Teman (bagian II)

Sebelum melahap tulisan ini, silakan baca cerita sebelumnya:
Teman (bagian I)

Tulisan ini 100% fiktif. Hanya terjadi di dalam kepala saya dan tidak mengacu pada kejadian nyata. Kesamaan nama orang, inisial, tempat, atau nama lainnya bukanlah hal yang disengaja dan tidak ada hubungannya dengan objek yang sebenarnya.

RR: Kita ganti topik, yuk? Bosan ‘kan?

MM: …

MM: Oke! Kita ganti topik. Sekarang, kau jawab: teman bisa dimakan tidak?

RR: What?

MM: You heard me.

RR: Kamu serius nanya itu? Itu sama sekali bukan..

MM: Aku serius. Aku pernah dengar orang ‘makan teman’. Maksudnya apa?

RR: Baiklah, tapi sebelumnya aku ingin memastikan sesuatu. Aku tak tahu kau biasanya makan apa, tapi selapar apapun kondisimu, please, jangan makan manusia. Mengerti?

MM: Iyaa. Aku bertanya bukan karena lapar!

RR: Kita manusia seharusnya tidak memakan teman. Meskipun sebenarnya bisa. Sangat bisa.

MM: Kau punya teori bahwa manusia kanibal?

RR: Secara alami tidak. Tapi banyak yang melakukan hal-hal yang lebih mengerikan. Mereka memakan teman dengan cara memakan kepercayaan, harapan, ketulusan, ikatan persaudaraan..

MM: Bagaimana mereka memakan hal-hal itu?

RR: Banyak cara. Ketika manusia berteman, bersahabat, atau lebih dekat lagi hingga seolah-olah mereka bersaudara; mereka memang semakin kuat karena saling mengisi, melengkapi, mendukung..
Namun secara individu mereka tidak setangguh itu. Sahabat terbaik seseorang adalah musuh terbesar bagi dirinya. Karena begitu mencintai sahabatnya, seseorang dapat menjadi begitu rapuh.
Tidak ada lagi rahasia. Yang ada hanyalah ketulusan dan kepercayaan.
Bisa kaubayangkan, setitik pengkhianatan akan menghancurkan seorang teman. Melakukannya jauh lebih mengerikan daripada memakan barbeque daging temanmu sendiri..

MM: Jangan melihatku seperti itu. Aku sudah tidak terlalu lapar lagi.

RR: Kau tahu, tidak mudah menjadi teman yang baik. Orang bilang persahabatan sejati itu hanya bisa didapatkan karena anugerah dari Tuhan. Sangat masuk akal, karena tidak mudah mendapatkan hal itu.

MM: Apa kau pernah dimakan?

RR: Maksudmu?

MM: Apa temanmu pernah memakanmu, atau mungkin sebaliknya: kau pernah memakan temanmu?

RR: …

MM: Kau tak perlu menjawab kalau tak mau..

RR: Aku pernah.

MM: Memakan atau dimakan?

RR: Mungkin keduanya. Entahlah. Selalu lebih mudah untuk mengaku pernah disakiti daripada mengaku pernah menyakiti. Pengalaman menyakiti orang biasanya mudah terlupakan, terutama jika kau tak peduli pada orang yang kau sakiti. Sebaliknya, pengalaman disakiti orang lain mungkin akan kauingat seumur hidup..
Banyak orang menyiakan usia dengan menyimpan dendam dan menuntut balas. Bahkan seolah usia dirinya tak cukup, dendam itu lalu diwariskan pada anak cucunya.

MM: Apa kau ingat semuanya? Semua pengalamanmu?

RR: Tidak. Aku sangat pelupa. Bahkan aku lupa kau sedang lapar saat ini.

MM: Aargh. Itu artinya kau ingat semuanya, ya kan? Apa memori pertama dalam hidupmu?

RR: Kau duluan yang cerita.

MM: Ah.. tidak bisa, kau jawab sekarang. Karena aku yang tanya duluan. Aturannya aku yang tanya, kau jawab. Tak perlu gilir-giliran.

RR: Whoa. Siap, Gan.

MM: Siapa Gan?

RR: Juragan..

MM: Jadi, bagaimana keadaan waktu kau dilahirkan?

RR: Bukan peristiwa heboh. Tidak ada pesta besar-besaran. Orangtuaku, keluargaku, semua orang biasa. Satu hal yang aku tahu, saat itu akulah satu-satunya manusia yang menangis, sementara semua orang di sekitarku tersenyum.

MM: Kau benar-benar mengingatnya?

RR: Tidak. Sudah kubilang aku pelupa, kan? Ayahku sering menceritakan kejadian itu. Ia pula yang memintaku berjanji agar saat aku pergi dari dunia ini, keadaannya harus berbeda 180 derajat dari kedatanganku. Saat aku pergi, aku harus menjadi satu-satunya orang yang tersenyum sementara semua orang di sekitarku menangis.

MM: Dan kau benar-benar berjanji padanya?

RR: Yah, saat aku kecil, kupikir itu mudah saja. Aku cukup menyiapkan gas sensasi irisan bawang atau gas air mata sesaat sebelum aku mati. Selesai. Problem solved.
Tapi, semakin dewasa, aku sadar permintaan ayahku itu tak masuk akal. Disamping fakta bahwa aku tak tahu kapan dan dalam kondisi apa aku akan mati..

MM: Yeah, aku mengerti sekarang. Dia memintamu menjadi seorang teman yang baik.

RR: Salah. Dia memintaku menjadi teman yang baik bagi semua orang. Itu konyol. Manusia di dunia ini punya beragam kepentingan dan kepercayaan. Lalu aku berusaha menjadi teman bagi mereka semua? Kalau bukan penjilat, aku akan menjadi hipokrit.

MM: Kupikir ayahmu hanya ingin kau menjadi teman yang baik..

RR: ..yang tak mungkin terwujud. Apalagi sekarang ini, setiap orang terlalu mudah curiga pada orang lain. Bukan hal yang salah, mengingat semakin banyak kasus kriminal dalam berbagai modus penipuan super kreatif. Semua orang diajarkan agar tidak mudah mempercayai orang lain. Trust no one, that’s the second rule in running man game..

MM: Tapi kau bisa menjadi teman yang baik bagi semua orang dengan cara melakukan yang terbaik dalam hidupmu! Ketika kau menjadi ahli dalam sesuatu, kau dapat membantu orang-orang di sekitarmu.

RR: Itu berbeda..

MM: Apanya yang berbeda? Coba pikirkan lagi! Kau terlalu pesimis. Padahal aku tahu kau bisa melakukannya.

RR: Jangan sok tahu, kau tak mengenalku sebaik itu.

MM: Tentu saja aku mengenalmu. Aku sangat mengenalmu dengan baik.

RR: Oh ya?

MM: Ingat, aku temanmu. Kau harus percaya padaku!

RR: Selama kau bukan kanibal, aku percaya.

debe continuar

Segera teleport ke cerita selanjutnya:
Teman (bagian III)

2 thoughts on “Teman (bagian II)

    • Well my situation has nothing to do with this story. I just inspired from some iphone application.. about friend-robot and such.
      Thanks for reading, anyway. Don’t forget read the ending part of this story, okay?😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s