bahasa indonesia · capruk cacat

Greng Jai

Bicara soal budaya, media seringkali membuat stereotype dua kubu: “Budaya Barat” dan “Budaya Timur”. Bagi saya tindakan ini termasuk rasis dan diskriminatif. Walapun begitu, hari ini setelah membaca artikel Bangkok Post untuk Festival Songkran tahun lalu, saya menyadari sesuatu yang mempersatukan kita para penjunjung budaya timur.

Ternyata kebanyakan budaya timur punya kesamaan cara jaim.

Saya pertama kali menyadari hal ini saat tinggal di Jepang. Ketika mengumpulkan data untuk thesis, saya berinteraksi dengan cukup banyak pekerja kantoran di Tokyo & Yokohama.

Di awal kunjungan, salah satu Oba-san petugas TU di kampus Setagaya, Tokyo, sempat menunjuk kerudung warna pink yang saya pakai dan berkomentar,

Kawai desu ne~” sambil tersenyum manis.

Saat bertemu teman di Sekolah Rakyat Indonesia Tokyo (SRIT) pada hari lebaran untuk solat ied, saya cerita tentang hal ini dan dia tertawa sambil bilang,

Aku ga akan percaya kalau orang Jepang bilang kawai2 gitu mi, mereka itu hobinya basa-basi..”

Eyy, jahat banget sih ga percaya aku dibilang kawaii

Hahaha.

Tapi ternyata betul.

Saya mengkonfirmasi kebiasaan basa-basi orang Jepang ini dengan teman-teman international students dari Nepal. Mereka bilang, orang Jepang sangat menjunjung budaya “Yasashi”, yang bisa diartikan “ramah” secara harfiah. Definisi ramah disini terlalu dangkal untuk makna sebenarnya. Menjadi yasashi berarti memuji seseorang walaupun sebetulnya di dalam hati tidak suka atau biasa saja. Budaya yasashi mengharuskan kamu terdengar menyenangkan bagi orang lain.

Dulu saya pikir, wah, persis budaya orang-orang yang tinggal di Pulau Jawa ya. Kita diajarkan kalau makan harus menawarkan orang lain makan juga, walaupun sekedar basa-basi. Kalau dikasih hadiah, respon yang dianggap sopan adalah menolak dua kali dan baru menerima kalau sudah ditawari ketiga kalinya. (Ini tips dari orang asing yang sudah pernah ke Pulau Jawa)

Ada lagi bentuk blangkon Jogja yang melambangkan mbendhol mburi, konon artinya di depan baik-baik namun di belakang bisa jadi sebaliknya.

Lalu hari ini, saya baru tahu kalau orang Thailand juga sama. Mereka bangga dengan budaya Greng Jai.

Reporter Bangkok Post bilang,

“Greng Jai turns you into a caring, thoughtful human being—it can also transform you into a directionless jellyfish.”

Contoh kejadian:

Si A diajak janjian ke suatu tempat yang sebetulnya dia tidak bisa datang, tapi si A merasa Greng Jai untuk menolak ajakan ini. Akhirnya A hanya bilang “mungkin” padahal dia sama sekali tidak datang, lalu baru minta maaf keesokan harinya.

Budaya orang Jepang, Sunda, Jawa, Thailand, pada dasarnya sama-sama baik, bermaksud menjadikan manusia memperlakukan satu sama lain dengan akhlak terpuji dan senantiasa menyenangkan orang lain.

Sayangnya perbuatan baik kita sering tidak didasari niat yang tulus dan akhirnya menjadi kebaikan yang palsu. Kebaikan palsu ini kadang-kadang bisa merugikan dan membahayakan orang.

Dalam kasus Greng Jai, ketika kamu melakukan kebaikan dengan tulus maka kamu bisa menjadi sebaik-baiknya manusia; namun jika kamu tidak tulus atau hanya menjadikan Greng Jai sebagai dalih ketidakdisiplinan diri, maka kamu berubah jadi ubur-ubur. Bam!

Jujur dan tidak bohong adalah dua hal yang berbeda. Jujur bukan hanya tidak mengatakan dusta, tapi juga mengatakan yang sebenarnya.

Saya menyimpulkan budaya timur cenderung menganggap remeh kejujuran, selama kedamaian dan sopan santun diutamakan.

Demikian, semoga saya tidak menyalahi nilai-nilai Greng Jai maupun Yasashi dengan menulis cerita ini.

Sampurasun!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s