beruang

Alkisah, jauh di pinggiran lembah Silikon, hiduplah keluarga beruang. Rumah keluarga beruang cukup mungil, di pinggir jalan yang sempit, yang bermuara di jalan yang kecil pula.

Keluarga beruang cukup bahagia, sebagaimana keluarga-keluarga lainnya yang tinggal di Perumahan Mini. Papa beruang pendiam dan suka bekerja, Mama beruang cerewet dan suka berkebun, Kakak beruang penyabar dan suka melukis, sedangkan Adik beruang pemarah dan suka memasak.

Keluarga beruang cukup bahagia, tapi rumah mungil mereka jauh dari rumah Kakek beruang, Nenek beruang, Oma beruang, dan Opa beruang. Rumah mereka sangat jauh, sehingga keluarga beruang harus mendaki gunung lewati lembah untuk mencapainya. Untuk ke rumah kakek-nenek, mereka harus mengarungi Sungai Cadas dan Sungai Superman, sedangkan rumah opa-oma jauh di seberang Sungai Kesetiaan.

Rumah mungil mereka dikelilingi oleh sawah yang seringkali kering. Air yang keluar dari keran di kamar mandi berwarna jernih, tapi berbau seperti logam yang berkarat.

Meskipun Papa beruang suka bekerja, membeli rumah di lembah Silikon bukanlah perkara mudah. Lembah ini sangat terkenal di dunia beruang internasional. Setiap sentimeter tanah yang bisa dibangun rumah, pasti sudah dimiliki beruang random entah siapa itu. Berusaha membeli rumah di tengah lembah, sulitnya sama seperti mencoba membangun kastil dari butiran debu. Sesuatu yang mungkin saja dilakukan, tapi perlu kesabaran, keahlian, keberuntungan, dan ketekunan yang tidak biasa.

Hingga suatu hari, Tante beruang memberi kabar gembira.. bukan untuk kita semua, tapi untuk keluarga beruang. Salah satu tetangga yang tinggal di kompleks rumah Tante beruang akan pindah. Rumahnya akan dijual.

Tiba-tiba semuanya jadi terang. Seperti menemukan potongan puzzle terakhir yang tersembunyi di balik karpet. Segalanya menjadi jelas. Mama beruang tak pernah bermimpi memiliki rumah di kompleks yang sama dengan Tante beruang. Ini pasti mukjizat. Keluarga beruang akan pindah. Dan rumah mungil di Perumahan Mini itu harus dijual.

Seandainya keluarga beruang punya mesin waktu yang bisa membawa mereka ke masa depan, tentu Papa dan Mama beruang akan mencari jalan keluar lain selain menjual rumah mungil mereka dan pindah begitu saja. Karena seandainya mesin waktu itu ada, mereka tahu, ini bukanlah kabar gembira. Ini semacam Kuda Troy, hadiah berisi pasukan musuh yang menusuk dari dalam. Tapi seperti yang kita semua tahu, mesin waktu hanyalah khayalan yang terlalu indah untuk jadi nyata.

Rumah Tante beruang berada di dalam Sarana Perumahan Beruang Unggul, atau biasa disingkat SPBU. SPBU itu sangat indah, dan terjamin keamanannya. Selalu ada beruang penjaga 7 hari seminggu dan 24 jam sehari. Jalan-jalannya mulus dan besar, di pinggir jalannya pun banyak pepohonan dan bunga-bunga indah. Udaranya bersih, dan yang terpenting, masih ada air tanah yang jernih dan tidak berbau seperti besi berkarat disana. Selain Tante beruang, ada banyak kerabat keluarga beruang yang tinggal di dekat sana, baik di dalam SPBU maupun di daerah sekitar SPBU. Tidak seperti kehidupan terpencil di Perumahan Mini di tepian lembah Silikon, keluarga Beruang hanya perlu berjalan kaki untuk mengunjungi kerabat-kerabat terdekat jika tinggal di SPBU, termasuk rumah kakek-nenek dan oma-opa beruang.

Berdasarkan semua iming-iming ini, Papa dan Mama beruang tidak berpikir dua kali untuk membeli rumah tetangga Tante beruang, meskipun rumah itu sungguh terlihat seperti rumah hantu. Perlu waktu lama dan biaya yang tidak sedikit untuk menyulap rumah itu menjadi rumah impiah keluarga beruang.

Tapi itu bukan masalah utama disini. Ada satu hal penting yang diketahui semua beruang ketika mendengar SPBU: Tidak sembarang beruang bisa memiliki rumah di SPBU. Rumah-rumah di SPBU hanya boleh dimiliki dan diperjualbelikan oleh beruang unggul.

Tidak ada satupun anggota keluarga beruang yang termasuk beruang unggul. Bukan karena tidak bisa. Menjadi beruang unggul itu adalah takdir, tapi juga pilihan. Beruang biasa harus memasuki akademi khusus yang menjadikan mereka beruang unggul. Ada batas umur dan kriteria fisik tertentu untuk bisa masuk akademi. Pendidikannya keras, dan bertahun-tahun. Tidak semua beruang sanggup menjadi beruang unggul.

Pada jaman dahulu, pekerjaan beruang-beruang unggul ini pergi berperang membela negara. Jaman sekarang, tidak banyak perang yang terjadi. Jadi, sekarang mereka sangat sibuk menyuapi, menakuti, dan menguasai beruang lainnya.

Tapi keputusan Papa dan Mama beruang sudah bulat. Mereka percaya, selalu ada jalan keluar dari semua permasalahan.

Memang betul. Masih ada beberapa beruang unggul lainnya di kalangan kerabat keluarga beruang. Salah satunya Paman beruang.

Mama dan Papa beruang akhirnya membeli rumah dengan nama Paman beruang.

Paman beruang tidak keberatan. Dia adalah beruang unggul yang baik hati, rajin menabung, tidak sombong, dan berprestasi. Dia adalah satu dari sedikit beruang unggul yang masih pergi berperang di jaman kedamaian ini. Dia bekerja luar biasa jauhnya dari Lembah Silikon, di Pulau Tembaga yang terpisahkan puluhan pulau dan laut di seberang sana.

Keteguhan dan kerja kerasnya membuahkan hasil yang manis. Ia pulang ke Lembah Silikon dengan memegang komando tertinggi di lembah itu. Ia tinggal di rumah terbesar dengan halaman terluas, bersama istrinya yang cantik seperti Artis beruang dan anaknya yang lucu.

Keluarga beruang ikut berbahagia dengan kepulangan Paman beruang ke lembah Silikon. Bagaimanapun, mereka berhutang budi pada sang Paman. Keluarga beruang berhasil memperbaiki rumah hantu itu menjadi rumah impian mereka pada beberapa tahun pertama sejak mereka menjual rumah mungil di Perumahan Mini. Namun, hal pertama yang disampaikan Paman beruang ketika bertemu dengan keluarga beruang sungguh mengejutkan.

Ia meminta keluarga beruang untuk pindah rumah.

Masih ingat dengan analogi sulitnya membeli rumah di lembah Silikon? Hari ini, ketika Paman beruang meminta keluarga beruang untuk pindah dari rumah mereka di SPBU, kurang lebih satu dekade sudah berlalu.

Hari ini, sulitnya membeli rumah dalam waktu singkat sama seperti mencoba membangun kastil dari butiran upil unicorn.

Lalu, bagaimana nasib keluarga beruang selanjutnya? Sanggupkah mereka mencari solusi dari permasalahan hidup yang kejam di tengah lembah Silikon?

Marilah sejenak kita berdoa supaya keluarga beruang bisa mencapai happy ending yang telah mereka nantikan.

Mengheningkan cipta dimulai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s