Teman (bagian III)

Sebelum melahap tulisan ini, silakan baca cerita sebelumnya:
Teman (bagian I)
Teman (bagian II)

Tulisan ini 100% fiktif. Hanya terjadi di dalam kepala saya dan tidak mengacu pada kejadian nyata. Kesamaan nama orang, inisial, tempat, atau nama lainnya bukanlah hal yang disengaja dan tidak ada hubungannya dengan objek yang sebenarnya.

      MM: Dengar, meskipun aku ditakdirkan menjadi kanibal, aku tak akan memakanmu.
      RR: Benarkah?
      MM: Yep.
      RR: Sekarang, bayangkan kita berdua terjebak di pulau terpencil yang tandus tanpa makanan sama sekali. Kau masih yakin?
      MM: Umm.. Yah, itu mungkin pengecualian.
      RR: Heh.
      MM: Haha. Just kidding! Maksudku jika aku jadi kanibal, dimanapun itu terjadi. Aku takkan memakanmu.
      RR: Oh.
      MM: Kau tak ingin tau kenapa?
      RR: Tidak.
      MM: Hmph. Walaupun tak ingin tahu, harusnya kau jawab ya! Setidaknya untuk kesopanan, kau tanya “kenapa” apa susahnya? Kalau terus begini orang akan menganggapmu tak punya empati!
      RR: Oke. Ehem. Kenapa kau tak mau memakanku?
      MM: Huh, Terlambat. Sekarang jawabannya sudah expired. Aku tak mau membicarakan itu lagi.
      RR: Kalau kau tak mau menjawab, untuk apa kau memintaku bertanya? Aneh.
      MM: Terserah kau bilang apa, aku tak mau berdebat. Aku lelah, dan membicarakan makan-memakan membuatku lebih lapar. Aku pesan makanan dulu.
      RR: Tunggu. Kau mau pesan apa?
      MM: Apapun. Aku mau lihat-lihat konter thailand cuisine di sebelah sana.
      RR: Memangnya kau bisa makan makanan-makanan itu?
      MM: Kenapa tidak? Aku tak pilih-pilih soal makanan.
      RR: Pesan makanan thailand?
      MM: Yep. Batagor.
      RR: ?! Sejak kapan batagor jadi masakan thailand?
      MM: Mungkin orang thailand juga suka memakannya. Entahlah. Omong-omong, kau masih ingat wanita yg tadi kubilang mencurigakan?
      RR: Yang mana?
      MM: Wanita yang tadinya kukira temanmu, yang memakai mantel kulit & syal, yang duduk di sebelah sana.. Jangan melihat ke arahnya! Kalau mau melihatnya, kau harus sambil pura-pura melakukan sesuatu, misalnya sambil melamun atau mencari pelayan yang lewat..
      RR: Wanita yang berkacamata 80’s itu? Kelihatannya dia sedang membaca koran. Apanya yg aneh?
      MM: Aku yakin dia cuma pura-pura. Jelas sekali dia memperhatikan kita! Tadi saat aku berjalan ke arah konter thailand, dia mengikutiku. Padahal ada banyak konter makanan yang lebih terkenal di dekatnya, kenapa harus jauh-jauh ke konter thailand? Sangat mencurigakan.
      RR: Sebaiknya kau ngaca dulu sebelum bicara. Kegiatan yang kau bilang mencurigakan itu persis yang baru saja kau lakukan, ingat?
      MM: Dengar dulu, aku belum menceritakan bagian terpenting! Saat aku mau memesan, tiba-tiba saja dia mengajakku bicara. Dia bilang, “Kudengar tomyam menu terbaik disini. Kau harus mencobanya”
      RR: Kenapa tidak?
      MM: Apa kau gila? Mungkin saja dia bersekongkol dengan koki yang memasak tomyam & memasukkan racun ke dalamnya. Bisa saja kan?
      RR: Lalu bagaimana kau bisa yakin batagor tidak diracun?
      MM: Aku tak yakin, tapi aku bisa mendeteksinya. Batagor kan tidak berkuah. Air bisa mengacaukan inderaku.
      RR: Kau bisa mendeteksi racun? Whoa, kau canggih juga.
      MM: Biasa saja kok. Banyak orang yang bisa melakukannya. Hei, kenapa sekarang kau jadi banyak bertanya?
      RR: Well, mungkin karena kau sangat menyenangkan sebagai teman bicara?
      MM: HA-HA.
      MM: Yay! Akhirnya pesananku datang! Tunggu. Aku tak pesan minuman ini..
      MM: Kata pelayan itu minuman ini gratis karena aku pelanggan yang ke-1000 sejak konter itu dibuka.. Tapi terlalu kebetulan. Mencurigakan.
      RR: Apa lagi yg mencurigakan?
      MM: Hmm.. mungkin saja wanita itu yang membelinya..
      RR: Ck ck ck. Dari paranoid, sekarang kau jadi ge er. Sini buatku saja.
      MM: Eits, jangan! Nanti kau kena racun. Kuperiksa dulu. Tapi sebelumnya aku mau makan..
      RR: Kau benar-benar bisa makan itu?
      MM: Kau aneh sekali. Aku pesan batagor biasa ko. Bukan makanan aneh.
      RR: Cuma ingin memastikan.
      MM: Kau mau kepastian? Perhatikan, sekarang aku coba dulu satu sendok..

RR – Recipient : Ray
MM – Machine : Marion_v3.1
CONFIDENTIAL. Copyrighted by Tomodachi, Inc. All rights reserved.

      Ray membaca tulisan pada lembar demi lembar di tangannya sekali lagi, seolah memastikan tidak ada satupun titik maupun koma yang terlewat olehnya.
      “Rekaman percakapan ini bisa Anda miliki. Kami sudah memiliki salinannya dalam memori Marion_v3.1.”
      Suara itu milik wanita berkacamata ala 80’s yang kini duduk di depannya, di seberang meja di hadapannya. Suara bening yang tipis, nyaris seperti percikan air es, menarik Ray kembali ke dunia nyata setelah pikirannya berkelana beberapa saat lalu.
      “O.. Ohm, terima kasih”
      Tenggorokannya terasa kering. Beberapa menit yg lalu—tidak, mungkin hanya beberapa detik yg lalu—ia yakin dirinya tidak berada di ruangan ini, duduk di atas kursi keras ini. Meskipun bagian sebelah kiri otaknya samar-samar mencoba mengingatkan bahwa ia sama sekali tidak beranjak kemana-mana sejak tadi..
      “Kami sangat berterimakasih atas kesediaan Anda menjadi Recipient dalam rangkaian program uji release produk terbaru kami. Kami mohon maaf atas kekeliruan prediksi waktu yang kami informasikan, kami harap Anda dapat memakluminya.. Anda telah menjalani simulasi di ruangan ini satu jam melebihi durasi yg kami perkirakan. Oleh karena itu Marion_v3.1 beralih ke moda auto non-aktif. Produk ini,”
      Lengan berbalut mantel kulit itu bergerak ke arah sosok lain yang terduduk kaku di sampingnya.
        “..belum dilengkapi dengan energy-converter, sehingga tidak dapat mengisi energi melalui makanan manusia. Namun untuk keadaan darurat Marion_v3.1 ini telah dikembangkan agar dapat mengambil energi dari air atau makanan yang mengandung banyak air. Secara normal butuh waktu 700 menit untuk mengisi energinya hingga penuh sekaligus menginstall ulang memori dan karakter yang di sesuaikan dengan recipient.. Ah. Mohon maaf. Saya menjelaskan hal-hal yang pastinya sudah Anda ketahui..”
        Wanita itu mencondongkan tubuh hingga ujung lipatan syal yg melingkari lehernya nyaris menyentuh meja, seraya menyodorkan sehelai kartu.
        “Jika Anda berminat untuk memiliki produk ini, kami menyediakan potongan harga khusus selama akhir tahun. Ada banyak alternatif dan varian yang kami produksi, namun sejauh ini Marion_v3.1 adalah friend robot yang paling mutakhir..”
      Suara bening wanita itu terdengar semakin jauh, seperti siaran radio di tengah badai pasir. Ray mencoba fokus, namun wajah sosok kaku di samping wanita itu terasa begitu mengganggunya. Tanpa sadar matanya mencari sisa-sisa ekspresi familiar di wajah yang kini terasa begitu asing ketika membeku sedemikian rupa..
      Benarkah dirinya sudah berada disini selama berjam-jam? Corak wallpaper di hadapannya masih sama. Konter masakan Thailand masih berada di pojok sana. Sepiring batagor yang terabaikan masih tergeletak di atas meja.. Lalu tiba-tiba saja ruangan kafetaria ini terasa luas. Begitu lengang dan dingin.
        Kosong.
          Hanya sayup-sayup suara bening dan barisan huruf-huruf yang begitu mencolok, digrafir pada selembar kartu mungil:

TOMODACHI, Inc. 

‘Because We Are Social Creatures

a La Fin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s