Lanjutan Evaluasi Ramadhan 1428H/ April 2008

Setelah ngetik evaluasi tahun lalu yang dari buku akhlak itu, begitu ngebalik-balik halaman setelahnya,… eh, ternyata ada lagi evaluasi lanjutan. Yang ini pake kolom muhasabah harian pula. Tapi narasi evaluasinya versi lebih curhat,, karena waktu itu mencakup saat-saat sebelum,sedang,dan sesudah UN! Pokoknya bener-bener kerasa banget hawa perpisahannya. Hiks hiks..😥

Note: Jangan terheran2 dengan bahasa yang digunakan, mungkin agak ‘ajaib’, karena hanya diketik ulang tanpa pengeditan. Original by Mia (yang masih bocah labil kelas XII SMA).

lembar muhasabah

Subhanallah… waktu seolah-olah seedang berlari sprint ketika saya melihat lembar muhasabah yang telah terisi penuh ini. Saat-saat penuh ketegangan menjelang UN, perasaan campur aduk antara ingin segera melewati “3 hari keramat” itu sekaligus rasa belum siap menghadapinya sehingga berharap waktu merayap selambat mungkin, semuanya terasa seperti baru kemarin.

Jika diingat lagi, itulah masa-masa ketika setiap malam kami harus tidur ditemani buku-buku yang bertumpuk dan berserakan di atas kasur, minum kopi bersama dalam rangka bergadang untuk ngerjain soal, belajar di kelas mulai pagi (jam 7) sampai malam (jam 10) nyaris non-stop kecuali sholat-makan-mandi. Akibatnya, kami harus mencuci baju larut malam atau pagi-pagi buta, sampai-sampai gerakan kami berada dalam siklus tetap: asrama-masjid-dapur- kelas-asrama-masjid-dapur-kelas-dst … dan mayoritas waktu kami habiskan di kelas (bahkan lebih banyak daripada waktu di asrama!)

Meskipun perjuangan ini berat dan membosankan, tapi diam-diam saya mencoba menikmatinya. Hingga akhirnya, ketika semua itu berakhir seiring datangnya UN, saya merasa baru bangun dari mimpi dalam tidur panjang. Saya baru bangun, kembali ke kehidupan normal sebelumnya – tanpa jadwal pemantapan yang padat atau kecemasan saat mengira-ngira seperti apa soal UN 2008. Anehnya, saya malah rindu pada masa-masa perjuangan itu. Saya ingin sekali lagi berjuang bersama teman-teman sekelas saya – yang rasanya lebih dekat dari saudara sendiri – bahu-membahu, saling mendukung mencapai tujuan yang kami impikan.

Apakah ini hanya akibat perasaan saya yang tak menentu dan masih belum siap saja menghadapi kenyataan bahwa saat perpisahan telah di depan mata? Ya, saya merasa belum siap untuk lengser dari jabatan santri baiturrahman. Saya masih ingin berkumpul dengan semuanya: guru-guru, teman-teman … rasanya saya akan tetap membutuhkan mereka semua sampai kapanpun.

Tapi, inilah kehidupan nyata. Semakin dewasa kita akan menghadapi tantangan/ujian yang semakin berat. UN baru saja terlewati, tapi di depan sana masih ada ujian-ujian lainnya yang lebih dahsyat lagi. Misalnya SPMB. Lebih berat lagi, ujian mempertahankan aqidah dan mengusung risalah.

Menjelang kelulusan, saya lebih sering memperhatikan guru-guru pesantren. Pak Jajang, yang meskipun ceramahnya selalu panjang tapi setiap kali mentoring mampu membuat mustami’ sadar dan beristighfar, jika ditelusuri juga banyak orang yang terhantar ke dalam dien ini berkat beliau. Begitu juga Pa Anwar, Pak Yamin (yang ceramahnya seru dan penuh semangat), serta guru-guru lainnya.

Saya berpikir, suatu hari nanti, apa saya akan mampu seperti mereka? Seperti apa sumbangan saya untuk dien ini? Saat ini saya mungkin belum punya kemampuan yg memadai untuk “terjun di medan laga”. Saya masih perlu meningkatkan kualitas diri, dalam rangka mencapai cita-cita. Dan hal pertama yg harus saya lalui adalah: lulus SMA.

Rasanya puluhan kali guru2 menceritakan kisah seorang siswa juara olimpiade yang diterima di Universitas di Jerman namun ironisnya ia terpaksa tetap tinggal karena tidak lulus UN. Aneh tapi nyata,hal ini benar-benar pernah terjadi. Memmbuktikan bahwa “nothing is impossibble”, bahwa 2 pilihan : “lulus atau tidak” itu berlaku untuk seluruh siswa peserta UN, termasuk juara olimpiade sekalipun.

Sebenarnya hal ini bukan sesuatu yang terlalu aneh. Semestinya kita semua sadar, sehebat apapun manusia, tetap saja Allah yang mensutradarai takdir hidup kita semua. Terkadang manusia terlalu sombong, dan menganggap bahwa kekuatan pribadinya, kecerdasan otaknya, keteguhan tekadnya, kesungguhan usahanya, dsb itulah yang menyebabkan kesuksesan. Padahal semua itu takkan ada artinya ketika Allah akhirnya menghendaki “tidak”… hancurlah semua kebanggaannya itu.

Atas dasar semua pemikiran ini, saya punya semangat baru untuk meningkatkan ibadah ritual. Saya bertekad untuk sebisa mungkin mendekat kepada Allah. Sesaat saya merasa malu sekaligus menyesal, mengapa baru saat ini saya “pdkt” sama Allah?

Saya beristighfar, selama ini saya begitu mempercayai usaha sendiri, otak sendiri. Saya terlalu sombong untuk mencoba “pdkt” sama Allah, padahal Dia tak pernah berhenti memberikan karuniaNya!

Awalnya, berat sekali untuk bangun lebih awal untuk shalat lail. Meskipun jam weker telah berbunyi jam 3, tapi yang bangun malah teman saya! Ternyata, bangun awal tidak bisa hanya mengandalkan jam weker.yang utama adalah niat sungguh-sungguh. Terbukti, ketika akhirnya saya terbiasa qiyamullail, saya bangun sebelum alarm jam weker berbunyi.

Sebuah nasihat yang terus saya ingat: Jangan berdoa seperti orang dalam kapal. Ketika badai datang, ia berdoa habis-habisan. Tapi ketika langit cerah, laut tenang, dan kapal berlabuh di daratan, ia lupa pada Tuhannya.

Akhirnya, saya benar-benar bersyukur dengan adanya UN. Ketika saya merasa lemah, butuh pertolonganNya sekaligus malu karena saya seolah-olah orang buta yang baru bisa melihat dunia. Saya baru sadar satu kenyataan penting bahwa: saya tak punya apa-apa. Saya hanya bisa belajar seoptimal mungkin untuk meminta belas kasih-Nya. Dan hanya keajaiban dari Allah-lah yang bisa menyelamatkan saya.

Padahal ketika dijalani, ternyata qiyamullail setiap hari itu nikmat. Hidup terasa lebih teratur, dan tidak ada lagi perasaan terpaksa untuk bangun awal, karena berubah menjadi perasaan butuh. Oleh karena itulah saya ingin tetap mempertahankan kebiasaan ini sampai kapanpun, meski UN berakhir, Insya Allah.

One thought on “Lanjutan Evaluasi Ramadhan 1428H/ April 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s