar-benar berjanji padanya?

RR: Yah, saat aku kecil, kupikir itu mudah saja. Aku cukup menyiapkan gas sensasi irisan bawang atau gas air mata sesaat sebelum aku mati. Selesai. Problem solved.
Tapi, semakin dewasa, aku sadar permintaan ayahku itu tak masuk akal. Disamping fakta bahwa aku tak tahu kapan dan dalam kondisi apa aku akan mati..

MM: Yeah, aku mengerti sekarang. Dia memintamu menjadi seorang teman yang baik.

RR: Salah. Dia memintaku menjadi teman yang baik bagi semua orang. Itu konyol. Manusia di dunia ini punya beragam kepentingan dan kepercayaan. Lalu aku berusaha menjadi teman bagi mereka semua? Kalau bukan penjilat, aku akan menjadi hipokrit.

MM: Kupikir ayahmu hanya ingin kau menjadi teman yang baik..

RR: ..yang tak mungkin terwujud. Apalagi sekarang ini, setiap orang terlalu mudah curiga pada orang lain. Bukan hal yang salah, mengingat semakin banyak kasus kriminal dalam berbagai modus penipuan super kreatif. Semua orang diajarkan agar tidak mudah mempercayai orang lain. Trust no one, that’s the second rule in running man game..

MM: Tapi kau bisa menjadi teman yang baik bagi semua orang dengan cara melakukan yang terbaik dalam hidupmu! Ketika kau menjadi ahli dalam sesuatu, kau dapat membantu orang-orang di sekitarmu.

RR: Itu berbeda..

MM: Apanya yang berbeda? Coba pikirkan lagi! Kau terlalu pesimis. Padahal aku tahu kau bisa melakukannya.

RR: Jangan sok tahu, kau tak mengenalku sebaik itu.

MM: Tentu saja aku mengenalmu. Aku sangat mengenalmu dengan baik.

RR: Oh ya?

MM: Ingat, aku temanmu. Kau harus percaya padaku!

RR: Selama kau bukan kanibal, aku percaya.

debe continuar

Segera teleport ke cerita selanjutnya:
Teman (bagian III)

bahasa indonesia · capruk cacat · fiksi

Teman (bagian I)

Tulisan ini 100% fiktif. Hanya terjadi di dalam kepala saya dan tidak mengacu pada kejadian nyata. Kesamaan nama orang, inisial, tempat, atau nama lainnya bukanlah hal yang disengaja dan tidak ada hubungannya dengan objek yang sebenarnya.

MM : Hei, kau lihat orang yang duduk di sana?

RR : Hm?

MM : Dia melihat ke arahmu terus.

RR : Oh ya?

MM : Iya. Jangan-jangan dia mata-mata.

RR : Hahaha.

MM : Mungkin kau mirip seorang buronan yang sedang dicari-cari?

RR : Atau mungkin, dia hanya terpesona pada ketampananku.

MM : Geez. Apa kau baru saja mencoba terdengar narsis? Too pathetic, really. Try again.

Tujuh belas menit kemudian

MM : Aku tahu! Kalau kuhampiri, mungkin dia akan mengakui siapa dia sebenarnya, meski terpaksa.

RR : Sudahlah, biarkan saja dia.

MM : Yakin, kau tak mengenalnya? Jangan-jangan sebenarnya dia temanmu.

RR :Nope. Aku yakin bukan.

MM : Mengapa kau yakin? Kau bahkan tak bisa melihat wajahnya dengan jelas.

RR : Intuisi.

MM : Hmpfh. Bilang saja kau tak punya teman.

RR : Sembarangan kau..

MM : Eh, benar ya?

RR : Apa?

MM : Kau tak punya teman.

RR : Aku punya.

MM : Omong kosong.

RR : Terserah.

MM : Kalau begitu sebutkan, berapa jumlah temanmu?

RR : Tak ada waktu untuk menghitung hal semacam itu.

MM : Ah. Tentu saja, Loner.

RR : Fine. Mungkin sekitar 4000.

MM : Tadi kau bilang tak ada waktu, lalu muncul 4 digit angka begitu saja? Seriously?

RR : Pernah dengar social network?

MM : Maksudmu buku wajah?

RR : Jenius.

MM : Ckckck, menyedihkan. Kau bahkan tak tahu apa yang kau sebut teman.

RR : Maksudmu?

MM : Teman itu apa?

RR : Teman ya teman.

MM : Yaitu?

RR : Seseorang yang menemanimu setiap saat.

MM : Hah! Dan kau punya 4000 orang yang menemanimu setiap saat?

RR : Lupakan angka itu. Oke, ralat, teman adalah seseorang yang menemanimu, saat suka dan duka. Bagaimana?

MM : Kau menggunakan kata ‘menemani’ yang berasal dari kata ‘teman’. Jelaskan, apa yang ia lakukan?

RR : Ya, bu guru..

MM : Aku serius.

RR : Aku bosan. Next topic please?

MM : No. Definisikan ‘teman’.

RR : Biarkan aku berpikir.

debe continuar

Segera apparate ke cerita selanjutnya:
Teman (bagian II)