2 π radius

Mengapa takdir seringkali dianalogikan dengan roda?

Mungkin karena hidup, yang sepenuhnya diisi oleh takdir, adalah sebuah siklus yang terus berputar. Sejarah akan terulang. Seperti halnya modernism dan post-modernism, apa yang kita alami hanyalah setitik fase yang sudah pernah terjadi di masa lalu, dan mungkin akan terjadi lagi di masa depan.

Berapa lama? Entahlah, karena aku dan kamu bukanlah Tuhan. Kita hanya dipinjami sepasang mata dengan segala keterbatasannya, meskipun itu bukan alasan untuk pasrah dan tidak berusaha membaca.

Roda itu mungkin sangat besar. Ingat, besar adalah sebuah adjektif yang tidak terukur. Sesuatu disebut besar ketika ia dilihat oleh subyek yang kecil, dibandingkan dengan hal-hal lain yang lebih kecil dari dirinya. Kita berada di perimeter lingkaran. Sementara itu, radius lingkaran mungkin beberapa kali lipat dari panjangnya umur hidup seorang manusia.

2 π radius. Silahkan dihitung kalau mau. Itulah panjangnya waktu yang diperlukan untuk kembali ke titik awal, titik yang saat ini kita tempati.

Sekarang, seandainya roda yang kita bicarakan tidak sebesar itu..

Bagaimana jika perimeter tidak lebih panjang dari sebulan, atau dua bulan? Mungkin saja sehari, atau dua hari.

Bayangkan seseorang yang sedang berada di dasar roda, di titik terendah dari siapapun yang sama-sama berada di lingkaran itu. Di hidup itu. Di kehidupan yang sama. Ia merasa dirinya orang paling rendah sejagat raya. Menyerah pada apa yang dihadapinya. Merasa iri pada semua orang yang lebih tinggi darinya.

Sementara orang yang berada di puncak, di level paling tinggi dari roda itu, merasa berkuasa karena ia bisa memandang rendah siapapun yang sama-sama berada di lingkaran itu. Di hidup itu. Di kehidupan yang sama. Ia merasa dirinya hidup di atas angin. Entah dari mana ia mendapat ilusi aneh semacam itu. Padahal angin tetap berada di atas dirinya, bertiup di kedua sisi tubuhnya. Ia sama seperti yang lain, hidup di atas roda.

Apa kabar dengan orang-orang yang berada di antara mereka? Manusia-manusia baik yang berada di tengah-tengah roda, yang salah satu di antaranya adalah kita, begitu ya?

Hahahaha.

Maaf, izinkan saya tertawa sejenak.

Sungguh lucu ketika kita membaca beragam analogi tentang manusia, lalu sama sekali tidak merasa tersindir. Selalu merasa bersih dan benar. Yah, mungkin sempat tergores dan ternoda sedikit disana-sini. Enggan disebut pendosa, malu dibilang sok suci. Menempatkan diri pada klasifikasi ‘pertengahan’ yang dianggapnya standard saja. Membaca serangkaian kata-kata mutiara yang bersinar-sinar cemerlang, tersenyum atau mengangguk pura-pura setuju, lalu mengumumkannya pada orang lain.

Tapi di kehidupan nyata, ketika melihat orang yang benar-benar membantu orang lain dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan, pasti akan kauanggap dia bodoh. Apalagi jika orang yang dibantunya itu adalah orang tak dikenal yang baru ditemui saat itu.. Secepat kilat, kau akan mengecap si penolong sebagai orang lugu yang polos dan mudah ditipu. Bahkan, jika si penolong itu adalah seseorang yang dekat: pasangan atau keluarga, besar kemungkinan kau akan memarahinya atas perbuatan tolol itu.

Terlalu baik atau terlalu jujur itu beda tipis dengan bodoh.

Kedengarannya agak cerdas, tapi kata-kata di atas adalah propaganda. Sebuah persuasi agar kita dapat menyelubungi keegoisan dan ketidakpedulian, dengan selimut usaha melindungi diri dari turunnya tingkat intelegensi di mata manusia. Entah mana yang lebih buruk, selimut ataukah isinya. Persuasi dari siapa? Siapa lagi kalau bukan pihak yang menginginkan penurunan moral.. Tapi ‘siapa’ terkadang bukan pertanyaan terpenting.

Mari kita berandai-andai. Jika zaman sekarang, ada seorang tetangga selalu melempar kotoran hewan ke arah seseorang secara spesifik, setiap kali orang tersebut lewat di depan rumahnya. Namun setelah sekian kali terjadi, orang tersebut sama sekali tidak marah atau bertindak apapun. Tidak menghubungi polisi atau menggugat ke pengadilan. Sebaliknya malah mendoakan hal-hal baik. Ya, ini diambil dari sebuah kisah keteladanan yang sudah berulang kali diceritakan.. tapi seandainya terjadi saat ini dengan pelaku yang berbeda, dengan berpegang pada propaganda tadi, hanya ada dua kemungkinan.

Satu, orang tersebut memang bersalah pada si tetangga, dan kesalahannya jauh lebih besar dari melempar kotoran hewan. Jadi kalaupun mereka berhadapan di pengadilan, dia akan kalah. Kemungkinan kedua, orang itu bodoh. Atau lugu, polos, mudah ditindas, atau sebutan-sebutan konyol lainnya.

Oh, ada kemungkinan ketiga: orang itu adalah Nabi, atau malaikat. Katakanlah seseorang ini memang Nabi, sesuai cerita aslinya. Tapi Nabi adalah seorang manusia juga. Bahkan semua orang diperintahkan untuk mencontoh beliau, karena kita sama-sama manusia. Kita dibekali ‘peralatan’ yang sama. Bagaimana kalau malaikat? Malaikat bahkan pernah meminta Nabi untuk berdoa agar si tetangga diberi azab.

Kesimpulannya, karena Nabi sama-sama manusia seperti kita, kemungkinan ketiga ditiadakan. Lalu, karena Nabi tidak punya kesalahan apapun atas si tetangga, kesimpulan pertama juga dihapus. Jadi apakah kita mau menyimpulkan bahwa Nabi itu bodoh? Kalau Nabi Muhammad, orang paling berpengaruh di dunia sepanjang sejarah manusia, dibilang bodoh, saya pasti idiot. Selamat makan slogan “terlalu baik beda tipis dengan bodoh”, jangan lupa pakai bumbu ketidaksabaran.

Kembali ke roda tempat kita tinggal. Orang-orang yang berada pada level pertengahan, yang ada di antara si berkuasa yang ada di titik tertinggi dan si merana yang ada di titik terendah, adalah mereka yang bisa jadi lebih buruk dari kedua pihak tersebut. Oh, ralat ya, bukan mereka, tapi KITA.

Berada di tengah-tengah, orang-orang merasa iri pada yang levelnya lebih tinggi, menghina-hina sikap mereka yang sok berkuasa, dan tidak lupa membicarakan di belakang.  Orang-orang juga memandang rendah orang yang di bawah, merasa sombong, merasa tidak selevel, dan tidak lupa pula membicarakan di belakang jika ada sesuatu yang dianggap tidak ‘normal’.

Tidak ada seorangpun yang sadar bahwa semua orang hidup di atas roda. Roda ini selalu berputar.

source: gloriousmind

source: gloriousmind

Saya tidak bermimpi bisa menceramahi siapapun. Tulisan ini hanyalah teriakan ke dalam sebuah gua yang kosong.

Pada dasarnya, setiap orang memiliki sisi hipokrit dalam diri. Jadi jangan khawatir. Tak usah merasa tersinggung. Nilai-nilai baik yang dianut oleh masing-masing orang, saya yakin semuanya ideal dan sempurna. Tapi manusia tidak pernah sempurna. Mungkin ini yang dimaksud makhluk hipokrit. Setiap orang merasa benar, tapi tak ada seorangpun yang sesempurna kata-kata yang diucapkannya. Selamanya, seumur hidup, semua orang yang mau memperbaiki diri akan berlari menuju nilai-nilai ideal itu.

8 thoughts on “2 π radius

  1. miaooo! Aku suka gaya bahasanya deh.
    wah, terus aku kepo baca blog kamu. hihihi.
    Kalo esensi hidup, daripada roda, aku sendiri lebih memegang pendapat “hidup itu mirip sepeda”.. to keep your balance, you must keep moving.
    Ayo kita cerita-cerita lagiii, sama Mil juga. Hidup makin kompleks nih, harus saling menguatkan.😛

    • hihiii ijaa!
      isi blog aku mah sampah semua. >_<

      setujuu, aku juga suka sm pepatah "life is like riding a bicycle". kalo roda ini mah analoginya lebih ke takdir, ttg tatanan sosial gitu deh ceritanya. halah. hahaha..

      hayukk kita cerita2 lagi sambil konsultasi psikologi & wiskul2 random~😀

  2. Pilihan katanya beragam dan dalam, Mia. As expected dari seseorang yang gemar sekali membaca.

    Hmm, roda tetap roda, dibawa manusia berkuda dalam suatu delman merah jingga yang semua akan kembali kepada-Nya

    • aduh jd malu *tutup muka*
      sebenernya sih memang gaya nulis aku aja yang suka lebay kang.

      ini gambarnya totally ga nyambung pula. ada satu gambar lain yang tadinya mau aku masukin kesini, tapi dia diambil dari filosofi buddism. pernah denger “the wheel of life”?
      aku ga jadi masukin karena takut kecampur2 jd tema sensitif. jadi lah masukin gambar jokes ini biar ga tulisan2 mulu. :l

      hmm by the way yg dimaksud delman merah jingga itu.. qodo dan qodar menuju sunset ya? (mencoba mengartikan berhubung aku suka bgt analogi, ahahah)

      • hwehe gaya nulisnya ato orangnya lebay juga mi? :p
        Betul2, gambar bikin semangat baca juga koqq, belum pernah denger Mia wheel of life mah.

        Delman Merah Jingga sama sekali gak tau analogi ke situ xD, asal nyari ryhmes aja kemaren teh hehe, wah ada analogi spt itu ya??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s