Evaluasi Ramadhan 1428H/ April 2008

Tulisan di bawah ini berdasarkan buku catatan mata pelajaran akhlak, yang pernah diajukan sebagai salah satu tugas portofolio akhlak kelas XII di SMA Terpadu Baiturrahman.

Note: Jangan terheran2 dengan bahasa yang digunakan, mungkin agak ‘ajaib’, karena hanya diketik ulang tanpa pengeditan. Original by Mia (yang masih bocah labil kelas XII SMA).

Ada sebuah penglaman singkat pada bulan Ramadhan ini yang membuat saya ingin berkaca, bermuhasabah. Ceritanya saya dan ibu saya dalam sebuah perjalanan ke suatu tempat, tapi kami berdua sama-sama tidak hafal jalan mana yang harus kami lalui untuk sampai ke tujuan. Saya belum pernah pergi ke sana, sedangkan ibu saya hanya pernah satu kali, dan benar-benar lupa jalannya.

Ketika mobil kami membelok ke jalan buntu, tak sengaja ada seorang bapak tukang pos yang baru saja selesai mengantarkan surat. Benar-benar orang yang tepat untuk ditanyai rute jalan, pikir saya saat itu. Setalah kami bertanya ke tukang es krim, tukang ojek, bahkan orang-orang di depan warung; hasilnya tetap menemui jalan buntu.

Kami pun segera menghampiri bapak itu, bertanya tentang alamat yang kami cari. Awalnya, caranya menjelaskan sama dengan orang-orang yang telah kamk tanyai sebelumnnya. Namun, melihat ekspresi kami berdua yang mungkin masih terlihat agak bingung, ia terus menjelaskan secara detail tentang jalan yang harus kami lewati itu, bahkan ia merobek kertas dari buku kotak-kotak yang ada dalam tasnya, untuk membuat peta sederhana.

Saya sedikit merasa kikuk dengan usaha sang Bapak yang kelihatannya benar-benar serius ingin membuat kami mengerti rute jalan itu. Maka bayangkanlah betapa kagetnya saya, ketika akhirnya sang Bapak tukang pos memutuskan untuk “mengantar” kami hingga sampai ke alamat yang kami tuju. Jadi, ia mengendarai motornya di depan, lalu saya dan ibu saya mengikutinya dari belakang.

Sepanjang perjalanan, saya terus bertanya-tanya dalam hati, apa yang membuat si tukang pos ini begitu “niat” menolong saya dan ibu saya, dua orang yang sama sekali tidak dikenalnya? Seandainya saya yang menjadi tukang pos itu, akankah saya melakukan hal yang sama?

Tidakkah saya akan berpikiran seperti ini: Dua orang ini bukan siapa-siapa saya, mereka nyasar atau tidak itu tidak akan ada pengaruhnya bagi saya, jadi apa untungnya saya menolong mereka, sampai rela menghabiskan bensin motor untuk mengantarkan mereka?

Tiba-tiba, saya merasa begitu egois. Saya mengira-ngira,jika seandainya tukang pos itu tidak bertemu kami,apa yang seharusnya ia lakukan saat ini?

Mungkin masih banyak surat yang harus ia antarkan, atau mungkin juga koran-koran sore! Uh, mungkinkah karena mengantarkan kami, ia akan pulang terlambat hari ini?

Tapi, bukankah hak seorang muslim untuk diberi nasihat (jawaban) jika ia meminta nasihat (menanyakan sesuatu)? Lagipula, tidak sempurna iman seseorang, jika ia belum mencintai saudaranya (sesama muslim) seperti ia mencintai diri sendiri.

Apa yang dilakukan si tukang pos itu memang sudah seharusnya, tapi saya merasa begitu takjub, sebab selama ini saya amat-sangat jarang menemukan orang semacam itu, bahkan dalam diri saya sendiripun tidak!

“Itu yang disebut bekerja dengan hati.” Sepotong kata2 ibu saya masih terus saya ingat hingga saat ini.

Bekerja dengan hati, kedengarannya sangat menyenangkan. Jangan jadi orang materialistis, apalagi egois – hanya memikirkan kepentingan pribadi yang berdasar pada hitungan-hitungan picik. Perhitungan materi yang membuat manusia begitu tamak.

Dengan hati, hilangkanlah prasangka buruk yang seringkali muncul karena penilaian sesaat yang hanya melihat kulit luar seseorang. Hati-lah yang pantas menjadi raja diri. Hati yang bersih dari kotoran-kotoran seperti iri, dengki, suuzhon, kikir, dan penyakit lainnya. Hati, bukan otak – yang hanya mengkalkulasikan hal-hal fisik semu yang menipu – yang seharusnya memegang kendali.

Selama bulan ramadhan, sedikit demi sedikit saya mengikis kebiasaan buruk saya, selain itu saya pun menyadari, jika kita mau membuka pikiran kita untuk ayat-ayatNya, ternyata mereka bertebaran di muka bumi. Semakin ditafakkuri, akan semakin “takjub” diri kita setelah memahaminya.

Sebenarnya, Allah telah mengatur semuanya sedemikian rupa dengan sangat apik. Begitu hebatnya, sehingga jika sedikit saja diubah maka pasti akan ikut mengubah hal yang lainnya, yang mungkin mempengaruhi hal yang jauh lebih besar.

Dulu, saya selalu malas untuk melakukan hal-hal remeh seperti berkunjung ke rumah tetangga, membantu orang tua di rumah, hingga mengurus adik bungsu saya. Rasanya semua itu adalah beban kewajiban yang saya lakukan ogah-ogahan, asal saja, asal selesai jadi tidak dimarahi.

Namun, tahun ini saya berpikir, berapa umur saya sekarang? Apa yang telah saya hasilkan hingga saat ini, karya apa yang telah saya buat? Jika saya harus dipanggil saat ini, apakah Allah masih memasukkan saya ke dalam golongan anak-anak? Akankah Ia “memaklumi” kebodohan yang selama ini saya perbuat?

Lalu seandainya, waktu saya di dunia masih panjang, masih ada masa depan yang menanti saya di sana… seperti apa? Seperti apa sosok saya di masa depan nanti, saat saya benar-benar menjadi “orang”? Keterampilan apa yang saya punya, keahlian apa yang bisa saya gunakan?

Saat ini, rasanya saya belum bisa apa-apa untuk disebut “orang sungguhan”. Saya seperti disadarkan, semua keterampilan hidup tidak akan saya dapatkan begitu saja saat saya dewasa nanti. Semua butuh proses!

Saya mulai dari hal terkecil. Membantu orang tua mengurusi rumah, kadang-kadang mengurusi adik, sedikit belajar memasak, menyiram tanaman, dan sebagainya.

Saya juga belajar menentukan target dan sedikit demi sedikit me-manage hal-hal prioritas yang harus saya lakukan: tugas-tugas sekolah, munaqosah, tahfidz, tadarus, dsb. Memang, seringkali saya kurang disiplin dan istiqomah dalam mengerjakannya. Sebab, perkiraan saya seringkali meleset sehingga jadwal yang saya buat bentrok dengan “kegiatan dadakan” seperti silaturrahim dengan teman lama, saudara, dll.

Tapi bukan berarti saya menyerah untuk terus mencoba menjadi lebih baik, … sebab saya ingin bekerja dengan hati! Insya Allah.

🙂

4 thoughts on “Evaluasi Ramadhan 1428H/ April 2008

  1. Jangan terheran2 dengan bahasa yang digunakan, mungkin agak ‘ajaib’, karena hanya diketik ulang tanpa pengeditan. Original by Mia (yang masih bocah labil kelas XII SMA)

    ini mah bukan tulisan bocah labil..:mrgreen:

    btw, terima kasih sudah membantu menyukseskan acara seminar wireless kemaren..😀

    • iya sih,, tulisannya emang ga memperlihatkan bocah labil,,
      tapi ini tulisan bocah yang tidak ingin terlihat labil. hahaha :-p

      iya sama2 k, maaf ya aku ga bisa bantu banyak.
      jarang2 pula bisa maen ke sekre..
      padahal niatnya ke arc biar bisa diajarin ini itu (banyak deh.haha)

  2. terharu banget bacanya,,,hiks hiks….
    c bapak tukang pos baiiiikkk bangettt!!!
    jarang ada orng kyk gitu skarang

    • iya teh,, emang bener. makanya saking terharu sama si bapak jadi keinget2 terus,, jadi inspirasi waktu disuruh bikin portofolio muhasabah yg “harus secara narasi” dari bu zona..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s